Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 246. Bukan dari Adrean.


“Keadaan Nyonya baik-baik dan kandungannya juga begitu. Tidak ada masalah walaupun perutnya tegang dan terdapat sedikit perdarahan, yang menandakan hal yang tidak baik untuk kandungan. Hal ini mungkin disebabkan oleh stress dan juga Nyonya yang terlalu banyak melakukan gerakan-gerakan yang berlebihan. Tapi walau begitu, lebih baik untuk beristirahat dan mengurangi stresnya. Saya tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi jika nantinya Nyonya semakin stress, yang kita takutkan adalah terjadi hal yang terburuk dari semuanya bahwa Nyonya akan mengalami keguguran. Untuk itu saya harap Nyonya bisa dirawat beberapa hari di sini agar lebih banyak istirahat dan menguatkan kandungannya,” jelas dokter itu tentang keadaan Graciella yang segera dibawa oleh Xavier ke rumah sakit terdekat setelah dia mengeluhkan bahwa ada yang tidak beres dengan kandungannya.


Xavier mendengar itu mengangguk. Dia melirik ke arah Graciella yang hanya bertampang khawatir. Khawatir akan dimarahi oleh suaminya tentunya, walau dia tahu Xavier tidak pernah marah pada dirinya.


“Bolehkan istirahat hanya di rumah?” tanya Graciella. Di rawat di rumah sakit tentunya membuat dia tidak nyaman.


“Jika Anda bisa memastikan bahwa Anda hanya akan menghabiskan waktu untuk istirahat. Kami akan mengizinkannya,” jawab dokter itu.


“Tidak. Lebih baik di sini saja. Jika di rumah. Kau pastinya akan curi-curi untuk melakukan pekerjaan,” tegas Xavier seperti tidak boleh sama sekali dibantah. Mendengar itu Graciella hanya berwajah sedikit ngambek.


“Baiklah kalau begitu. Kami permisi dulu.” Dokter segera keluar dari ruang perawatan Graciella. Graciella hanya memandangi suaminya yang wajahnya sudah ketat dari tadi. Panik melihat keadaan Graciella yang dia temukan terduduk di sofa dengan memegangi perutnya.


“Suami, jangan begitu tegang,” rayu Graciella pada suaminya yang hanya memandangnya sekilas. Memilih untuk duduk tak jauh dari Graciella.


“Tidur lah, istirahat,” perintah Xavier. Kali ini nadanya sudah cukup bersahabat.


“Baiklah, aku akan tidur.”


“Sebelum itu, di mana ponselmu?”


“Eh? Aku tidak tahu. Mungkin di rumah.”


“Mulai sekarang kau tidak boleh memegang ponsel.”


“Ha?” Graciella tampak kaget mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Masa dia tidak boleh memegang ponselnya. “Sama sekali tidak boleh atau ada jamnya?” tanya Graciella.


“Sama sekali tidak boleh.”


“Tapi, semua pekerjaanku ada di sana.” Graciella merasa keberatan. Tidak mungkin dia tidak memegang ponselnya. Bagaimana jika ada kasus baru atau bagaimana jika Stevan atau Daren menemukan titik terang tentang kasus kematian ibunya.


“Tidak. Untuk saat ini hingga keadaanmu membaik. Kau tidak boleh memegang ponsel ataupun bekerja. Aku sudah mengatakan pada Daren bahwa untuk sementara kau kembali cuti.”


“Yah-, tapi ….” Graciella masih ingin menggoda suaminya. Tapi baru saja dia ingin melakukannya Xavier langsung memotong pembicaraannya.


“Tidak ada tapi. Dan aku tidak akan mengubah keputusanku. Graciella, lebih baik kau memikirkan keadaanmu dan anak kita. Adrean memang tidak melukai Moira. Tapi dia hampir saja membuat bayi kita celaka. Aku ingin kau menjaganya dengan baik. Karena saat ini aku belum bisa menjaga dia yang ada di dalam sana,” ujar Xavier dengan nada lebih lembut pada akhirnya.


Graciella yang tadinya ingin menggoda Xavier malah luluh dengan kata-kata Xavier yang baru saja terlontar dari mulutnya. Wajahnya dan sorot matanya yang penuh dengan perhatian dan juga kekhawatiran tentang dirinya benar-benar masuk ke dalam hati Graciella. Kalau begini, sepertinya Graciella yang tergoda oleh kata-kata Xavier.


