Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 48. Aku akan menikahimu!


“Xavier apa yang kau lakukan?!” tanya David yang langsung melonjak kaget. Tak menyangka Xavier dengan begitu gamblangnya mengatakan hal itu di depan Robert Kim, bagaimana pun Robert Kim adalah sekutu paling kuat untuk memperkukuh kedudukannya dan juga mendongkrak nama Xavier nantinya jika dia mencalonkan diri menjadi presiden.


“Aku melakukan apa yang harus aku lakukan. Sekarang izinkan aku pamit, aku punya tugas yang harus aku lakukan," ujar Xavier yang tak mengunggu jawaban dari siapapun. Semuanya tampak syok melihat kelakuan dari Xavier. Bagi Robert itu adalah sebuah hinaan. Bagi David itu sebuah pencorengan nama baik yang dilakukan oleh putranya sendiri.


Devina tampak begitu terpukul, dia langsung menangis mendengar keputusan dari Xavier. Jika kemarin Xavier hanya mengatakannya di depan dirinya atau orang tuanya dan mereka masih bisa merayunya lagi atau mencoba untuk berbuat sesuatu agar Xavier menyetujuinya. Tapi jika sudah di depan kakeknya. Kakeknya tak mungkin menerima penghinaan ini.


Adrean yang tak percaya Xavier melakukannya memutar otaknya. Dia langsung membesarkan matanya ketika memikirkan sesuatu. Dia langsung berdiri dan segera keluar dari ruangan itu.


Xavier langsung berjalan menuju tempat yang dilaporkan padanya. Jalannya sangat cepat bahkan akhirnya dia berlari. Xavier lalu melihat Graciella yang sedang bersama empat orang yang mengawalnya.


Xavier langsung berjalan menuju ke arah Graciella. Namun tiba-tiba saja Graciella berlari ke arahnya. Xavier tentu langsung cemas melihatnya apalagi Graciella berlari dengan terpincang-pincang. Xavier langsung berjalan cepat ke arah Graciella yang panik dan tidak melihat kedatangannya. Saat Graciella menabraknya. Xavier dengan cepat menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam Van yang sudah dia perintahkan membawa Graciella.


“Kau?” ujar Graciella kaget melihat Xavier yang langsung masuk. Pintu mobil itu segera di tutup dan mereka segera melaju. Xavier langsung memegang kaki Graciella, melihat perbannya yang sudah kotor terkena debu tanah dan juga sedikit bercak darah. Xavier menghela napas melihat Graciella.


“Bagaimana kau bisa di sini? kita ke mana? ini apa-apaan?” tanya Graciella yang bingung.


“Mereka adalah bawahan ku. Aku sengaja menyuruh mereka untuk membawamu pergi. Kenapa kau bisa bersama dengan Adrean?” tanya Xavier dingin tanpa memperhatikan Graciella. Dia hanya sibuk membuka perban kaki Graciella. Harus segera diganti, takut akan infeksi.


“He? Tapi bagaimana mereka tahu bahwa aku membawa senjata api di tasku?” tanya Graciella. Salah menduga karena berpikir mereka tadi bawahan dari Adrean.


“Tidak, mereka tidak tahu, mereka tetap akan menahan mu dengan memasukkan sesuatu di dalamnya walau tanpa senjata api itu. Berikan padaku kotak pertolongan pertama," ujar Xavier pada Fredy yang sudah duduk di depan. Dengan sigap mengeluarkannya dari laci depan mobil. Fredy segera membukanya dan menyerahkannya pada Xavier. Graciella hanya diam melihat Xavier yang sibuk dengan luka kakinya. Sekarang baru terasa nyeri.


“Aw pelan-pelan.” Graciella meringis ketika Xavier mulai menekan luka di kakinya. Memastikan tak ada pendarahan yang aktif.


“Lalu, bagaimana kau bisa datang dengan Adrean? Bukannya seharusnya kau sudah kapok berdekatan dengan pria itu?” Xavier tetap tak melihat ke arah Graciella. Memasang kassa steril yang memang tersedia di kotak itu lalu menutupnya dengan kassa gulung. Melihat tingkah laku Xavier dia tahu pria ini marah padanya. Dari caranya yang tidak ingin melihatnya. Graciella langsung mengerti.


“Dia datang dan mengancam membuat keributan di rumah Laura, jadi ….” ujar Graciella.


