Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 243. Tak suka namanya disebut.


Stevan meminta softcopy dari file yang diberikan anak buahnya tadi dan memasukkannya dalam sebuah proyektor yang ada di dalam ruangannya yang cukup luas dan mewah. Dia melakukan itu agar semua yang ada di dalam ruangannya bisa melihat profil lengkap dari ibu Graciella.


"Elisabeth Sui, menikah pertama kali dengan Samuel Luo …." Baca Stevan kembali dari apa yang ada di depannya.


"Samuel Luo adalah ayahku. Dia meninggal saat umurku 5 tahun, sebulan kemudian ibuku meninggalkanku di panti asuhan," saut Graciella yang perlahan membaca profil ibunya..


Sebuah foto menunjukkan wajah ibunya saat usianya mungkin masih sepantar Graciella. Sekarang semua tahu dari mana wajah cantik Graciella dapatkan. Bahkan ibunya tak kalah cantiknya dari dia sekarang. Graciella melihat semua foto-foto ibunya tapi merasa tak nyaman karenanya. Di sana dia tampak menikmati hidupnya. Dia benar-benar tak memikirkan Graciella sama sekali.


"Berhenti!" ujar Xavier yang menemukan hal janggal saat Stevan mulai mengganti halamannya.


"Ada apa?" Tanya Stevan kaget karena hal itu.


"Kembali ke slide yang tadi."


Stevan patuh dan mengengbalikan slide ke sebelumnya. Slide itu hanya berisi foto-foto kehidupan ibu Graciella.


"Ada apa?" Tanya Stevan lagi penasaran. Apa ada hal yang dia lewatkan?


Xavier langsung berdiri dan segera berjalan ke arah slide itu. Dia memperhatikan slide itu dengan sangat seksama sampai membuat yang lain tampak bingung.


"Kalian kenal seseorang bernama Joseph Han?" Tanya Xavier berbalik menatap ke arah Stevan dan yang lain.


Graciella mendengar itu langsung membesarkan matanya. Dia melihat ke arah suaminya yang tertimpa cahaya dari proyektor dengan sangat kaget.


"Kenapa?" Tanya Greciella, otaknya saat ini tak bisa diandalkan sama sekali saat ini.


"Joseph Han adalah ayah Adrean Han, bukan begitu?" Tanya Daren. Dia kenal silsilah keluarga Adrean karena sebelumnya dia menyelidiki Adrean untuk kasus pembunuhan Robert Kim.


"Lalu? Apa hubungannya dengan ini semua?" Kata Stevan bingung. Tak ada nama Joseph Han yang tertulis di sana.


"Aku pernah melihat bagaimana wajah Joseph Han saat berkumpul di rumah Robert Kim dalam satu foto yang terpajang di sana. Joseph Han menikahi putri semata wayangnya Robert Kim hingga melahirkan Adrean Han."


"Jadi?" Semua orang semakin penasaran terutama Greciella.


"Pria ini adalah dia," ujar Xavier menunjukkan sebuah foto di mana ibunya dirangkul mesra oleh seorang pria. Pria yang menurut Xavier adalah Joseph Han.


"Jadi, menurutmu, ibu Greciella punya hubungan dengan ayahnya Adrean?" Tanya Stevan kaget.


Hal itu juga langsung terlintas dipikiran Greciella. Tadi dia tidak memperhatikan sekali foto itu karena rasanya sedikit tak nyaman melihat ibumu sendiri dengan pria lain. Lagi pula dia tidak mengenal pria itu.


"Ibu Adrean bukannya meninggal karena bunuh diri? Ibunya menembakkan pistol Browning semi otomatis ke kepalanya. Pistol itu milik ayah Adrean. Itu saat Adrean berumur delapan tahun," saut Daren kembali.


"Senjata yang sama dengan yang dipakai oleh pembunuh untuk menghabisi ibumu!" Stevan membesarkan matanya. Tiba-tiba pikirannya terbuka.


"Dia juga memposisikan ibumu seolah dia bunuh diri bukan?. Apakah mungkin?" Daren kembali menyahut sambil melepas pandang ke arah Graciella lalu ke Stevan. Saat ini mereka punya pemikiran yang sama.


"Siap! Keluarkan surat penangkapan untuk Adrean Han! Lakukan secepatnya!" Perintah Stevan pada ajudannya.


"Siap Komandan!" Para ajudan yang ada di sana langsung bergerak cepat.


