Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 165


“Di sini saja, sebentar lagi,” ujar Graciella menahan Xavier yang hendak beranjak. Kenapa sekarang malah Graciella tak rela untuk berjauhan dengan pria ini. “Aku tidak ingin itu, tapi bisakah kau hanya di sini dan memelukku. Aku rasa aku ingin kau ada di sini,” ujar Graciella setelah itu menggigit bibirnya. Entahlah, apakah Xavier akan salah sangka padanya. Menganggapnya wanita plin- plan. Tadi menolak sekarang malah ingin Xavier bersamanya.


Xavier hanya menaikan sudut bibirnya. Dia langsung memposisikan tubuhnya berbaring di dekat Graciella. Dia merentangkan tangan kirinya agar menjadi bantalan kepala Graciella. Graciella yang mengerti langsung menggeser tubuhnya di dekat Xavier.


“Begini?” tanya Xavier melirik gadis mungil yang ada di dalam pelukannya sekarang.


“Ya.” Graciella langsung mengangguk pelan. Rasa nyaman dan aman itu berbalut kehangatan dan harum dari tubuh Xavier. Rasanya seluruh keresahan dan beban pikiran Graciella hilang untuk sesaat.


Graciella memegang lengan bawah Xavier yang kekar. Terlihat sekali dia melatihnya, Graciella juga melirik ke arah pria yang napasnya terdengar teratur. Apakah dia sudah tertidur? Mata Xavier memang tertutup.


“Xavier?” panggil Graciella untuk memastikan. Kenapa malah Xavier yang tertidur. Sepertinya dia pun merasakan kenyamanan bisa ada di sisi Graciella sekarang.


“Hmm?” jawab Xavier dengan gumaman.


“Bawahanmu mengatakan bahwa kau merencanakan semua ini hingga mempertaruhkan semuanya, bahkan jabatanmu, apa itu benar?” tanya Graciella. Seketika saja ingat dengan apa yang dikatakan oleh supir tadi.


“Untuk melakukan sesuatu yang besar, kita juga harus berani mempertaruhkan sesuatu yang besar pula. Untuk mendapatkan mereka, aku harus benar-benar menyakinkan mereka. Jangan khawatir, aku akan membuat mereka mendapatkan semua ganjarannya.” ujar Xavier.


“Aku mengerti. Tuan Robert, mungkin kau bisa dengan mudah ingin membalas dendam padanya. Tapi, bagaimana dengan ayahmu? Bagaimana caranya kau memberikan ganjaran padanya?” tanya Graciella lagi. Bagaimana pun, David Qing adalah ayah kandung dari Xavier. Ikatan mereka adalah ikatan darah. Bagaimana dia melakukan pembalasan pada David Qing?


Xavier mendengar itu membuka matanya lalu mengeluarkan napas beratnya. Graciella yang mendengar itu melirik pria yang sekarang memeluknya lebih erat.


“Aku hanya akan menuntut keadilan apa yang terjadi padaku, padamu, dan anak kita, itu saja,” ujar Xavier dengan mata yang tampak menerawang jauh. “Jangan khawatir, aku tahu apa yang harus aku lakukan,” sambung Xavier melihat tatapan khawatir dari Graciella.


“Baiklah,” ujar Graciella lagi dengan memipihkan bibirnya.


“Malam ini aku harus pergi lagi menemui seseorang. Tidurlah duluan. Jika aku tidak pulang, esok pulanglah dengan Jack, dia akan mengantarmu kembali pulang,” ujar Xavier lagi dengan sorot matanya yang suram.


“Eh? Kenapa begitu? Jika kau tidak pulang, aku lebih baik pulang malam ini. Bukannya kau mengatakan akan menjagaku malam ini?" ujar Graciella lagi langsung menatap pria yang sekarang juga sedang memperhatikannya, tiba-tiba saja perasaannya menjadi tak enak karena perkataan Xavier. Xavier hanya tersenyum.


“Hanya jika, kita tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi nantinya. Jika semua berjalan dengan baik, maka aku akan pulang dan menemanimu begini lagi malam ini,” ujar Xavier dengan senyuman mencoba menenangkan Graciella yang mengerutkan dahinya.


