
Graciella yang dari tadi menatap lurus ke depan. Menerka kapan mereka akan sampai ke daratan utama segera melihat ke arah Xavier ketika dia merasakan tangannya ditarik oleh pria itu. Graciella hanya mengerutkan wajahnya melihat senyuman sendu dari Xavier.
Xavier melepaskan genggaman tangan mereka. Memindahkannya ke pipi Graciella yang terasa hangat atau memang karena tangannya terasa dingin sekarang.
Saat tangan Xavier menyentuh pipinya. Hal itu seketika saja menginduksi air mata Graciella untuk langsung keluar. Dia bisa merasakan kehangatan yang meleleh langsung dari sudut matanya yang melewati pipinya. Dia tidak suka dengan perasaan sedih yang tiba-tiba muncul begitu saja.
Xavier menghapus air mata itu sambil menggeleng sebagai tanda agar Graciella jangan menangis. Mereka tidak bisa saling berbicara, karena suara baling-baling helikopter itu terlalu keras. Xavier pun tidak memakai headphone-nya sekarang. Graciella menarik napasnya. Dia segera menghapus air matanya yang terus saja keluar walaupun dia tidak ingin agar Xavier senang. Dia tentu tak ingin suaminya melihat dirinya menangis sekarang. Graciella hanya menekan kedua bibirnya agar air matanya tak lagi keluar dan kembali meletakkan pipinya ke telapak tangan Xavier.
Xavier melihat hal itu hanya menaikkan satu sudut bibirnya. Dia tadinya ingin menenangkan istrinya agar tidak cemas dan khawatir. Dia takut stress akan membuat kandungan Graciella akan bermasalah dan nantinya membuat wanita ini juga merasakan sakitnya. Tapi ternyata apa yang dia buat malah membuat Graciella menangis. Graciella mencium telapak tangan Xavier dan mencoba tersenyum walaupun itu kembali membuat air matanya mengalir. Xavier akan baik-baik saja.
Perjalanan mereka tidak terlalu lama. Helikopter itu langsung mendarat di salah satu rumah sakit yang memiliki helipad terdekat. Begitu mendarat, Arnold dan Sebastian yang ikut dengan mereka segera menurunkan tandu Xavier dan membawa Xavier langsung ke IGD. Graciella mengikuti dari belakang dengan perlahan. Bagaimana pun dia mulai merasakan ketegangan lagi di bagian perutnya. Dia harus memilih, Xavier atau kandungannya. Xavier pasti marah jika terjadi apa-apa pada kandungannya, jadi Greciella lebih memilih kandungan sekarang. Lagipula ada dua orang yang sudah menjaga Xavier.
Saat Graciella sampai di sana. Dia segera meminta perawat untuk memberikannya kursi roda. Dia lalu melihat Arnold dan Sebastian yang menunggu di luar ruangan IGD.
“Ada apa?” tanya Graciella. Mencoba menenangkan dirinya agar rasa tegang di perutnya berkurang. Dia harus mengatur pernapasannya.
“Mereka akan segera melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru dari tubuh Jenderal Xavier Nyonya. Maaf, jika aku yang menandatangani surat persetujuan itu,” lapor Arnold. Merasa harus melakukannya dengan cepat sedangkan Graciella belum tampak batang hidungnya tadi.
“Tidak apa-apa, itu memang harus dilakukan.”
Baru saja Graciella mengatakan hal itu. Pintu IGD itu langsung terbuka. Beberapa orang perawat dan dokter segera mendorong tubuh Xavier yang sudah dipasangi infus dan beberapa keperluannya. Mereka harus segera membawa Xavier ke ruang operasi.
“Arnold, ikuti saja Jenderal Xavier. Aku akan membantu Nyonya. Kami akan menyusul segera,” kata Sebastian. Tentu saja dia yang memimpin di sini. Setelah Xavier, pangkat Sebastian lah yang lebih tinggi dari pada Arnold.
“Siap.” Arnold langsung mengikuti rombongan para dokter itu. Graciella hanya melihat ke arah mereka hingga akhirnya mereka menghilang.
“Nyonya, saya akan membawa Anda ke sana,” ujar Sebastian seolah meminta izin untuk membawa Graciella ke sana. Bagaimana pun dia merasa sedikit sungkan dengan Graciella.
“Terima kasih,” jawab Graciella.
“Sama-sama Nyonya.” Sebastian langsung mendorong kursi roda Graciella.
Sepanjang perjalanan menuju ke ruang operasi itu. Graciella mencoba untuk menenangkan pikirannya. Dia tahu keadaan Xavier akan baik-baik saja karena dia langsung ditangani. Tapi walaupun dia seorang dokter dan juga tahu tentang hal itu. Rasa cemasnya tetap saja tidak bisa dia tekan.
Ruang bedah itu ada di lantai dua dari rumah sakit ini. Mereka langsung berhenti ketika melihat Arnold yang lagi-lagi hanya berdiri cemas di depan sebuah pintu.
“Lapor, Jenderal sedang ditangani.” Arnold langsung memberikan laporan ketika melihat Sebastian dan Graciella.
