
“Kenapa kau masih saja menanyai tentang pria brengsek itu?” tanya Laura yang hilang nafsu makannya mendengar nama Adrean.
“Bukan begitu, aku hanya ingin tahu kabarnya? Aku harus tahu dia di mana sekarang agar tidak menemuinya nanti,” alasan Graciella.
“Benar! Jangan berpikiran negatif dulu Nona perawan tua! Nona Graciella hanya bersifat hati-hati. Pria serigala berbulu domba itu biasa saja. Dia tinggal sendiri di bagian utara,” ujar Stevan lagi.
“Bukannya dia juga sudah menikah?” ujar Graciella.
“Hanya 40 hari, dan dia bercerai setelahnya, pria seperti dia tidak akan cocok dengan rumah tangga. Hanya kau yang tahan bersama dengannya sampai tiga tahun. Wanita lain mana mungkin tahan!” ujar Laura menggerutu.
Graciella kembali tersenyum tipis lebih ke arah miris. Dia tidak ingin mengingat sedikit pun lembar kehidupannya selama tiga tahun dengan Adrean. Terlalu menyakitkan dan bodoh untuk di kenang.
Graciella mengambil minumannya yang dingin. Bersamaan dengan dingin yang melewati kerongkongannya menuju lambungnya, dia mencoba merasakan perasaannya. Aneh, bukannya dia sudah tahu tentang Adrean. Tapi perasaan kosong dan mencari seseorang itu tetap muncul. Dia memandang ke arah kursi kosong yang disediakan untuk Daren. Tiba-tiba saja muncul gambaran siluet yang Graciella tahu milik siapa, hal itu membuatnya hampir tersedak. Ada apa dengannya? Bagaimana bisa otaknya memunculkan siluet Xavier di sana.
“Nona Graciella, kau harus berhati-hati,” ujar Stevan langsung memberikan tisu pada Graciella yang tampak tersedak.
“Terima kasih,” ujar Graciella mengambilnya dan menghapus jejak basah di sekitar mulutnya.
“Halo semua! Maafkan kami, keadaan sangat macet di luar sana.” Daren masuk dengan menggendong anak berusia enam bulan yang tampak begitu gendut dan wajahnya begitu mirip dirinya.
“Ah! Lucu sekali! Akhirnya bibi bisa bertemu denganmu secara langsung, si pipi bakpao!” ujar Graciella dengan mata yang cemerlang dan langsung berdiri mendekati Daren yang juga tampak bahagia melihat kedatangan Graciella. Di belakangnya seorang wanita berparas khas orang barat datang. “Ruby!” ujar Graciella lagi.
“Graciella! Oh! Aku sangat merindukanmu!” ujar Ruby langsung memeluk Graciella.
Ruby dan Daren bertemu karena Graciella. Ruby adalah salah satu teman kuliah Graciella hanya saja beda jurusan, dia mengambil jurusan pastries. Saat Daren datang untuk menemui Graciella di Amerika, Graciella mengenalkan mereka berdua. Graciella mengatakan pada Daren bahwa Ruby menyukainya, atas saran dari Graciella akhirnya keduanya dekat dan tak menyangka mereka hingga bisa menikah. Sepertinya Graciella punya sedikit bakat menjadi mak comblang.
“Lihatlah, Amber begitu lucu. Melihatnya aku jadi ingin cepat-cepat punya anak,” ujar Graciella sambil memeluk erat Amber, dia juga mencium Amber dengan sangat kuat hingga pipinya memerah. Herannya Amber hanya pasrah seperti ini. “Dia sangat lucu! Jika aku punya anak perempuan, apa dia akan secantik Amber?” ujar Graciella lagi melihat ke arah Ruby dengan senyuman yang cerah merekah.
Stevan dan Laura yang mendengar itu hanya melempar pandang lalu keduanya sama-sama merunduk. Daren hanya memainkan rahangnya. Tiba-tiba saja semuanya hening.
“Jika menikah denganku! Nona Graciella akan ku beri anak perempuan secantik itu!” goda Stevan lagi mencoba untuk menghancurkan suasana yang kaku.
“Jangan! Aku yakin keturunanmu akan jelek jika ayahnya seperti ini!” kata Laura lagi menimpali.
“Ya ampun, empat tahun kalian masih saja seperti kucing dan tikus. Ruby, Graciella, ayo makan! Aku sudah lapar!” ujar Daren lagi segera duduk tanpa diminta.
“Makanlah kakak dan kakak ipar. Aku sudah kenyang, Stevan membuatku makan banyak daging. Kalian makanlah, aku akan bermain dengan Amber. Punya anak seumur ini pasti sangat repot jika tidak ada pengasuh,” ujar Graciella menggoyang-goyangkan Amber dalam gendongannya. Amber sekali lagi hanya pasrah diperlakukan apa saja oleh Graciella.
“Benar, aku dan kakak iparmu sampai tidak punya waktu bersama,” keluh Daren lagi. Ruby menyiku suaminya dengan senyuman malu-malunya.
