Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 230. Tuan meminta Anda untuk pindah.


Laura membuka matanya yang terasa berat. Pipinya terasa sedikit kram akibat tidur telungkup entah sejak berapa lama. Dia mencoba untuk mengangkat tubuhnya. Tapi di saat itulah dia merasakan seluruh tubuhnya begitu nyeri.


Laura menarik selimut yang hanya menutupi setengah tubuhnya tadi. Berusaha menutupi tubuh bagian depannya yang polos tanpa sehelai kain pun. Laura menarik tubuhnya hingga dia terduduk di pojok tempat tidur yang luas itu. Matanya nanar melihat ranjang yang berantakan karena pergumulan paksa yang dibuat oleh Antony.


Pria itu sudah tak ada di sana lagi. Tapi apa yang dia lakukan pada Laura tadi malam masih begitu membekas. Laura masih bisa merasakan nyeri di bibirnya. Akibat dari ciuman paksa yang dilakukan oleh Antony. Laura tentu menolaknya dan sebagai akibatnya Antony menggigit bibirnya hingga berdarah.


"Aku tak akan pernah melepaskan mu! Laura! Mengemislah jika kau mau aku melepaskan mu!"


Kata-kata itu masih terngiang dipikiran Laura saat dia mencoba melepaskan dirinya dari Antony tadi malam. Matanya yang tajam penuh emosi yang mendalam, benar-benar membuat Luara langsung terbungkam.


Antony meninggalkan bekas-bekas di seluruh kulit putih Laura. Pria itu benar-benar tak membiarkan sejengkal pun dari tubuh Laura terlewat oleh perlakuannya.


Dengan tertatih Laura segera keluar dari ranjang dan mengambil gaun yang sudah tergeletak di lantai, satu hal yang bisa dia pelajari, jangan sampai tidak menggunakan baju seperti semalam. Berjalan menuju ke kamar mandi dan segera menghidupkan shower-nya. Laura sedikit menggigil karena air yang keluar dari keran itu, padahal dia sudah membuatnya cukup hangat.


Laura bahkan bisa melihat bercak darah yang mengering di bagian pahanya yang putih karena pemaksaan dari Antony. Ternyata, walaupun sudah tidak lagi perawan. Dia masih juga bisa begini. Laura bahkan merasakan seluruh tubuhnya ingin putus sekarang.


Cukup lama Laura membiarkan air itu mengenai wajahnya. Kilasan peristiwa semalam muncul lagi dalam pikirannya.


Dia tidak tahu bagaimana. Semalam Antony benar-benar beringas. Dia belum pernah melihatnya seperti itu. Sejujurnya dia belum pernah melihat pria mana pun seperti itu. Antony berubah menjadi pria tanpa perasaan sama sekali. Seluruh yang dia lakukan adalah paksaan. Seolah dia ingin benar-benar memberikan hukuman bagi Laura.


Berbeda sekali dengan Antony yang dulu. Pertama kali mereka melakukannya. Semua terasa begitu lembut dan perlahan. Antony memperlakukannya dengan hati-hati. Bahkan sedikit saja Laura menunjukkan wajah tak nyaman Antony bisa mengetahuinya.


Laura menyisir rambutnya yang basah ke arah belakang. Membiarkan air mengalir dari sela-selanya dan jatuh membasahi wajah dan tubuhnya. Dia lalu ingat kata-kata Antony bahwa dia yang menggodanya malam itu.


Sungguh, sebenarnya Laura sama sekali tidak pernah mencoba untuk menggoda pria itu. Malam itu dia benar-benar hanya ingin mengucapkan salam perpisahan. Ya, walaupun ada sedikit rasa penasaran dan juga tak rela karena harus kehilangan orang yang bisa melakukan apa pun untuknya. Tapi Laura memang hanya punya niat seperti itu.


Dan entah apa yang terjadi. Setelah berbincang dan mengobrol, perasaan itu tiba-tiba saja muncul. Mungkin karena merasa tersaingi ketika Antony menceritakan sosok sempurna Adelia. Dia tidak senang karena Antony saat itu lebih memuji wanita itu. Laura jadi ingin menggodanya kembali, tapi sepertinya paduan antara otaknya yang memang tak berguna dengan alkohol malah bertindak lebih parah.