Graciella menggigit bibirnya. Jika benar apa yang dikatakan oleh Daren. Semua terasa masuk akal. Jika ibunya memang yang menyebabkan ibu Adrean sampai meninggal karena bunuh diri. Maka, pantas saja dia ingin menyiksa Greciella selama ini. Ternyata ada dendam yang begitu membara di dalamnya.


Saat seperti itu tiba-tiba saja ponsel Xavier bergetar. Dia langsung melihat ke arah pesan yang dikirim ke dirinya. Greciella menatap suaminya itu.


"Moira sudah mendarat," ujar Xavier melihat istrinya. "Kita harus menjemputnya."


"Ya, kalian harus menjemputnya. Aku akan memberikan sedikit penjagaan untuk kalian. Lebih baik tidak keluar dari markas militer untuk sementara waktu." Nasehat Stevan. Kalau berurusan dengan Adrean Han, seperti akan sangat berbahaya.


"Baiklah." Xavier segera berjalan ke arah istrinya. Membantu istrinya itu untuk berdiri dan siaga ada di belakangnya. Graciella masih terlihat enggan untuk pergi dari sini. Tapi putri kecilnya pun pasti menunggunya.


"Jangan takut, kami akan berikan laporan apa saja yang terjadi nantinya," ucap Stevan lagi


"Baiklah," kata Graciella. "Kakak, boleh aku meminta file tentang kematian ibu Adrean?" Ujar Graciella.


"Ya, nanti aku akan mengirimkannya padamu. Hati-hati lah menjemput Moira," ujar Daren.


Greciella mengangguk dan dengan senyuman dia melangkah pergi keluar dari kantor polisi pusat negara ini.


Xavier membukakan pintu belakang dari mobilnya dan membiarkan istrinya masuk duluan, setelah siap, supir segera melaju menuju tempat mereka akan menjemput Moira. Penjagaan dua lapis terlihat. Menjaga mereka hingga titik penjemputan. Tak ingin mengganggap remeh apalagi kalau benar dalang semua ini adalah Adrean. Xavier benar-benar harus bekerja lebih keras sekarang.


Dalam perjalanan itu, Graciella akhirnya mendapatkan E-mail dari Daren. Dia segera membuka file itu dan rasa kecurigaan itu sepertinya benar.


Xavier melihat istrinya yang begitu fokus melihat ponselnya. Dia hanya takut Graciella akan mual karena terlalu fokus dengan ponselnya. Apalagi saat ini mereka harus melaju dengan cepat.


"Jangan terlalu fokus. Kita masih di dalam mobil," ujar Xavier lembut. Nada yang hanya khusus untuk Graciella.


"Bukan, aku masih terus berpikir tentang Adrean," ujar Greciella yang tidak menyaring kata-katanya.


"Adrean?" Suara berat itu terdengar sedikit dingin.


Graciella langsung menatap suaminya yang berwajah berkerut tapi terlihat sekali wajah tak senangnya. Xavier tentu tak suka dia mengatakan hal itu.


"Bukan begitu. Eh? maksudku kasus tentang ibu Adrean. Ada hal yang mengganjal," ujar Greciella buru-buru membenarkan. "Aku tidak berpikir sama sekali tentang Adrean." Dia tak ingin suaminya yang pencemburu ini marah karena Adrean adalah hal yang sangat sensitif bagi Xavier.


Xavier masih berwajah tak senang, tapi dia tak ingin membuat Graciella berpikir dia marah padanya. Tak ingin menambah beban pikiran istrinya. Apa pun yang terjadi pada sang ibu, akan berdampak pada anaknya. Itu yang selalu dia ingat.


"Memangnya ada apa?" Tanya Xavier mencoba berdamai. Sepertinya dia harus mengatakan pada Stevan dan Daren untuk tidak melibatkan Graciella lebih dalam. Dia benar-benar tak suka Graciella membicarakan Adrean. Bahkan dia tidak suka nama itu tersebut dari bibir Graciella.


"Hanya ada dua kemungkinan," jelas Greciella yang otaknya akhirnya terasa berjalan. "Ibu Adrean memang bunuh diri. Atau dia dibunuh oleh seseorang. Entah kenapa aku merasa. Adrean melakukan itu pada ibuku seperti dia mereka ulang adegan kematian Ibunya. Aku rasa, dia juga tidak terima dari kesimpulan polisi tentang kematian ibunya adalah bunuh diri. Karena menurut file ini, keadaan ibuku dan ibunya sama persis. Aku rasa ada kemungkinan besar pula, ibuku membunuh ibu Adrean."