Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 158. Aku tidak tahu tentangnya.


Graciella menggenggam kedua tangannya yang terletak di atas dua kakinya. Dia menggigit bibirnya dengan cukup keras memandang lurus ke arah depan. Dia tampak sedikit gugup duduk menunggu di sebuah restoran dengan gaya taman.


Saat dia tiba di kota ini. Yang pertama kali dia lakukan adalah mencari cara untuk menghubungi Adrean. Untunglah, Stevan masih mau membantunya dan mencarikan nomor yang bisa dihubungi oleh Graciella. Graciella langsung menghubunginya dan pria itu tentu dengan senang hati menemuinya di restoran ini.


Graciella tentu tidak nekat untuk pergi sendiri. Walaupun pada saat terakhir bertemu dengan Adrean, kesan yang ditimbulkan pria itu adalah kesan yang baik. Tapi siapa yang bisa menebak apakah seseorang sudah berubah atau tidak kecuali dirinya sendiri. Stevan juga tak mengizinkan Graciella menemui Adrean tanpa pengamanan dari dirinya. Sebuah kamera dan juga mic khusus sudah diselipkan di tubuh Graciella. Walaupun awalnya Graciella menolak tapi Stevan memaksanya kalau tidak Stevan akan ikut dalam pembicaraan mereka. Dan tentunya akan merusak rencana Graciella. Mau tak mau dia mengikuti keinginan Stevan.


Graciella sekali lagi mengedarkan matanya ke sekeliling hingga matanya terpaut di dekat pintu masuk restoran itu. Graciella menahan napasnya melihat pria dengan setelan rapi jas berwarna krem dan celana yang berwarna senada. Masih sama, pria itu masih begitu menarik. Wajahnya yang tampan dengan gayanya yang selalu klimis dan rapi tentu membuat semua mata langsung terhenti padanya. Pria itu langsung menemukan Graciella. Bibirnya yang awalnya lurus perlahan melengkung senada dengan langkah kakinya yang mendekat ke arah Graciella yang mencoba menarik napasnya. Seberapa menariknya pun Adrean terlihat bagi semua wanita-wanita di restoran itu, tapi bagi Graciella, pria ini hanya membangkitkan kenangan kelamnya.


“Maaf, apa sudah lama menunggu?” ujar Adrean yang segera duduk di depan Graciella bahkan untuk membalas senyumnya saja susah. Nada ramah Adrean itu terasa begitu aneh bagi Graciella.


“Tidak, aku tidak mengunggu lama,” ujar Graciella yang langsung menutupi sikap kakunya dengan menyeruput minumannya. Graciella! Kau harus bisa tenang! Kata Graciella dalam hati. Tentu saja, saat ini perasaannya bagai seorang yang takut terhadap ular tapi harus menghadapi ular itu di depan matanya.


Adrean melihat Graciella yang tampak enggan untuk menatap dirinya. Tapi bagaimana pun dia merasa sungguh senang ketika Graciella menghubunginya. Bahkan sekarang ada di depannya. Adrean mengulas sebuah senyuman manis.


Dia benar-benar tak habis pikir dengan perputaran roda dunia ini. Dulu, sosok wanita di depannya ini begitu mencintainya. Rela melakukan apa pun untuknya dan menerima bagaimana pun dia memperlakukannya, tapi saat itu Adrean hanya ingin mempermainkannya dan menyiksanya. Sekarang, semua berbalik. Saat Adrean sadar bahwa dia ternyata begitu mencintai wanita ini, wanita ini bahkan tak mau lagi menatap dirinya.


“Kenapa? Kenapa kau tiba-tiba menghubungiku?” tanya Adrean setelah dia menyerahkan pesanan makan siangnya pada pelayan yang langsung melayaninya.


“Ehm, ya, aku tidak tahu tapi aku memimpikanmu beberapa hari ini,” ujar Graciella menggigit bibirnya, mau tak mau dia harus melihat pria yang sedang memandang sendu padanya.


Adrean sedikit membesarkan matanya, sedikit kaget dengan apa yang dikatakan oleh Graciella. Tapi mendengar itu, rasa senangnya muncul. “Kau memimpikan aku?”


“Ya, karena itu aku harus bertanya padamu tetang hal ini. Aku cukup dihantui tanda tanya karena mimpi ini,” ujar Graciella dengan wajahnya yang tampak kebingungan. Adrean langsung mengerutkan dahinya.


“Tentang apa?” tanya Adrean penasaran. Kenapa wajah Graciella juga tampak ketakutan.


