
Graciella melihat jam di tangannya. Sebentar lagi kereta mereka akan datang dan Xavier juga Stevan masih belum menunjukkan batang hidung mereka. Graciella berulang kali mencoba untuk mencari sedikit tanda-tanda mereka, tapi tetap saja tak menemukannya.
Graciella menghela napas panjang. Dia memasang wajah kesalnya. Apa yang mereka sedang lakukan sekarang?
Hingga tiba-tiba ponselnya kembali bergetar. Graciella dengan cepat langsung melihat ponsel itu. Tadinya berharap nomor tidak dikenal yang muncul, tapi malah nomor Laura yang memanggilnya.
"Halo?" tanya Graciella. Mencari tahu apakah mereka sudah menemukan gadis bodoh itu atau tidak. Mungkin saja dia mendengar suara cemprengnya itu lagi.
"Halo?" suara rendah pria itu terdengar. Sudah yakin pasti adalah Antony.
"Antony? bagaimana? apakah sudah mendapatkan kabar dari Laura?" ujar Graciella. Sisi simpatinya kembali muncul. Ditinggal calon istri sehari sebelum pernikahan, rasanya sangat menyedihkan.
"Sudah," ujar Antony singkat tapi tanpa ada suara bahagia. Malah terkesan kesedihannya.
"Ehm? lalu?"
"Dia pergi ke luar negeri," ucap Antony.
"Ha? keluar negeri? bagaimana bisa?" tanya Graciella tak habis pikir. Laura memang selalu mengatakan bahwa dia ingin menjelajah ke luar negeri. Ingin melihat dunia dari sisi yang lain. Tapi bukan berarti dia harus melakukan hal itu saat seperti ini. "Antony, Aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi, sebagai sahabat Laura. Aku minta maaf tentang kebodohannya ini," ujar Graciella tak tahu lagi berkata apa. Entah bagaimana juga dia merasa sungkan dengan kelakuan Laura. Dia sudah menggagalkan rencana pernikahan Antony, dan sekarang dia juga menggagalkan pernikahan mereka dengan kabur keluar negeri. Entah kenapa dia malah merasa bersalah pada Antony.
"Graciella, jika dia menghubungimu, katakan padanya, aku akan menikah," ujar Antony segera yang membuat Graciella membesarkan matanya.
"Eh? apa maksudmu?" Gracilla tentu bingung. Bagaimana Antony akan menikah, bukannya calon pengantinnya sudah kabur?
"Aku akan menikahi Adelia, dia menerima permintaan keluargaku kembali walaupun kami sudah membatalkannya."
Gracilla menggigit bibirnya. Kembali, dia tak tahu harus mengatakan apa. Tentu merasa bingung, dia harus bahagia atau miris pada Antony.
"Kalau begitu selamat atas pernikahan mu. Mungkin ini yang terbaik , pernikahan dengan paksaan, akhirnya tak akan baik nantinya," ujar Graciella lagi menghela napasnya. Kehidupan memang sudah ditebak. Prianya baik, tapi wanitanya malah begitu bodoh. Sekarang pria itu akan bersama dengan wanita yang tak dia cintai sedangkan wanita yang dia cintai entah pergi mencari apa? Bagaimana jodoh bisa begtu berliku? Graciella hanya berharap wanita itu tak akan datang lagi dan menyesali semua perbuatannya.
"Ya, baiklah. Satu lagi, katakan pada Laura, terima kasih untuk semua yang dia lakukan. Aku tidak tahu menikah denganku akan menjadi mimpi buruk baginya. Datanglah besok ke pernikahanku, maaf hanya bisa mengundangmu begini," ujar Antony.
Gracilla menggigit bibirnya kembali. Dia tahu bagaimana kecewanya Antony pada Laura. Graciella bahkan tak habis pikir kenapa wanita itu bisa melakukan hal seperti ini.
"Baiklah, aku akan datang."
Panggilan itu segera diputus oleh Antony. Graciella masih bisa merasakan rasa sakit yang tersirat dari suara Antony. Graciella masih menghela napasnya panjang untuk menenangkan perasaannya yang terbawa suasana yang diciptakan oleh Antony tadi.
Graciella mendongak ketika melihat pria berdiri di depannya. Dia langsung berdiri melihat Stevan. Matanya mencari sosok lain yang sedari tadi dia tunggu.
"Xavier, dia tidak menemanimu. Dia hanya bisa mengantarmu sampai di sini Nona Graciella," ujar Stevan. Dia bisa melihat wajah berharap yang sedikit berubah kecewa melihat dia yang datang. Ternyata, empat tahun tak ada sedikitpun perasaan itu untuknya.
"Lalu di mana dia sekarang?" tanya Greciella. Rasa kecewa itu tiba-tiba muncul saja. Rasanya dia masih ingin lebih lama dengan pria itu.
Stevan menatap ke sebuah arah tanpa menunjuk. Graciella yang melihat itu segera memindahkan pandangannya ke arah mata Stevan Tertuju.
