
Xavier keluar dari kamarnya menemukan istrinya sudah sibuk di dapur. Graciella memang sudah berkutat dengan masakan untuk sarapan mereka pagi ini.
“Selamat pagi, baru bangun?” tanya Graciella melihat suaminya yang baru keluar dari kamar mereka. Melihat pria itu sudah berganti pakaian dengan pakaian untuk berolah raga.
“Ya,” jawab Xavier seadanya dengan menaikkan satu sudut bibirnya.
Pemandangan Graciella yang memasak di dapur itu membuatnya senang. Persis sekali dengan apa yang pernah dia bayangkan. Dia mendekati Graciella. Mencium bau masakan yang menggoda perutnya untuk segera makan. Tapi seperti kebiasannya, dia harus berolahraga dulu baru nantinya mengisi perutnya. Jika tidak perutnya bisa keram.
“Makannya akan segera selesai. Tapi tidak terlalu banyak. Sepertinya aku harus belanja,” ujar Graciella yang melihat isi kulkas Xavier yang nyaris kosong. Sebenarnya, tempat tinggal Xavier sekarang benar-benar kosong. Tidak punya banyak perabotan. Tempat ini benar-benar seperti tempat seorang pria lajang.
“Baiklah, nanti sore setelah aku menyelesaikan pekerjaanku. Kita akan pergi berbelanja.”
“Ya. Eum, hari ini aku ingin pergi ke kantor ya? Boleh?”
“Hmm. Aku akan mengantarmu.”
“Jika sibuk tidak apa-apa. Aku bisa pergi sendiri ke sana,” kata Graciella. Walau meninggalkan pekerjaannya selama dua hari tapi dia mengerti bahwa Xavier pasti sangat sibuk, jadi lebih baik dia pergi sendirian.
“Aku bisa mengantarmu. Nanti aku akan meminta Serin untuk menjagamu di sana,” ujar Xavier lagi mengambil sepatu untuk berlarinya.
“Baiklah,” jawab Graceilla yang tidak bisa menolak perkataan dari suaminya.
“Aku akan berlari beberapa putaran. Setelah itu baru sarapan. Jika kau lapar, makanlah duluan,” ujar Xavier menyelesaikan menggunakan sepatunya.
“Baiklah. Tidak, aku akan menunggumu sarapan,” ujar Graceilla dengan senyumannya. Xavier yang baru selesai langsung berdiri dan mengangguk mengerti. Dia segera mendekati Graciella dan mencium kepala istrinya sebelum di pergi meninggalkan Graciella.
Graceilla menyiapkan telur tomat, bubur ayam dengan jahe dan sedikit pangsit yang dia temukan di kulkas Xavier. Setelah makanannya siap, Graciella sedikit mengintip ke arah luar rumahnya. Melihat Xavier yang masih berlari berputar mengelilingi lapangan yang tepat ada di depan rumah itu. Beberapa orang bawahannya juga mengikuti Xavier melakukan olah raga pagi.
Graciella merasa dia masih punya waktu untuk membersihkan dirinya. Setelah memasak dia merasa wajahnya lengket dan juga bau masakan tadi menempel di tubuhnya. Dia segera masuk ke dalam kamar dan segera mandi. Saat dia keluar hanya dengan balutan handuknya. Graciella langsung ingat, bukannya dia tidak punya baju yang bisa digunakannya untuk bekerja. Masa dia harus menggunakan gaun untuk bekerja hari ini.
Walaupun Daren tidak pernah masalah apa yang ingin digunakan oleh Graciella. Tapi rasanya bekerja dengan gaun akan sangat merepotkan. Apalagi jika tiba-tiba nantinya dia harus langsung ke tempat kejadian perkara. Bukannya akan terlihat salah kostum.
Saat dia mencoba untuk mencari pakaian yang cocok dia gunakan. Pintu kamar itu terbuka dan memunculkan sosok Xavier yang sudah tampak basah karena keringat. Tentu hal itu membuat Graciella kaget. Belum terbiasa ketika ada orang yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar saat dia baru saja mandi. Bodohnya, kenapa dia juga tidak mengunci pintunya?
“Eh, lain kali ketuklah pintu dulu,” ujar Graceilla yang langsung berdiri karena kedatangan Xavier.
