
Mata Graciella yang indah bergulir ke arah pintu yang perlahan terbuka dan matanya segera membesar ketika melihat siapa yang masuk ke dalamnya.
Graciella tak menyangka melihat Xavier yang ternyata memasuki ruangan itu. Dia berjalan bersama dengan Devina di sampingnya dan kedua orang tuanya di belakang mereka. Graciella terpatung menangkap sosok yang juga langsung melihat ke arahnya.
Langkah Xavier pun terhenti seketika ketika matanya menangkap wajah yang seharian ini membekas di otaknya. Graciella dan Xavier hanya terdiam sesaat saling pandang. Sama-sama bertanya dalam pikiran mereka, bagaimana bisa mereka sekarang bertemu di sini? Seketika saja, perasaan Graciella semakin tak nyaman.
Pertanyaan langsung muncul di kepala Graciella. Bagaimana bisa Xavier ada di sini? bukankah dia mengatakan bahwa dia harus melakukan beberapa tugas? Tapi dia malah ada di sini dan bersama dengan Devina. Apa pria ini juga hanya ingin menggodanya? Kalau iya! perlakuannya selama ini pada Graciella sungguh tak bisa diterima.
Devina yang melihat Graciella langsung berwajah marah. Kenapa wanita murahan itu malah ada di sini? Tapi Devina tak bisa langsung melabrak Graciella tentu karena ada kakeknya di sini.
"David Qing, sudah lama tak bertemu denganmu!" ujar Robert. Sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat, penyambutannya pada orang tua Xavier benar-benar berbeda dengan caranya menyambut Greciella.
Suara dari Robert itu juga membuat Graciella. Devina langsung melingkarkan tangannya ke lengan Xavier. Graciella menatap hal itu. Xavier hanya bisa diam dengan wajah yang tak percaya. Tapi juga tak melakukan apa-apa, bahkan menepis tangan Devina saja tak dia lakukan.
"Tuan Robert Kim, apa kabar Anda? Senang bisa bertemu kembali dengan Anda," ujar David Qing yang berusaha tak melihat interaksi dari Xavier dan Graciella. Berakting senatural mungkin seolah mereka tak mengenal Graciella.
"Duduk-duduklah, kita harus makan malam dulu baru ke acara selanjutnya," ujar Robert tampak begitu ramah.
Greciella hanya menunduk. Dia merasa benar-benar tak nyaman, apalagi sekarang Xavier duduk tepat berseberangan dengannya. Devina yang duduk di sebelah Xavier dengan pautan tangan itu terus menatapnya bagaikan seorang buronan.
"Ada apa Devina?" Ujar Robert yang menangkap tatapan dari Devina tampak begitu tajam pada Graciella.
"Kakek! Bagaimana wanita ini bisa masuk ke sini?" Ujar Devina menunjuk Greciella dengan ujung matanya.
"Dia adalah istri dari kakak sepupumu," ujar wanita yang duduk di samping Devina.
"Apa? Dia istri Kak Adrean?" tanya Devina kaget. Dia langsung tersenyum sinis. "Wanita yang tak puas mendapatkan bulan dan hendak merengkuh matahari, sekarang terbakar, bukan?" Sindir Devina yang membuat suasana semakin canggung.
Graciella menggigit bibirnya. Jelas sekali kata-kata itu menghina dirinya. Walaupun halus tapi itu sama saja Devina mengisyaratkan dirinya seperti wanita yang suka menggoda pria.
Xavier hanya menatap Graciella. Matanya menyipit ketika melihat ke arah Adrean.
"Devina, kau hanya belum mengenal istriku …." Adrean menggenggam tangan Graciella yang kaget melihat kelakuan dari Adrean, meletakkan genggaman tangan mereka di atas meja sehingga siapapun bisa melihatnya. Cincin pernikahan mereka tampak bersinar di bawah lampu. Membuat semua perhatian langsung tertuju ke pautan tangan mereka. Graciella melihat itu langsung ingin menarik tangannya. Namun ditahan oleh Adrean. Graciella tentu kesal tapi tak bisa dia tunjukkan. Ada banyak mata yang sekarang memandangnya. Marah di jamuan penuh orang tua tentu bukanlah sikap yang baik.
Seharusnya pria itu yang malu karena ketahuan belangnya. Selama ini bersikap memaksa, bahkan mengatakan hanya kematian yang akan bisa menghentikan mengejar Graciella tapi sekarang malah tampak pasrah mengizinkan Devina bergelayut manja di bahunya.
