
“Dokter Graciella. Jika boleh saya berbicara. Maaf jika Komandan bertindak seperti itu pada Anda. Dia memaksa untuk melindungi Anda karena terakhir kali dia membiarkan seseorang yang penting baginya pergi tanpa perlindungan dia kehilangan orang itu selamanya. Karena itu, saya yakin bahwa Komandan menganggap Anda sangat penting baginya. Bukan saya membela Beliau karena Beliau adalah atasan saya. Tapi saya bisa menjamin apa yang saya katakan ini benar. Beliau tak pernah sebegitu khawatirnya hanya karena seorang wanita. Dulu dia juga tak begitu saat bersama Nona Malagha, jadi Andalah orang pertama yang dia perlakukan seperti ini.”
Graciella tentu tersentuh dengan pengakuan dari Fredy itu, tapi dia tak bisa membiarkan hal itu membuatnya berubah pikiran. Keputusannya sudah bulat. Dia tak ingin berhubungan dengan pria mana pun lagi.
Tanpa sadarnya sebulir air mata sebening kristal itu jatuh begitu saja mengalir ke pipinya. Hangat terasa hingga hilang menyisip di ujung bibirnya. Graciella menghapusnya cepat ketika Laura masuk ke dalam kamar itu.
Laura menarik napasnya sedikit. Walaupun Graciella sudah menghapus air matanya. Tapi bekas basah itu terlihat jelas. Apalagi matanya yang memerah.
“Ada apa? apakah sakit?” tanya Laura. Duduk dan menyerahkan segelas air pada Graciella.
“Tidak. Hanya nyeri sedikit,” ujar Graciella segera meminum obatnya.
“Bukan yang itu, yang ini.” Laura segera menunjuk ke arah dada Graciella. Graciella hanya melihat ke jari Laura yang sekarang menempel tempat di jantungnya.
Graciella sedikit tertawa kecil tapi bersamaan dengan itu air matanya pun kembali meleleh. Tawa kecilnya kembali menjadi sebuah tangis. Laura melihat itu miris. Dia langsung memeluk Graciella. Entah apa salahnya? Nasib sial selalu menghampiri Graciella.
“Kalau kau menyukainya, kenapa harus menghindar? Apa kau takut dengan Adrean?” tanya Laura.
Graciella tak langsung menjawab. Dia menumpahkan dulu rasa sedih yang tiba-tiba bangkit akibat diusik oleh Laura.
“Di usia kita sekarang, kata suka saja tak cukup untuk membangun sebuah hubungan. Apa lagi dengan wanita seperti ku. Kau yang bilang sendiri bagaimana terpandangnya keluarga Xavier. Menurutmu? Apakah mereka akan menerima diriku?” Graciella melirik ke arah Laura yang langsung berwajah masam.
Dia mendengus sejenak, “Siapa sih yang mencetuskan ide jika menikah harus melihat semuanya. Latar belakang, pendidikan, keturunan semuanya, kenapa sih? kenapa tidak hanya melihat apakah wanita itu baik atau tidak, mereka saling mencintai atau tidak? bukannya yang paling dibutuhkan itu untuk menjalin sebuah rumah tangga?” tanya Laura yang jadi kesal sendiri. Kenapa semuanya harus melihat hal-hal seperti itu. “Nanti ya, jika aku punya anak laki-laki, dia bebas ingin menikahi siapa saja tak perlu memandang wanita itu bagaimana, yang penting dia suka.”
Graciella tersenyum sedikit. “Saat ini kau bisa mengatakannya. Tapi jika nanti, kau juga pasti ingin yang terbaik untuk anakmu. Pasti kau juga akan melihat, apakah wanita itu baik untuk masa depannya? bisa mencoreng nama keluarga atau tidak? akankah menjadi ibu yang baik untuk cucu-cucumu dengan pendidikannya yang baik pula, pasti kau memikirkan itu.”
Laura mencucurkan bibirnya hingga berbentuk kerucut. “Entah lah, semoga aku ingat tentang percakapan ini. Jika Xavier itu anakku, aku pasti akan senang hati menerimamu.”
“Kau yakin? kau yakin membiarkan anakmu yang punya masa depan yang cerah berdekatan dengan seorang wanita yang sudah bersuami?” tanya Graciella lagi. “Apa yang akan kau pikirkan pertama kali begitu mendengar hal itu?”
Laura menggigit bibirnya. Logika pasti dia tak akan menyukai wanita itu, pasti dia berpikir wanita itu adalah wanita penggoda. Sudah punya suami, tapi malah menjalin hubungan dengan anaknya. Laura jadi tidak bisa mengatakan apa pemikirannya.
“Ehm … lalu apa kau ingin kembali dengan Adrean? Pria itu! ah! dia tidak bisa kau katakan suami.” Laura menahan napasnya. Dia sendiri sesak memikirkan nasib Graciella. Kenapa dia harus bertemu dengan Adrean? Kenapa Tuhan tak langsung mempertemukannya dengan Xavier saja? atau siapa pun yang pantas disebutnya suami.