“Sial! Melihat kalian begini aku jadi benar-benar ingin menikah! Nona Graciella menikahlah denganku! Aku mohon padamu!” ujar Stevan lagi yang disambut gelengan kepala oleh Graciella. Tetap saja selalu tak berubah. Jenderal polisi bagai mana bisa begini
“Jika ingin menikahinya, minta dulu izin padaku,” kata Daren melirik Stevan, berpura-pura serius.
“Benarkah? Kakak ipar, izinkan aku menikah dengan adikmu!” ujar Stevan berdiri dan menuangkan minuman ke gelas Daren seolah dia benar-benar ingin melamar Graciella di depan Daren.
“Akan ku pertimbangkan!” ujar Daren lagi seolah tak acuh. Melihat hal itu membuat Laura dan Graciella tertawa.
“Kenapa dipertimbangkan, aku sudah jenderal loh!” ujar Stevan lagi bangga.
“Oh, dendam masa lalu ternyata. Jika tahu kau akan jadi kakak angkat Graciella! Aku pasti akan menjilat di depanmu!” ujar Stevan lagi.
“Lagipula Stevan apakah tidak berlebihan membawa seluruh pasukanmu menjaga restoran ini? Orang jadi bertanya ada apa di restoran ini jika penjagamu saja lebih dari sepuluh orang!” ujar Daren.
“Itulah bukti aku sangat menjaga adikmu! Aku tidak ingin dia kenapa-kenapa? Benarkan Nona Graciella?” ujar Stevan lagi mencari pembelaan.
“Aku sudah dewasa dan kak Daren benar, ini terlalu berlebihan,” ujar Graciella.
“Ah! Hatiku patah!” ujar Stevan dengan gayanya. Tak dapat pembelaan dari Graciella.
“Sudah cukup opera sabun ini! Graciella, kau tinggal di mana? Tinggal bersamaku lagi saja bagaimana?” tawar Laura.
“Kak Daren mengatakan bahwa dia sudah menyediakan sebuah rumah untukku. Dekat dengan kantor tempatku bekerja. Esok aku sudah ingin segera bekerja,” jawab Graciella sambil terus menggendong Amber yang mulai terasa berat. Dia kembali duduk dan memposisikan Amber dipangkuannya.
“Bukan aku yang memintanya cepat untuk bekerja. Aku sudah menyuruhnya beristirahat dulu dua atau tiga hari tapi dia memaksa untuk masuk bekerja,” bela Daren yang tak mau dikatakan kejam.
“Wah Nona Graciella! Kau benar-benar wanita idamanku!” ujar Stevan.
“Stevan hentikanlah! Kau benar-benar sudah membuatku mual! Gracie! Kapan-kapan aku menginap di rumahmu ya! Di rumahku tidak menyenangkan. Ayahku membuatku pusing,” ujar Laura lagi.
“Itu karena kau sudah tua dan belum juga menikah. Makanya jika diminta menikah, menikah saja jangan banyak memilih!” ujar Stevan.
“Bagaimana aku ingin menikah, pria-pria di sekelilingku tidak ada yang benar semua!” ujar Laura kesal ditegur oleh Stevan.
“Eits! Jangan menyamaratakan seperti itu! Aku adalah suami yang baik!” ujar Daren lagi.
“Aku juga akan jadi suami yang baik. Aku rasa Antony juga, tapi sayang kau tidak menyukai pria baik seperti dia!” sindir Stevan lagi.
“Sekali lagi kau mengucapkan namanya! Ku gantung kau! Walau kau Jenderal aku tidak takut!” ujar Laura penuh emosi. Tidak di rumah, tidak di sini, hanya nama Antony yang dia dengar.
“Hei, hei, ayo kita cepat selesaikan semua ini. Aku rasa Graciella pasti juga sudah sangat lelah, 12 jam di pesawat pasti juga terasa,” ujar Ruby menegur.
“Benar sekali! Nona Graciella, aku antar ya, sudah malam!” ujar Stevan.
“Tidak perlu, aku akan pulang dengan kakak saja, aku juga tidak tahu dimana tempat rumahnya. Kalau mau antar saja Laura,” ujar Graciella.
“Baiklah, demi mu aku akan melakukannya!” ujar Stevan lagi.
“Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri!” ujar Laura, “Pulang dengannya bisa membuat tekanan darahku akan naik!”
“Ya terserah! Aku sudah baik loh!” ujar Stevan lagi.
“Baik karena ada Graciella!” ujar Laura lagi.
“Ya! Kalian harus hentikan semua ini! Kalian seperti anak SD yang berebut mainan!” ujar Daren. Stevan dan Laura hanya melempar tatapan sinis. Graciella hanya tertawa melihat tingkah mereka yang akhirnya tetap saja seperti tikus dan kucing hingga mereka semua pulang. Ternya banyak hal yang tidak juga berubah.