“Aku tidak mau tahu, kau harus pulang nanti malam,” ujar Graciella.


“Baiklah, aku akan pulang, sekarang istirahatlah sebelum makananmu datang. Aku janji aku akan pulang.” Xavier mencium kepala Graciella sebelum dia kembali memeluk tubuh wanita itu dengan lebih erat. Walau masih ada sedikit rasa tak nyaman, tapi kehangatan itu malah perlahan membawa Graciella tertidur, ternyata dia hanya perlu Xavier untuk mengobati semua rasa penat dan lelah dalam tubuhnya.


******


Malam ini adalah malam yang indah. Purnama menyinari seterang cahaya matahari mungil membuat mata bisa melihat apa yang ada di sekitar dengan mudahnya. Angin pun tak berhembus kencang. Hanya sepoi yang terkadang menggoda untuk memancing kantuk datang.


Xavier melangkah masuk ke restoran dengan ornamen oriental. Bumbu masakan khasnya menyeruak ketika dia sudah ada di dalamnya. Tapi dia tidak berhenti di tempat itu. Ayahnya dan juga Tuan Peter sudah menunggunya di sebuah tempat khusus untuk pertemuan mereka malam ini.


Xavier harus fokus untuk malam ini. Sebuah informasi sudah dia dapatkan hingga dia harus melakukan pertemuan dengan Tuan Peter juga ayahnya malam ini.


Xavier menarik napasnya sedikit ketika dia melihat ayah dan Tuan Peter sudah duduk dan berbincang ringan. Dia menaikkan sedikit sudut bibirnya ketika Tuan Peter dan ayahnya menyambutnya.


“Silakan duduk! Aku rasa sangat bahagia malam ini,” ujar Tuan Peter mempersilakan Xavier duduk.


Xavier tak langsung duduk, dia mengamati keadaan sekitar lalu segera mengambil tempat duduk yang lebih dekat ke pintu, di dekat Tuan Peter.


“Kenapa tidak duduk di sini?” ujar Tuan David Qing, biasanya Xavier selalu duduk di sampingnya. Tapi kali ini dia duduk di dekat Tuan Peter.


“Aku tidak suka pemandangannya. Malam ini aku ingin melihat bulan,” ujar Xavier sambil menyeruput teh Oolong yang sudah dituangkan padanya. David Qing awalnya mengerutkan dahinya sedikit tapi merasa itu masih bisa dia terima. Dia hanya heran kenapa tiba-tiba Xavier menjadi suka melihat pemandangan. Biasanya pria ini tidak peduli.


******


Di balik semak pepohonan di tepian danau yang jaraknya cukup jauh dari restoran itu. Seorang penembak jitu dengan Barret M95 di tangannya sedang membidik ke arah restoran. Penembak jitu memandang dengan serius dari teropong miliknya.


Suasana malam ini sangat mendukungnya. Sebuah malam yang damai untuk menjalankan misi. Dia membidik dengan tepat ke arah tempat pertemuan Xavier dan Tuan Peter. Dia memicingkan satu mata yang tidak terlekat oleh teropong.Mencoba mencari celah agar bisa melumpuhkan sasaran yang sudah diberikan padanya.


Namun saat dia membidiknya, dia tak bisa mendapatkan gambaran dari Xavier karena terhalang oleh sebuah pilar besar.  Dia hanya mendapatkan bidikannya pada David Qing.


“Sial! Aku hanya bisa membidik Tuan David Qing. Xavier di luar dari range ku,” ujar penembak jitu pertama.


“Tidak masalah, aku bisa membidiknya dari sini. Kau lakukan saja dulu tugasmu. Aku akan menembak setelahmu,” ujar penembak jitu yang kedua.


“Baiklah,” jawab penembak jitu pertama dari alat komunikasi mereka. Dia segera bersiap dengan posisinya. Membidik dengan sangat serius. Bahkan seolah seluruh suara yang ada di sekitarnya senyap seketika ketika dia berkonsentrasi. Setelah merasa mendapatkan sasaran yang tepat dengan posisi yang terpat. Jari jemarinya mulai bergerak untuk menarik pelatuk senapannya.