Graciella tersenyum pahit. “Aku sedang memikirkan bagaimana caranya untuk bisa bebas darinya.”
“Jika kau tidak dengan dia. Kau juga menolak Xavier. Jadi kau dengan siapa?” tanya Laura.
“Aku tidak ingin dengan siapa-siapa. Aku rasa hidup sendiri akan menyenangkan.”
“Kau ingin jadi perawan tua?” tanya Graciella mengerutkan dahinya. Akhirnya dia tersenyum gara-gara ulah dari Laura.
“Oh, ya aku masih perawan. Apa aku harus menyewa seorang pria untuk tidur denganku, agar aku tak jadi perawan tua?” tanya Laura dengan wajah bertanya yang dibuat-buat.
“Kau jangan gila! Masih banyak pria yang ingin denganmu.” Graciella memukul kecil kepala Laura sehingga si empunya meringis kesakitan lalu tertawa kecil.
"Kau juga, walaupun jadi janda pasti ada yang mau denganmu!" balas Laura. Untung Graciella sempat menangkisnya. Mereka tertawa sejenak.
“Laura, aku akan istirahat di sini hingga aku bisa berjalan kembali, boleh kan?”
“Ya tentu, apartemen ini aman! Aku akan meminta ayah mengirim beberapa penjaga di sini. Kau tak perlu takut. Jika perlu kita bisa manfaatkan si Antony. Dia pasti punya penjagaan yang terbaik. Aku juga akan mengatakan pada direktur bahwa kau sedang sakit hingga dia bisa memberikan izin untukmu.”
“Tidak,” kata Graciella yang membuat Laura menaikkan satu alisnya. “Bisa sampaikan surat pengunduran diriku.”
“He? Kau ingin mengundurkan diri? Kenapa?”
“Adrean bekerja di kementerian kesehatan. Dia pasti bisa mengontrol ku dan bisa mencariku di mana pun aku pergi. Aku ingin lepas darinya. Aku tahu hingga aku mati pun dia tak akan melepaskanku. Aku tak berharap bisa bercerai dengannya. Aku hanya berharap bisa pergi jauh darinya. Terserahlah dengan statusku dengannya. Aku hanya pergi darinya.” Graciella menatap mata Laura dengan berkaca-kaca. Laura menggigit bibirnya.
“Itu sama artinya kau tak akan bisa menikah dengan siapa pun lagi bukan? kau benar-benar bersungguh-sungguh tentang hidup tanpa pria mana pun lagi?” ujar Laura yang sekarang suaranya menjadi bernada rendah. Tadi dia kira Graciella hanya asal berbicara tentang itu. Tak menyangka dia benar-benar serius.
“Ya.”
Laura menggigit bibirnya lebih dalam. Ternyata cinta bisa melukai seseorang begitu dalamnya. Graciella bahkan harus merelakan pekerjaan yang sudah menjadi cita-citanya sejak kecil. Kurang apa lagi pengorbanan yang harus diberikan Graciella hanya agar sesuatu yang bernama cinta tak lagi menyakitinya. “Lalu kau ingin bekerja apa?”
“Aku belum memikirkannya. Kau tidak perlu khawatir. Setelah aku sembuh aku akan mencari pekerjaan dan membayar semua yang biaya selama aku ada di sini.” Graciella sedikit tersenyum melihat ke arah Laura.
“He? Untuk apa? kau kira aku ini sahabat apa? aku orang kaya. Tak perlu membayarku. Simpan saja uangmu itu untuk menyewa pengacara paling hebat agar kau bisa bercerai dengan Adrean. Sudah! Jangan lagi berbicara tentang patah hati ini. Kau tidurlah agar cepat bisa menemaniku berbelanja,” ujar Laura segera memakaikan selimut tebal menutupi tubuh Graciella. Graciella tersenyum tipis. Akhirnya dia merasa beruntung punya teman seperti Laura. “Jangan meminta aku mencium dahimu, aku bukan Xavier,” goda Laura lagi melihat Graciella yang mengamatinya dari tadi.
“Kau ini apaan sih?” tanya Graciella.
“Sudah istirahatlah," Laura segera berjalan menuju ke arah luar kamar itu. Dia sedikit mengintip ke arah Graciella yang langsung tampak termenung.
Laura menggenggam ponselnya. Dia masih tak bisa menerima hal ini. Bagaimana pun Graciella berhak bahagia dan menurutnya, Xavierlah orang yang bisa membuat Graciella bahagia. Dia yakin sekali itu. Dia harus mengatakan pada Xavier tentang keadaan Graciella sekarang! Benar! Dia harus melakukannya!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kak! hari ini aku banyak kerjaan. 2 Bab dulu ya... besok semoga bisa up banyak ya. Makasih udah baca karyaku. I love you all!