Graciella memandang Adrean dengan sangat serius, membuat pria itu semakin mengerutkan bagian dari kedua alisnya. “Tentang seorang gadis kecil.”


“Awalnya aku bermimpi tentang dirimu yang menyerahkan sebuah guci kremasi padaku, tapi entah bagaimana aku mendengar suara anak perempuan yang memanggilku mama,” ujar Graciella yang semakin membuat Adrean tampak gusar.


“Aku berpikir mungkin saja itu hanya bunga mimpi, tapi mimpi itu terus berulang, beberapa kali aku memimpikan sosok seorang anak perempuan berusia dua atau tiga tahun dan dia selalu memanggilku mama. Dan juga, kau selalu ada di dalam mimpiku itu.” Graciella mencoba untuk mendramatisir apa yang dia alami. Melihat reaksi dari Adrean saja dia semakin yakin pria itu mulai terarah menuju kasus Moira.


Adrean mendengar itu hanya diam, dia lebih menjauhkan tubuhnya dari Graciella yang sekarang semakin mencondongkan tubuhnya, tanda dia mendesak Adrean. Adrean hingga menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Berulang kali dia memainkan mulutnya juga mencolek hidungnya, tanda dia tidak tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Graciella.


“Lalu, hanya karena itu kau menghubungiku,” ujar Adrean.


“Aku hanya ingin tahu, siapa anak perempuan itu? lalu kenapa kau selalu muncul setelahnya? Aku benar-benar ingin tahu. Tapi semua orang terdekatku selalu menutupi semua hal itu dariku! aku sungguh frustasi dan akhirnya memutuskan untuk menghubungi mu. Aku yakin kau tahu bagaimana bisa ini terjadi!” ujar Graciella kembali memainkan perannya. Dia harus menyakinkan Adrean bahwa dia tidak tahu apa-apa dan orang sekitarnya pun tak mau membantunya.


Adrean menatap Graciella dengan tatapan menganalisa. Dia menggosok bibirnya dengan jari telunjuknya. Dia memang mendengar kabar tentang keadaan Graciella yang kehilangan memorinya. Dia bisa hidup begini karena dia tidak ingat tentang Xavier maupun Moira. Tapi, Daren  dan Stevan terus saja menjauhkannya dari Graciella. Puncaknya mereka mengirim wanita ini ke Amerika. Adrean berulang kali menemuinya tapi wanita ini sama sekali tidak ingin bertemu dengannya. Saat ini dia ada di depannya, memandang Adrean secara langsung. Tapi sekarang Adrean yang merasa tidak ingin berbicara dengan Graciella.


“Aku tidak tahu,” ujar Adrean ogah-ogahan.


Graciella mencoba berwajah kecewa. Dia memang yakin bahwa tak mungkin semudah itu pria ini membongkar hal tentang Moira. Dia harus terus mendesak pria ini, dia juga tidak yakin sampai kapan Adrean baru bisa mengungkapkan hal itu.


“Adrean, aku hanya pernah melahirkan sekali. Dan anak itu ….”


“Bukannya aku sudah mengatakannya padamu, dia sudah tidak ada lagi!" ujar Adrean sedikit kesal. Graciella segera memipihkan bibirnya dan sedikit menunduk. Adrean melihat wajah kecewa Graciella hanya menjadi merasa bersalah. Dia sudah bersumpah untuk tidak meninggikan suaranya di depan Graciella. Tapi hal ini membuatnya menjadi bingung. Dia tidak ingin mengatakan apa pun tentang Moira, dia takut ketika Graciella ingat tentang Moira, ingatannya tentang Xavier pun akan kembali.


Graciella meletakkan rambut yang menutupi bekas lukanya ke balik telinganya. Menunjukkan bekas luka yang cukup nyata terlihat. Adrean yang melihat itu semakin terdiam. Dalam tatapan matanya terlihat kemirisan dan rasa sakit itu langsung muncul begitu saja. Kakeknyalah yang sudah menorehkan tanda itu pada Graciella.


Tiba-tiba saja dia ingat bagaimana tatapan kosong Graciella yang berada di pinggir sungai itu. Matanya penuh kesedihan yang begitu mendalam hingga membuat Adrean ingin menggantikan posisinya. Dia ingat bagaimana dia berusaha menggapai Graciella yang ada di dalam air, mencoba untuk menyelamatkan Graciella bahkan tak memikirkan dirinya sendiri. Ketakutan akan kehilangan Graciella adalah perasaan paling buruk yang paling pernah dia rasakan. Karena itu dia tidak ingin Graciella kembali ke fase itu. Dia berjanji akan melakukan apa pun yang diminta oleh Graciella, tapi ….