Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 166.


Jlubbbbb!!


Sebuah peluru tajam dan panas langsung menembus punggung dari Tuan David Qing. Penembak itu meleset karena tiba-tiba saja David Qing berdiri hingga peluru panas itu hanya menembus punggungnya yang langsung menembus dadanya.


“Sial! Aku tak mengenai kepalanya!” ujar penembak jitu pertama yang langsung bersiap pergi dari sana. Tapi begitu dia berdiri. Tiga orang tiba-tiba saja muncul dengan seragam kamuflasenya. Membidiknya dengan tiga buah pistol tangan. Dia langsung tak bisa berkutik saat pistol itu menempel tepat di kepalanya. Dengan cepat dan tanpa perlawanan dia langsung di tangkap.


******


Tuan Peter membesarkan matanya melihat darah yang langsung bertebaran di meja dan seketika saja t tubuh David Qing langsung terkulai lemas, ambruk menghantam meja mereka, membuat gelas-gelas di sana jatuh dan pecah. Tuan Peter terlonjak kaget hingga berdiri dan segera keluar, berteriak untuk bantuan medis.


Xavier malah bersikap sebaliknya. Dia tampak begitu tenang melihat tubuh ayahnya terkapar jatuh di meja itu. Dia masih bisa melihat ayah bernapas dan matanya melihat ke arahnya. Tapi Xavier hanya bergeming. Hanya menatap ayahnya saja, seolah menikmati bagaimana proses ayahnya meregang nyawa.


“Komandan! Area aman!” laporan terdengar pada alat komunikasi yang ada di telinga Xavier. Mendengar itu Xavier baru bergerak mendekati ayahnya. Tapi dia tak melakukan apa pun, kecuali duduk lebih dekat dengan ayahnya yang bernapas mulai satu-satu.


“Sebagai anak, aku tidak bisa membunuhmu secara langsung, Ayah. Tapi kau juga harus mendapatkan ganjaran dari perbuatanmu. Jadi aku membuat semua ini, mengadu dombamu dengan Tuan Robert hingga dia mengirimkan orang untuk memusnahkan mu karena mengira kau berkhianat. Aku tahu kau masih bisa selamat jika aku melakukan sesuatu padamu saat ini. Tapi kau harus menjawab pertanyaanku, di mana anakku sekarang?” tanya Xavier mendekati David Qing sambil berbisik.


Mata David Qing mendelik tajam. Dia tidak menyangka bahwa Xavier melakukan hal ini padanya. Dia bahkan hanya diam memperhatikannya meregang nyawa. Bagaimana bisa anaknya melakukan hal ini padanya?


“Di mana anakku, Ayah?” tanya Xavier begitu tenang. Tak ada kepanikan yang terjadi melihat ayahnya mulai tersengal. David Qing sudah tak bisa lagi melakukan apa-apa. Paru-parunya sudah bolong ditembus oleh peluru tajam itu. Tulangnya remuk dan juga sekarang dia tak lagi bisa bernapas karena darah yang sudah memenuhi rongga pleuranya. Darah yang keluar dari luka itu juga begitu banyak, membuat tubuhnya mulai merasakan menggigil dan juga mati rasa.


“Robert!” David kembali tersengal, bahkan mengucapkan kata-kata saja dia sudah tak sanggup, “Mengirim dia pergi ke tempat.”


“Ke mana?” tanya Xavier lagi mulai bernada. Bernada emosi. Xavier tentu terpancing emosinya. Satu hal yang dia tahu sekarang, anaknya kemungkinan besar masih hidup!


David Qing menggeleng lemah sebelum dia menarik napas panjang yang tersekat lalu tiba-tiba dia terdiam dengan wajah yang penuh ketakutan juga kesakitan. Matanya langsung meredup, pupilnya membesar. Xavier yang melihat itu tahu persis apa yang terjadi. Ayahnya sudah mendapatkan ganjarannya.


Xavier memang tak akan sanggup untuk memberikan ganjaran langsung pada ayahnya. Dia tak akan bisa memuntahkan timah panas itu pada ayahnya. Karena itu dia sudah merencanakan semua ini, membuat sebuah skenario adu domba terhadap ayahnya dan Robert Kim.


Robert Kim adalah orang yang sangat tinggi harga dirinya. Tentu mendapatkan pengkhianatan dari orang yang dulu dekat dan dia bantu akan membuatnya bertindak nekat. Xavier sudah mempelajari sifat mantan kakek mertuanya itu. Karena itu dia mencoba membuat skenario seolah-olah ayahnya sudah mengkhianatinya.


Malam ini, Xavier sudah tahu bahwa Robert akan memerintahkan untuk mengeksekusi mereka, sehingga dia mencoba memberikan celah untuk Robert Kim, memilih tempat yang cocok sebagai tempat eksekusi, dan Robert Kim benar-benar termakan rencananya. Seluruh restoran ini sudah dijaga oleh bawahan khusus yang dibentuk oleh Xavier. Mereka bertugas untuk menjaga keselamatan Tuan Peter dan juga Xavier, selain itu juga mereka harus memastikan menangkap orang suruhan dari Tuan Robert setelah melakukan eksekusi pada ayahnya. Karena itu Xavier tahu persis di mana dia dan Tuan Peter harus duduk.  Timnya sudah melumpuhkan penembak jitu yang kedua. Merekalah yang tadinya berbicara dengan penembak jitu pertama dan meminta dia untuk mengeksekusi David Qing.


Tapi walaupun sudah terencana dengan sangat detail, masih ada rasa cemas jika terjadi apa-apa padanya atau pada Tuan Peter. Dia sudah menjamin keselamatan pria itu. Sedikit saja kesalahan, maka bisa saja Xavier juga meregang nyawa malam ini.


Xavier sekali lagi hanya memandangi wajah ayahnya. Saat itu paramedis baru datang dan mencoba untuk memberikan bantuan pada Tuan David Qing. Tapi tatapan matanya sudah kosong, Xavier melihat paramedis menutup mata ayahnya dan membawa tubuhnya pergi.


“Aku turut berduka cita,” ujar Tuan Peter pada Xavier seraya menepuk pundaknya.


Xavier hanya mengangguk pelan. Dia lalu keluar dan masuk ke dalam mobilnya yang langsung mengikuti ambulans yang mengangkut tubuh ayahnya. Xavier langsung mengambil ponselnya.


“Stevan, mereka sudah menangkap pelakunya, sekarang aku serahkan padamu,” ujar Xavier dengan tegas.


“Baiklah, serahkan saja semua padaku. Esok aku akan menerbitkan surat penangkapannya,” ujar Stevan segera.


“Terima kasih,” ujar Xavier menutup panggilan itu dan menatap ke arah kedua tangannya. Cipratan darah dari tubuh ayahnya tampak samar di kulitnya.


Tinggal satu tugasnya. Dia harus menangkap Robert Kim dan memastikan dia memberitahukan ke mana dia membawa pergi anaknya! Dia harus tahu hal itu segera!