Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 259. Jangan Cemas, aku sudah menanganinya.


Graciella menyipitkan matanya melihat ke arah lautan yang luas. Semuanya masih tampak gelap dan tapi mulai bergelombang. Cahaya bulan mulai memudar bersamaan dengan awan yang terlihat. Anginnya pun semakin lama semakin dingin menusuk. Membuat pori-pori di tubuh Graciella menciut.


Dia menarik selimut yang menggulung dirinya. Walau begitu angin laut masih saja menerbangkannya. Graciella sekali melihat beberapa orang tentara yang dibawa oleh Xavier sedang mengumpulkan kaki tangan Adrean.


Saat dia bersembunyi di lemari tadi. Dia mendengar ketukan yang sama seperti yang dilakukan oleh Xavier. Dia membuka lemari itu segera. Awalnya sangat berharap bahwa itu adalah Xavier. Tapi ternyata bukan. Pria itu hanya salah satu bawahannya.


Mereka menjelaskan bahwa Xavier sedang membawa Adrean menuju ke zona kedaulatan negara mereka agar Adrean dapat ditahan oleh pihak berwajib. Hal itu bukannya membuatnya tenang malah membuatnya semakin cemas. Karena itu, sekarang Graciella hanya bisa menunggu pria itu datang dengan perasaan menanti dan harap-harap cemas.


Graciella menggigit bibirnya pelan. Matanya membesar ketika melihat sesuatu yang mendekat ke arah mereka. Graciella menahan napasnya, berharap itu adalah Xavier.


“Mereka kembali?” ujar Graciella mencoba untuk memberitahu tentara-tentara yang ada bersamanya.


Salah satu dari mereka yang mendengar itu langsung mengambil teropong. Mencoba untuk melihat lebih dekat siapa kiranya yang sedang mendekati mereka. Graciella menggigit bibirnya lebih kuat. Berharap itu benar-benar suaminya.


“Jenderal Xavier sudah kembali,” lapor tentara itu pada Graciella yang langsung berwajah sumringah.


Graciella berjalan lebih dekat ke arah tepi kapal itu. Jika dia bisa, dia bahkan ingin lebih dekat lagi. Perlahan speedboat itu mulai tampak. Mata Graciella cemerlang melihat siluet Xavier yang berdiri melihat ke arahnya.


Xavier melihat jauh sosok wanita yang sedang menunggunya di tepi kapal. Dia menaikkan satu sudut bibirnya ketika melihat wajah cantik itu semakin jelas. Dia menarik napasnya panjang, dan karenanya nyeri di bahunya, kembali berdenyut. Xavier mencoba untuk menahannya. Tak ingin menunjukkan wajah kesakitannya dan membuat wanita yang sekarang tersenyum cerah itu menjadi cemas.


Graciella rasanya ingin melompat ke arah speedboat yang hampir merapat dan berhenti di dekat mereka. Tapi dia masih ingat bagaimana keadaannya sekarang. Karena itu dia mencoba bersabar sedikit. Ya, sedikit lagi, pria itu akan bisa dia peluk kembali.


Xavier tidak mengambil waktu lama. Dia segera melompat ke kapal milik Adrean. Begitu dia menjejakkan kakinya. Pelukan hangat itu kembali dia rasakan. Graciella yang begitu senang bisa melihat suaminya kembali. Tanpa pikir panjang langsung saja memeluknya erat. Dia sangat khawatir apa yang akan terjadi pada Xavier. Karena dia tahu Adrean orang yang sangat licik dan berbahaya.


“Bagaimana keadaanmu?” Graciella benar-bener erat memeluk Xavier. Banyak hal yang terjadi di dalam kepalanya selama dia menunggu. Baik di dalam lemari maupun di atas kapal ini. Mendengar suara tembakan di dalam sana. Membuatnya hampir saja ingin meloncat keluar dan melihat keadaan. Apakah Xavier baik-baik saja?


“Eh!” suara ringisan itu terdengar. Xavier bukannya tidak suka Graciella memeluknya begitu erat. Tapi tekanan dari Graciella membuat luka tembak di bahunya itu kembali terasa linu dan nyeri. Dia juga manusia dan tetap bisa merasakan sakit yang cukup menyesakkannya.


“Ada apa?” tanya Graciella yang belum sadar keadaan Xavier. Warna darah itu tidak terlihat karena pakaian Xavier yang berwarna hitam.