“Baiklah. Kita tinggal menunggu saja.” Sebastian memposisikan Graciella agar bisa mendapatkan tempat yang nyaman untuk menunggu Xavier yang sedang dioperasi.
Mereka menunggu dengan hening. Semuanya tampak cemas dan cukup tegang. Hal itu juga membuat Graciella kesusahan mengontrol dirinya. Untung saja karena dia terus duduk dan tidak memaksakan diri untuk berdiri. Perlahan ketegangan itu sudah jauh berkurang.
Sekitar satu jam empat puluh menit. Pintu ganda berkaca buram di depan mereka akhirnya terbuka. Ranjang Xavier didorong segera oleh para perawat. Dokter yang menggunakan pakaian set bedanya akhirnya tampak.
“Saya istrinya,” ujar Graciella langsung.
“Apakah Anda juga terluka?” tanya Dokter itu melihat Graciella ada di kursi roda.
“Saya sedang mengandung dan dokter kandungan saya mengatakan bahwa saya tidak boleh banyak bergerak karena hampir mengalami keguguran. Karena itu saya harus ada di kursi roda ini.” Graciella segera menjelaskan. Dokter itu mendengarnya hanya mengangguk mengerti,
“Kalau begitu. Anda bisa sekalian menemani suami Anda untuk di rawat bersama. Itu akan lebih baik,” Dokter itu segera tertawa setelah mengatakannya. Graciella merasa itu ide yang cukup bagus walaupun dia tahu dokter ini awalnya juga hanya bercanda.
Graciella melihat ke arah Xavier yang masih tertidur. Dia pasti langsung dibius total untuk mengambil pelurunya tadi. Akhirnya, Graciella memutuskan untuk juga dirawat dalam satu ruangan dengan Xavier. Selain dia bisa beristirahat seperti kata dokternya. Dia juga bisa sekalian menjaga Xavier.
Graciella baru saja berada di awang-awang ketika Xavier mulai bergerak. Xavier sebenarnya sudah sadar saat di ruangan observasi setelah operasi. Tapi karena efek obat bius itu masih ada dan mungkin kelelahan. Dia kembali tertidur.
Saat dia sudah terbangun kembali. Dia mencoba dengan sangat membuka matanya yang tentunya masih juga berat. Dia melihat kabur ke arah sekitarnya yang remang. Hanya satu yang dia ingin lihat saat ini, Graciella.
“Xavier?”
Suara itu membuat Xavier langsung mengalihkan pandangannya mencari sumber suara. Dia lalu mengerjapkan beberapa kali matanya agar bisa lebih jelas melihat. Ketika dia memalingkan wajahnya ke arah kanan. Dia bisa melihat Graciella yang sudah setengah mengangkat tubuhnya di ranjang perawatan yang diletakkan di sebelahnya.
Xavier mengerutkan dahinya dan wajahnya langsung tampak cemas. “Apa yang terjadi padamu?” tanya Xavier sambil menjulurkan tangan kanannya. Mencoba untuk menggapai Graciella yang memang jaraknya tak terlalu jauh. Hanya terpisah nakas kecil.
Xavier mengira Graciella kembali mengalami serangan mengingat apa yang terjadi padanya semalaman ini. Padahal dia sama sekali tidak boleh mengalami stress dan harus istirahat total. Dia juga berpikir mungkin itu alasannya Graciella sekarang dirawat bersamanya.
“Aku tidak apa-apa.” Graciella menangkap tangan suaminya yang terus mencoba menggapai Graciella. Padahal jarum infus menancap di punggung tangannya. Graciella menjadi ngilu sendiri melihatnya.
“Lalu?” tanya Xavier menatap istrinya. Matanya masih sayu. Terlihat dipaksa untuk terus terbuka.
“Dokter bedahmu menyarankan aku untuk dirawat bersamamu. Bukannya aku harus istirahat. Jadi aku rasa aku bisa beristirahat dan juga sekalian menjagamu dalam waktu yang bersamaan.” Graciella menggenggam lembut tangan Xavier. Tangan mereka menggantung di antara ranjang rumah sakit.
Xavier mendengar itu segera menunjukkan wajah leganya. Tapi lagi-lagi dia merasa berat di matanya. Efek obat bius ini benar-benar luar biasa baginya.
“Apakah masih mengantuk?” tanya Graciella yang mengerti.
Xavier hanya mengangguk. “Kita istirahat bersama, ya?” ajak Xavier. Sudah tidak tahan untuk menutup kembali matanya.
“Ya.” Graciella segera terlentang, tapi tangannya malah digenggam oleh Xavier dengan erat.
“Jangan khawatir. Adrean tidak akan pernah lagi mengganggu kita. Aku sudah menuntaskannya.” Xavier meremas tangan Graciella sedikit kuat.
Graciella yang tadi sudah menatap langit-langit kembali melihat ke arah Xavier. Tampaknya pria itu meracau sebelum benar-benar terlelap. Tapi mendengar apa yang dikatakan oleh Xavier. Graciella hanya berharap, semua itu benar adanya.