
Graciella turun dari mobil Fredy dengan mengendap-endap. Dia kembali ke asrama rumah sakit. Dia tidak ingin pulang ke rumah dan bertemu dengan Adrean. Jika dia tahu apa yang sudah dilakukan oleh Graciella semalam, maka habislah riwayat Graciella.
Graciella segera menuju ke tempat tinggal Laura. Dia meraba ventilasi atas pintu asrama Laura dan menemukan kunci untuk membuka pintunya. Dia tahu Laura menyimpannya di sana setelah membaca pesan yang ditinggalkan oleh Laura untuknya.
“Buka pintunya, cepat!” suara itu membuat Graciella segera merinding. Bau rokok yang menyengat langsung menusuk hidungnya. Aura yang mencekam terasa menyelimut dirinya dari belakang. Graciella menggigit bibirnya. Dia tahu siapa yang berdiri di belakangnya sekarang.
Graciella perlahan membuka pintunya. Tapi dengan kasarnya Adrean mendorong pintu itu, dia juga mendorong tubuh Graciella. Tangan Graciella juga langsung di genggam oleh Adrean, mengunci tubuhnya dari belakang.
“Dari mana kau semalam?” tanya Adrean berbisik pada Graciella. Dari napasnya, Graciella mencium bau alkohol yang kuat. Pria ini, sepagi ini sudah mabuk?
“Aku menginap di tempat teman," ujar Graciella dengan suara gemetar.
“Teman yang mana?” tanya Adrean. Dia lalu mencium sisi samping rambut Graciella. Membuat Graciella merinding mendengarkan suara napas Adrean. Adrean menyipitkan matanya, mencium bau maskulin. Dia tahu apa yang dikatakan oleh Rose benar adanya. “Pria mana yang kau tiduri tadi malam?”
Graciella diam sejenak. Dia menggigit bibirnya dengan kuat. Tubuhnya tetap tidak bisa bergerak karena kuncian tangan dari Adrean.“Bukannya kau dan Rose yang mengatakan bahwa aku tidur dengan Direktur? Kenapa sekarang bertanya siapa pria yang aku tiduri tadi malam?” Graciella menjawabnya dengan senyuman sinis. Muak dengan perlakukan kasar dan juga amarah Adrean. Sampai kapan dia harus bersikap baik dengan pria ini?
“Graciella!” teriak Adrean mendorong tubuh Graciella hingga membentur tembok. Dada Graciella sesak seketika ditekan oleh Adrean dari belakang. “Kau memang wanita j*lang! beraninya kau pergi dengan pria lain! bagaimana bisa kau melakukan hal itu! menjijikkan sekali!” Adrean memutar tubuh Graciella agar menatap ke arahnya. Mata Adrean yang marah terkuasai oleh amarah itu menatap Graciella seolah seperti serigala yang siap menerkam mangsanya.
Graciella mencoba menegarkan dirinya sendiri. Menatap lurus ke arah mata Adrean agar dia tahu bahwa Graciella tak takut walaupun tampangnya begitu buas.
“Siapa dia! siapa pria yang kau tiduri tadi malam! Pelac*r!” teriak Adrean penuh kebencian.
Plakk!!
Adrean terdiam. Graciella pun kaget dengan apa yang baru saja dia lakukan. Entah bagaimana, entah dari mana, Graciella punya kekuatan untuk melakukannya. Mungkin karena rasa muak dan amarah yang sudah begitu lama dia pendam. Tangannya bisa melayang dan menampar pipi Adrean dengan begitu keras, sangat keras hingga tangannya sendiri juga merasa panas dan pedas. Kata-kata pelac*r itu membuat Graciella mencapai batasnya.
“Aku bukan wanita seperti wanita yang sering kau tiduri! Mungkin aku tidak bisa menjaga kesucianku hingga menikah denganmu! tapi aku bukan wanita yang bisa menerima pria mana pun menjamah tubuhku! Aku bukan wanita yang dengan sadar mengambil pria orang lain. Jijiklah padaku itu terserahmu! Tapi jangan pernah menyebutku pelac*ur! Aku tidak serendah wanita yang sering kau bawa dan tiduri!” ujar Graciella meluapkan emosinya. Biarlah! Dia tidak peduli lagi dengan pria ini. Selama ini dia berusaha untuk menjadi istri yang baik. Berusaha untuk menggugah hati pria ini agar dia tahu bahwa Graciella pantas untuknya. Tapi semakin lama semakin sakit luka yang ditorehkan oleh Adrean. Serendah-rendahnya dia. Dia tak pantas mendapatkan perlakuan ini.
“Kau sudah berani ya Graciella!” Adrean mengangkat tanganya tinggi. Graciella meringkuk ingin mempertahankan dirinya.
Laura berjalan ke arah asramanya. Wajahnya sedikit tampak tidak senang. Pria di belalkangnya mengikutinya dengan senyuman merekah.