Graciella segera mengangkat kepalanya. Tak perlu takut. Graciella tak salah. Karena itu dia menantang pandangan siapa pun padanya.
Makan malam itu terasa sangat kaku. Greciella sama sekali tak bisa menikmati makanannya karena merasa asing dan juga akibat tatapan dua orang yang ada di depannya. Dua-duanya menatapnya dengan amarah. Entah apa salah Graciella pada mereka berdua. Untungnya walau tak bisa menikmatinya. Graciella bisa berpura-pura tenang.
"Baiklah, kita masuk ke dalam inti dari pertemuan kedua keluarga ini. Aku sangat senang akhirnya aku bisa memperkenalkan cucuku yang lain, Dia memang sudah lama tak berkumpul dengan kami, tapi dia adalah anak dari putriku satu-satunya, Adrean Han," ujar Robert memperkenalkan Adrean pada keluarga Qing.
"Oh? Benarkah? Lalu bagaimana hubungan antara Devina dan Adrean. Kami sudah lama kenal dengan Devina dan tak tahu ternyata dia punya kakak ymksepupu," suara Monica Qing terdengar lembut.
"Secara garis keluarga mereka termasuk sepupu jauh. Ayah Ronald adalah adik kandungku. Tapi dia sudah meninggal saat Ronald masih kecil. Aku yang mengurusnya. Dan itulah bagaimana mereka bisa menjadi sepupu," ujar Robert menjelaskan.
"Oh, aku mengerti. Jadi Tuan Han, Anda pasti akan meneruskan perusahaan milik keluarga Kim bukan?"
"Saat ini Adrean masih menolak memimpin perusahaanku, tapi nantinya semua milikku akan menjadi miliknya," ujar Robert.
"Wah! Anda sangat beruntung punya suami seperti Adrean, Nona ?" Monica melirik ke arah Graciella, berpura-pura tak mengenalnya.
Graciella ingin sekali mengatakan, apanya yang beruntung memiliki suami seperti Adrean. Tapi mengutarakan hal itu di depan mereka, pastilah sangat tak sopan. Graciella hanya memilih diam tak ingin berbicara.
"Wow! Tentu dia beruntung calon ibu mertua. Siapa pun akan tergoda dengan kakakku. Hanya saja aku rasa dia wanita yang kurang bersyukur. Benar-benar tamak," ujar Devina kembali menyindir Graciella. Membuat semua wajah orang yang ada di sana berkerut. Ada apa dengan Devina dan Graciella?
"Adik sepupu. Maaf jika aku tak setuju padamu. Graciella bukan wanita yang tertarik dengan materi. Kami menikah saat Graciella tak tahu siapa aku sebenarnya. Jadi aku yakin dia wanita yang tak melihat statusku," ujar Adrean lembut membela Greciella. Adrean juga menatap penuh kasih pada Graciella yang hanya mengerutkan wajahnya. Merasa jijik karena mengingat beginikah caranya Adrean merayu wanita-wanita simpanannya. Tapi Greciella tak bisa menunjukkan ekspresi jijiknya karena lagi-lagi semua orang menatap mereka. Graciella hanya tersenyum terpaksa.
Xavier yang melihat tingkah Adrean dan Graciella yang ada di depannya tampak mempertajam tatapannya. Dia segera meneguk wine yang ada di depannya. Bukannya membuatnya dingin, malah semakin membakarnya.
"Aku rasa kakak harus lebih membuka mata kakak dengan apa yang dilakukan oleh istrimu! Kau akan terkejut karena sudah tertipu wajahnya yang polos itu!" Ujar Devina semakin panas.
"Ya, sudah cukup! Malam ini bukan untuk membahas tentang Adrean. Yang harus kita bahas adalah masalah pertunangan dari Devina dan Xavier. Sebagai yang paling tua di keluarga. Aku harus bertanya tentang hal ini? Bagaimana? Kapan pertunangan mereka akan dilaksanakan?" Robert menyela cepat karena merasa suasana makin memanas.
Graciella kembali menggigit bibir dalamnya. Petunangan Xavier dan Devina? Kenapa mendengarkan hal itu membuat hatinya tak sejahtera. Jika memang tetap ingin bertunangan dengan Devina, kenapa harus menunjukkan perhatian seperti semalam?