“Jadi kau dengan mudahnya pergi bersama dengannya? tidak terpikir untuk meneleponku atau siapa yang bisa membantumu? Bagaimana jika dia kembali menjual mu?” cerca Xavier dengan suaranya yang berat menahan emosinya. Mendengar itu semua yang ada di dalam mobil hening. Fredy bahkan membesarkan lagu instrumental yang dari tadi menemani mereka. Mencoba memberikan privasi pada Graciella dan Xavier untuk mengutarakan perasaan mereka.


“Kau bilang kau sedang tugas, jadi aku kira kau tidak akan bisa aku hubungi, aku juga segan menghubungimu," ujar Graciella lagi sedikit bingung kenapa malah dia yang dimarahi.


“Kalau ada apa-apa hubungi aku! beritahu aku apa yang terjadi. Jika tak bisa langsung menemui mu, setidaknya aku tahu apa yang harus aku lakukan. Jangan pernah berpikir kau bisa hidup sendiri. Sudah aku bilang ada hal yang kau tidak bisa lakukan sendiri.” Xavier memandang Graciella dengan sangat tajam. Graciella sampai ciut melihatnya. Xavier lalu menurunkan kaki Graciella yang sudah diperban dengan baik.


“Aku memang memiliki beberapa tugas lapangan esok. Aku pergi ke sana untuk mempertegas keputusanku untuk menolak pertunangan ku dengan Devina.”


“He? Jadi kau? apa kau sudah mengatakannya? Kau mengatakannya di depan kakek mereka?” tanya Graciella tak menyangka. Pria ini benar-benar sudah mengatakannya di depan kakek tua menyeramkan itu? itu berarti dia sangat bersungguh-sungguh.


“Ya.” Xavier begitu singkat menjawabnya.


“Kenapa? padahal kau dan Devina adalah pasangan yang cocok. Kalian dari keluarga yang terpandang dan …. “ ujar Graciella yang tiba-tiba merasa hal ini ada sangkut pautnya dengan dirinya.


“Karena aku akan menikahi mu.” Tatapan mata Xavier saat mengatakan hal itu membuat Graciella langsung terdiam. Dia langsung terperangkap dalam tatapan tajam yang langsung menusuk hingga sukmanya. Mata seindah galaxy di tengah malam itu memantulkan wajahnya yang tampak bingung.


Perasaan Graciella langsung terasa hangat ketika Xavier mengatakan hal itu, tapi tak lama berubah menjadi keraguan. Bagaimana Xavier menikahinya, statusnya adalah istri Adrean. Dia ingat wajah orang-orang yang tadi ada di ruangan itu. Sekarang jika mereka tahu Xavier bersamanya. Pasti mereka akan begitu marah melihat Graciella.


“Aku rasa, kita tak akan bisa bersama.” suara Graciella turun nadanya ketika mengatakan hal itu. Rasanya tiba-tiba tak senang. Namun bagaimana pun itulah kenyataannya.


“Kenapa? apa kau masih mau bilang kau tidak menyukaiku? akan ku buat kau menyukaiku!” ujar Xavier dengan nada tingginya.


“Apa kau belum juga mengerti. Aku terikat pernikahan dengan Adrean. Aku harus bercerai dengannya agar bisa menikah dengan pria lain. Selain itu, apa kau yakin? Ayah dan ibumu pasti mengira bahwa aku adalah wanita penggoda. Mereka sudah tahu bahwa aku adalah istri Adrean. Bagaimana mereka setuju. Bahkan tadi saja Devina sudah menyindirku habis-habisan,” ujar Graciella. Bagaimana pun di sini posisinya sangat sulit.


“Aku tidak peduli."


“Bagaimana kau tidak peduli. Apa yang akan dikatakan seluruh keluarga dan teman-temanmu jika tahu kau menikahi seorang janda? Apa yang akan dikatakan oleh orang-orang tentangku? Apa kau tidak memikirkan tentang diriku?” ujar Graciella.


“Aku tidak peduli. Bahkan jika mereka tak ingin lagi mengakuiku sebagai keluarga mereka aku tidak akan peduli dengan hal itu. Aku mendapatkan semuanya dengan jerih payahku. Jadi, aku tak butuh mereka. Memikirkan tentang apa yang diucapkan oleh manusia, tak akan pernah ada habisnya,” ujar Xavier melirik ke arah Graciella. Graciella mengerutkan dahinya. Bagaimana bisa Xavier hanya memikirkan hal itu?


“Xavier … kita ….”


...----------------...


Ah maaf kak, seharusnya ini aku serahkan kemarin. Tapi karena terkena sindrom kelelahan akut! jadinya begitu nyentuh kasur. langsung dah melayang entah kemana jiwanya alias ketiduran. Ntar sore aku InsyaAllah up lagi. Hope you like this chapter, see you next chap.