“Setelah aku sampai kau pulang ya!” kata Laura menunjuk ke arah pria di belakangnya. Pria itu hanya mengangguk setuju. Senyuman manisnya membaut Laura semakin memajukan mulutnya.
Laura mempercepat langkahnya. Pria ini memaksa untuk mengantarkan hingga ke asramanya. Padahal dia bukan anak-anak lagi. Perhatian Antony yang seperti ini yang Laura tidak suka. Masa dia selalu diperlakukan seperti anak kecil.
Laura mengerutkan dahinya melihat pintu asramanya terbuka. Apalagi dia mendengar suara teriakan dari dalamnya. Laura yakin itu suara Graciella. Mendengar itu dia segera berlari ke arah asramanya. Matanya membesar melihat Graciella yang ingin dipukul oleh Adrean.
Graciella dan Laura menunggu pukulan dari Adrean, tapi tidak merasakan apa-apa. Laura dan Graciella perlahan membuka matanya. Melihat tangan Adrean yang ditahan oleh Antony. Ternyata Antony sudah pasang badan di depan mereka.
“Malu lah! Laki-laki tidak sepatutnya main tangan pada wanita," suara Antony terdengar serius. Laura saja tak pernah mendengar suara Antony sebegitu seriusnya. Biasanya pria ini selalu ramah dan penuh senyuman.
Andrean melihat tajam pada Antony. “Lepaskan! Ini bukan urusanmu, Antony!”
“Ini menyangkut semua orang jika kau melakukan kekerasan pada wanita!” kata Antony dengan tajam memandang Adrean.
“Aku akan memanggilkan satpam jika kau ingin terus melakukan hal ini. Adrean! Kau pria brengs*k!” ujar Laura dari belakang Antony.
Adrean menarik tangannya. Dia melirik ke arah Graciella yang juga memandang dirinya. Matanya bergulir menatap tatapan tajam Antony. Dengan kesalnya dia segera melangkah keluar.
“Gracie! Kau tidak apa-apa?” tanya Laura melihat wajah Graciella yang tampak ketakutan.
“Tidak, aku tidak apa-apa," ujar Graciella, “Terima kasih.” Graciella melihat ke arah Antony.
“Sama-sama,” ujar Antony. Nada suaranya sudah kembali begitu ramah. “Apa kau butuh sesuatu?”
“Tidak,” jawab Graciella menyeka air matanya yang ternyata tetap saja keluar.
Laura hanya memandang pria itu. Tak menyangka Antony bisa bertindak begitu berani melawan Adrean. Dia pikir pria ini hanya bisa cengengesan dan tersenyum. Tidak tahunya dia bisa begitu serius. Sekilas terlihat jantan.
“Baiklah, apa tidak apa-apa jika aku meninggalkan kalian sekarang? atau kalian butuh pengawal? Aku akan minta beberapa pengawalku berjaga di sini,” ujar Antony. Matanya tak pernah lepas melihat Laura.
“Tidak perlu. Dia tidak akan berani lagi datang. Sudah kau pulang lah, tak perlu terlalu lama di sini," ujar Laura ketus. Antony sudah biasa diperlakukan seperti itu oleh Laura.
“Kuncilah pintu, berhati-hatilah.” Ingat Antony lagi.
“Iya, iya, ingat! Sudah pulanglah!” Laura mendorong tubuh Antony menuju pintu. Pria itu tersenyum senang melihat kelakukan Laura. Kesan cuek wanita ini yang dia suka. Satu-satunya wanita yang menolaknya bahkan dengan statusnya sebagai seorang anak wakil presiden.
“ Jangan lupa ….” Kata Antony.
“Iya, aku tidak akan lupa makan, tidak akan lupa minum, tidak akan lupa napas! sudah ah! bye!” ujar Laura lagi menutup pintunya kuat. Graciella jadi kaget. Dia tahu siapa Antony itu, tapi berani sekali Laura melakukan hal itu padanya.
“Kenapa?” tanya Laura.
“Kau galak sekali, aku jadi takut padamu,” ejek Graciella.
“Pada pria harus galak, kalau tidak mereka akan semena-mena. Gracie! Kita pindah ke apartemenku saja ya! di sana pasti penjagaannya lebih ketat dari pada di sini. Aku akan mengatakan pada penjaganya untuk tidak mengizinkan Adrean masuk! bagaimana?” tanya Laura yang sebenarnya was-was. Dia suka tinggal di asrama rumah sakit karena jika dia ingin bolos untuk tidur, tempatnya dekat.
Graciella hanya mengangguk pelan. Dia memegang tangannya yang masih panas. Dia sudah menampar Adrean. Entahlah, apa konsekuensi dari perbuatannya. Mungkin sebentar lagi pria itu akan menyusun rencana untuk membunuhnya.
****
Haloo kakak, ini 4 bab dulu ya.
Tapi kalau banyak Typo maafkan aku. Belum disortir semua. jadi Maaf ya kakak-kakak, aku akan perbaiki nanti.