Saat Graciella melihat wajah Xavier yang kesakitan. Dia akhirnya sadar ada luka di bahu Xavier yang mengeluarkan darah merah kehitaman. Wajah Graciella langsung berubah sangat khawatir.


Semua tentara yang ada di sana langsung sigap. Tapi mereka tidak mengenal kapal ini sehingga mereka harus mencari di mana kotak P3k dari kapal ini. Sedangkan kasa yang ada di speedboat sudah habis digunakan oleh Xavier sebelumnya.


“Nyalakan mesinnya. Kita ke kapal utama sekarang. Katakan pada mereka untuk menyiapkan peralatan medis. Siapkan helikopter juga!” teriak Sebastian yang segera mengambil alih kepemimpinan tim ini.


“Siap!” jawab mereka serempak. Sebagian segera bersiap untuk menyalakan kapal itu untuk menuju ke kapal utama, sebagian lagi mencoba mencari kotak P3K-nya.


“Duduklah dulu,” ujar Graciella memapah tubuh Xavier. Sebenarnya dia hanya menuntun Xavier menuju ke salah satu tempat duduk yang ada di sana karena ketimpangan tinggi badan mereka. Xavier langsung duduk. Bibirnya mulai memucat karena menahan sakitnya.


Tentu melihat hal itu Graciella semakin cemas. Suaminya memang tidak mengerang atau pun meringis untuk menunjukkan rasa sakitnya. Tapi melihat wajahnya yang pucat dan juga matanya yang hanya menutup saja, dia tahu pria ini berusaha sekali tidak menunjukkannya walau sakitnya luar biasa. Darah masih saja keluar dan mulai mengental, terserap baju memyelam Xavier.


Graciella yang ingat tentang selimut yang dia jatuhkan saat melangkah lebih dekat ke arah Xavier tadi. Dengan cepat dia langsung mengambil selimut itu dan membawanya ke arah Xavier. Tak ada kasa, dia rasa selimut ini pun jadi. Yang penting perdarahannya harus dihentikan.


“Tahan ya, aku akan menekannya,” pinta Graciella yang langsung menekan luka Xavier dengan sekuat yang dia bisa. Hal itu membuat Xavier langsung mengerang kesakitan.


“Nyonya, aku rasa pelurunya masih ada di dalam sana. Tidak ada luka tembus di bagian belakang,” ujar Sebastian yang juga cemas melihat keadaan Xavier. Dia tahu kemungkinan besar itu tidak berbahaya. Tapi orang juga bisa meninggal karena kehabisan darah dan rasa nyeri yang sangat.


“Tapi aku harus menekannya. Lagipula itu hal yang bagus. Jika peluru itu masih di dalam, dia juga bekerja sebagai penahan pendarahan. Kita tidak boleh mengeluarkannya sekarang. Aku rasa kita benar-benar butuh helikopter segera,” ujar Graciella yang benar-benar panik walaupun Xavier sudah mulai tenang kembali. Rasa sakitnya hanya saat awal Graciella menekan luka itu.


“Baik Nyonya!”


"Jangan khawatir! aku sudah menangani Adrean," ujar Xavier seperti memberikan laporan pada Graciella.


*Bagaimana tidak khawatir dengan keadaanmu ini? soal dia! nanti kita bicarakan!" Greciella tampak sedikit ketus menjawabnya. Tapi Xavier tahu itu semua hanya kerana Greciella begitu khawatir dengan keadaannya.


Kapal yang mereka tumpangi akhirnya mencapai kapal utama. Sebuah helikopter pun tak lama datang untuk menjemput Xavier. Dengan membaringkan tubuh Xavier di atas tandu. Mereka menaikkannya ke atas helikopter.


Graciella pun segera naik ke atas helikopter yang baling-balingnya membuat permukaan lautan bergelombang. Helikopter itu tidak bisa mendarat di atas kapal itu hingga harus melayang sedekat mungkin. Arnold dan Sebastian sebisa mungkin membantu Graciella untuk naik ke atas helikopter dan untunglah dia dengan mudah bisa menaikinya.  Helikopter mereka langsung mengudara begitu semuanya siap.


Graciella memegang tangan Xavier dengan sangat erat. Remang cahaya rembulan yang masuk di antara jendela helikopter itu menerangi wajah Xavier. Dia membuka matanya dan melihat wajah istrinya yang kembali terlihat tegang dan cemas. Graciella hanya bisa menggigit bibirnya untuk meredakan kecemasannya.