Lalu tiba-tiba saja semuanya terjadi begitu saja. Mereka berakhir di ranjang. Mengadu peluh dan hasrat. Untung saja saat itu Antony sempat menggunakan pengaman yang memang selalu Luara bawa. Berjaga-jaga siapa tahu membutuhkannya, dan ternyata memang dia membutuhkan pengaman itu.


Laura tak menyangka kepergiannya malam itu akan mengubah begitu banyak hal. Dia hanya tidak bisa melakukan pernikahan itu. Tentu saja karena perasaannya dengan Antony hanya sebatas wanita yang senang karena ada pria yang memperhatikannya. Tak lebih dari itu.


Tapi pria itu terus memaksa untuk bertanggung jawab, padahal Laura mengatakannya dari awal dia tidak perlu melakukannya. Sejujurnya, dia cukup puas mendapatkan malam pertama yang penuh dengan kelembutan dan pengertian yang dibuat oleh Antony. Hanya itu saja, tak ingin lebih dari itu apalagi terikat oleh pernikahan.


Tiba-tiba saja pintu kamar mandi itu diketuk dari luar sehingga membuyarkan semua pemikran yang berkutat di kepala Laura.


“Siapa?” tanya Laura segera mematikan air dan mengambil handuknya.


“Ya, sebentar lagi!” Laura segera membersihkan dirnya dari air yang tersisa. Kali ini langsung menggunakan gaunnya. Bagian intimnya masih sakit. Tapi dia berusaha untuk tidak menghiraukanya dan segera bersiap.


Dia langsung keluar dari sana. Wajahnya sedikit kaget melihat Max yang sudah berdiri di depannya. Pria ini benar-benar menyeramkan. Mengingatkannya dengan Robert De Niro dalam film The Irishman yang bermain sebagai mafia.


"Ada apa?" tanya Laura sedikit gugup.


"Tuan meminta Anda untuk dipindahkan dari kamar ini." Max hanya menatap dingin.


"Pindah? Pindah ke mana?" tanya Laura bingung. Apakah dia sudah boleh bebas? Tapi sepertinya tidak mungkin. Dia teringat kata-kata Antony kemarin.


"Ikut saja." Max segera berjalan. Dia sedikit kesal dengan tingkah Max ini. Dia benar-benar tidak suka berbicara atau memang tak suka dengannya.


Laura melihat ke sekeliling kamar itu. Berantakan sekali bahkan lebih dari kapal pecah. Semua adalah ulahnya. Banyak barang bergeletakan dan kaca-kaca berhamburan. Untunglah dia memakai sendal kamarnya. Tak terlalu memikirkan tentang serpihan yang mungkin mengenai kakinya.


"Ini Nona," ujar seorang pelayan wanita menyerahkan sebuah selimut berwarna coklat yang masih terlipat rapi. Laura mengerutkan dahinya. Kenapa dia diberikan selimut?


Laura hanya menurut mengikuti Max yang terus berjalan masuk. Laura baru yakin dengan apa yang dikatakan Antony. Sepertinya mereka memang ada di bawah tanah.


Laura sedikit panik melihat lorong kosong yang hanya diberi cahaya seadanya. Semakin mereka ke dalam semakin mengerikan tempatnya. Laura melihat sekelilingnya. Dia bagaikan menuju penjara.


"Ini tidak salah jalan?" Laura panik sekarang.


"Tidak!" Max hanya menanggapinya seperti itu. Suara Max yang besar pun menggema di ruangan kosong itu.


Tiba-tiba Max berhenti di sebuah ruangan dengan pintu besi. Laura berjalan dan membesarkan matanya melihat dalam ruangan itu. Itu benar-benar seperti penjara. Apakah Antony memang ingin dia tinggal di sana.


"Ini pastinya keliru, Antony tidak mungkin menyuruhku ke dalam sini bukan?" Tanya Laura panik.


"Ini tempat baru Anda. Tuan Antony marah karena Anda merusak semua barang di kamarnya." Max akhirnya menjelaskan.


...****************...


lagi-lagi mentahan dlnya kak.