Graciella langsung memasang wajah diamnya ketika matanya terpaut dengan mata pria yang berdiri cukup jauh darinya. Xavier tampak menunggunya sebelum masuk ke dalam mobil miliknya. Graciella tak tahu jelas, tapi dari matanya, Greciella juga merasakan perasaan enggan untuk berpisah. Xavier lalu melihat ke bawah dan meletakkan ponselnya ke telinga.
"Maaf, aku tidak bisa mengantarmu sekarang. Aku harus cepat untuk mengurus sesuatu. Lagipula, kita tidak boleh terlihat berdekatan. Stevan akan menjagamu hingga ke sana. Kau mengerti?" tanya Xavier. Tak ada nada merayu ataupun terdengar manis. Tapi entah kenapa bagi Graciella dia merasakan perhatian dari Xavier.
"Aku mengerti," ujar Graciella langsung.
"Baiklah, kereta kalian sudah datang. Masuklah," ujar Xavier yang masih menatap dalam ke arah Greciella. Graciella melihat orang-orang di sekitarnya mulai sibuk memasuki kereta itu membuat pandangan mereka terkadang terhalang. Graciella masih enggan. Dalam hatinya terus bertanya-tanya, kenapa hanya ingin bersama saja begitu susah?
"Bagaimana jika aku merindukanmu?" tanya Graciella sedikit mencari keberadaan Xavier yang tertutup orang-orang di sekitarnya.
Tak ada jawaban sesaat membuat Greciella mengerutkan dahinya.
"Aku akan datang sebelum kau menyadarinya. Kita akan bertemu secepatnya," ujar Xavier. Dalam lubuk hatinya, pasti susah melepaskan Graciella. Apalagi harus menyerahkan pada pria yang sudah pasti menyukai wanita itu. Tapi Xavier juga tak ingin lagi Graciella menjadi sasaran mereka. Apa yang Xavier lakukan, hanya untuk membalaskan semua hal yang sudah mereka lakukan padanya!
, Graciella dan anak mereka.
Panggilan itu terputus. Graciella terus mencoba untuk melihat Xavier yang tampak sudah masuk ke dalam mobilnya. Dia ingin menghampiri pria itu. Entahlah, bukan Graciella tak punya harga diri. Tapi rasanya, rasanya seperti menunggu begitu lama untuk bersama, belum juga merasa tuntas dan puas, tapi harus berpisah lagi. Benar-benar tak rela. Graciella rasanya memang sudah tergila-gila dengan pria itu.
"Nona Graciella!" ujar Stevan menahan lengan bawah Graciella agar tak jauh darinya. Graciella langsung melihat ke arah Stevan. "Kita harus masuk ke kereta sekarang atau kita akan tertinggal."
Graciella menggigit bibirnya. Dia kembali melihat ke arah Xavier dan sudah tak ada siapa-siapa di sana. Mobilnya pun sudah tak ada bekasnya.
Mau tak mau Graciella akhirnya masuk ke dalam kereta itu. Xavier menyediakan sebuah tempat VVIP yang sangat berbeda. Satu gerbong itu khusus hanya untuk Greciella, Helena dan juga Stevan. Gaya gerbong itu bagaikan sebuah pesawat pribadi. Bahkan ada tempat tidurnya. Helena hingga terlonjak senang. Mendapatkan tempat ini bagaikan mimpi, mereka bahkan harus memesannya jauh-jauh hari.
Namun, semua itu tak terlalu berpengaruh pada Graciella. Dia memilih hanya duduk di tempat duduk berukir klasik di dekat jendela. Melihat pemandangan indah di sekitarnya yang lewat begitu saja karena Graciella tak memperhatikannya.
"Nona? kenapa kau malah di sini? kau ingin teh atau bagaimana?" ujar Stevan seperti biasanya.
"Tidak, aku tidak ingin apa-apa sekarang, terima kasih," sebuah senyuman tersungging, lagi-lagi tak selepas saat dia bersama Xavier.
"Kalau perasaanmu tak enak, cobalah untuk tidur," ujar Stevan lagi memperhatikan wajah cantik di depannya. Luka panjang yang terkadang tertutup oleh rambutnya yang tebal tak sedikitpun menghalangi kecantikannya.
"Aku sedang tak ingin terlalu banyak tidur. Aku sering bermimpi aneh sekarang, jadi aku rasa aku lebih baik mengurangi tidurku."
"Ehm? mimpi apa? kau bisa membicarakannya padaku. Ingat! aku tahu semua tentangmu!" senyuman Stevan selalu bisa meredakan kerisauan apa pun.
"E? aku bermimpi tentang seorang gadis kecil yang sangat sedih, dia selalu memanggilku mama! dan saat itu pasti aku sangat ketakutan. Dia seolah marah padaku!"
Senyuman Stevan seketika berubah menjadi wajah kaget yang tampak begitu nyata.
"Moira?!"
...****************...
halo kak, aku up 1 DL ya, besok harus kembali kerja. Besok siang atau sore aku up lagi ya, hehe