“Baiklah. Aku akan istirahat.” Graciella menurunkan tubuhnya. Xavier berdiri dan membantu istrinya itu untuk merebahkan tubuhnya. Menarik selimut dan mencoba membuat istrinya nyaman ada di kamar rumah sakit itu.


“Aku akan keluar. Serin akan menggantikanku untuk sementara. Ada hal yang ingin aku lakukan. Jangan takut. Moira aman di sana dan aku juga sudah memberikan penjagaan berlapis di sini. Jadi tugasmu hanya beristirahat.” Xavier mengusap lembut batas dahi dan rambut Graciella. Graciella memandang wajah suaminya dengan matanya yang berbinar. Merasa begitu beruntung memiliki suami yang begitu menyayanginya. Dia hanya mengangguk mengerti.


“Hati-hati,” ucap Graciella saat suaminya mulai membuka pintu ruangannya. Xavier hanya melempar sedikit senyum tipisnya lalu segera keluar.


Graciella tentu saja tidak langsung bisa menutup matanya. Seseorang yang benar-benar tidak terbiasa tidur siang dan diminta untuk tidur siang tentunya akan kesusahan. Tapi mungkin karena bosan tidak melakukan apa-apa, akhirnya dia memutuskan untuk menutup saja matanya. Menunggu waktu hingga tiba-tiba saja dia sudah berpindah ke alam mimpi.


****


“Bagaimana keadaan Graciella? Aku dengar kau membawanya ke rumah sakit?” tanya Stevan langsung. Dia sibuk di kantornya  menunggu laporan para bawahannya.


“Keadaannya baik. Bagaimana dengan Adrean?” tanya Xavier. Dia langsung pergi ke sini untuk mengetahui di mana keberadaan pria pengecut itu. Bagaimana dia bisa hanya mengirimkan ancaman pada Graciella.


“Sialnya, kita terlambat. Dia sudah melarikan diri keluar dari wilayah kita. Terakhir kali terlihat dia menuju dermaga. Dan sekarang keberadaannya tidak diketahui sama sekali.” Stevan memasang wajahnya yang serius. Padahal dia sudah mengawasi pria itu selama lebih dari tiga bulan. Tapi karena Adrean berhasil mengecoh mereka dengan bertindak seolah tidak melakukan apa-apa dan bersikap biasa saja. Pengawasannya dilonggarkan. Apalagi mereka sedang sibuk dengan kasus yang lain.


Xavier hanya diam sambil menarik napasnya. Ke mana pria itu? Dia tak akan pernah bisa tidur dengan nyenyak sebelum mereka menangkap Adrean.


“Dan lagi, kami sudah melacak nomor ponsel yang mengirim pesan terakhir pada Graciella.”


Kata-kata Stevan membuat Xavier langsung menatapnya dengan tajam. Pesan itu yang membuat keadaan Graciella menjadi memburuk.


“Lalu?”


“Aku rasa itu bukan dari Adrean. Itu dari Devina. Sinyal terakhir yang didapatkan berasal dari sebuah cafe. Dan saat kami melihat CCTV-nya. Devina ada di sana sambil bermain ponselnya. Sepertinya dia tahu apa yang dilakukan oleh Adrean sebelumnya dan mengkopi cara itu untuk membuat Graciella menjadi panik.”


Xavier mendengar itu mengepalkan tangannya. Mau apa lagi wanita itu?


“Lalu di mana dia?” tanya Xavier. Ada guratan amarah yang muncul di matanya. Gara-gara ancaman wanita itu. Dia hampir saja kehilangan bayinya.


“Kami sudah menjemputnya. Dia sedang diamankan di ruangan interogasi. Tentu dia tidak mau mengakuinya. Dia juga tidak ingin berbicara sama sekali,” jelas Stevan dengan nada yang santai saja. Tidak menangkap wajah Xavier yang sedang marah.


“Aku ingin bertemu dengannya.”


“Eh? Bertemu?” tanya Stevan yang akhirnya menatap ke arah Xavier. Dia baru tahu emosi yang ditunjukan oleh Xavier. “Kau ingin apa?” Stevan merasa ragu mempertemukan Devina dengan Xavier. Walaupun dia tahu Xavier bukanlah orang yang akan bisa berlaku kasar dengan wanita. Tapi, entahlah. Sorot mata marah Xavier itu, membuatnya merasa begitu ragu.


“Aku hanya ingin memberikannya pelajaran agar tidak lagi mengusik Graciella. Dia ada di mana?”


****


Entar malam disambung lagi ya Akak-akak tersayang.