“Baiklah, aku akan membiasakannya,” ujar Xavier yang walaupun merasa tidak ada masalah dia masuk seenaknya. Toh Graciella adalah istrinya tapi mungkin Graciella merasa tidak nyaman. Jadi dia akan mengikuti kemauan istrinya kembali.
“Aku rasa aku harus kembali ke rumah kak Daren dulu. Aku tidak punya baju untuk bekerja,” ujar Graciella melihat ke arah kopernya kembali.
“Baju dan keperluanmu dari rumah Daren sudah dipindahkan semuanya ke sini. Semua sudah ada di lemari. Kau boleh melihatnya.” Ujar Xavier menunjuk ke salah satu lemari yang ada di sana.
“Benarkah?” tanya Graciella tidak percaya. Tapi begitu dia membuka pintu lemari itu dia kaget melihat bajunya juga beberapa peralatan dan keperluannya sudah ada di sana. Wah, cepat juga Xavier memindahkan semuanya keperluannya.
“Baiklah,” ujar Graciela dengan senyuman lalu mengambil lotion tubuhnya. Melihat suaminya hanya mengangguk dan berjalan ke arah kamar mandi.
Graciella segera memakai pakaian kerjanya. Sebuah polo shirt dan juga celana kerja. Dia lalu ingin mengambil bedak yang ada di dalam sebuah tas. Saat dia membuka tas itu, dia melihat sekotak pembalut.
Graciella mengerutkan dahinya. Baru sadar bahwa kenapa dia tidak datang bulan? Graciella langsung melihat ke arah ponselnya yang masih tersimpan rapi di tasnya. Tidak digunakan selama mereka berlibur karena memang tidak dapat digunakan diluar negeri. Ponselnya juga mati, dia harus menambah dayanya dahulu.
Graciella langsung mencari ke seketar kamarnya. Apakah ada kalender atau bagaimana? tapi tidak ada satu pun barang itu di sana. Dia lupa, sudah berapa hari dia telat haid? Graciella termenung sejenak memikirkannya. Semua tentang Moira dan pernikahan ini membuatnya melupakan hal itu.
Xavier keluar dari kamar mandi dan melihat istrinya yang sedang termenung di pingir ranjang mereka. Tentu hal itu membuat Xavier mengerutkan dahinya.
“Ada apa?” tanya Xavier yang mengambil pakiannya di lemari paling pojok. Lemari empat pintunya sudah dipenuhi keperluan Graciella hingga miliknya hanya tinggal satu pintu saja.
“Tanggal berapa ini?” tanya Graciella.
“Tanggal 27,” ujar Xavier mengenakan pakaian lorengnya.
“Oh,” ujar Graciella. Dia menggigit bibirnya. Dia sudah telat lebih tujuh hari.
“Ada apa?” tanya Xavier lagi. Melihat Graciella yang kembali tampak berpikir.
“Tidak apa-apa,” jawab Graciella yang langsung berdiri dan meletakkan pembalut itu ke dalam lemarinya. “Aku akan memanaskan sedikit masakannya ya, cepatlah keluar untuk sarapan.”
“Ya,” ujar Xavier yang mengangguk pelan. Sedikit bingung tapi tidak ingin bertanya lebih lanjut.
Xavier langsung keluar dan melihat ke arah Graciella yang sudah menyusun makanan di meja makan mereka. Xavier langsung duduk dan segera dan segera sarapan, setelah itu dia bersiap-siap untuk mengantar Graciella ke kantornya.
“Di sini saja. Ingin masuk?” tanya Graciella yang langsung di antarkan tepat di depan kantornya. Daren yang sudah diberitahu bahwa Graciella akan datang ke sana hari ini langsung menjemput adik angkatnya itu.
“Aku harus segera kembali ke markas. Ada hal penting yang harus aku lakukan. Serin akan datang sebentar lagi. Dia akan menjagamu, jika butuh apa-apa kau boleh meminta padanya,” ujar Xavier yang sedikit tenang melihat Daren langsung menjemput Graciella.
“Iya, iya, boleh kirimkan aku nomornya. Jaga-jaga saat aku butuh aku bisa langsung meneleponnya,” ujar Graciella.
“Iya, aku akan mengirimkannya.”
“Baiklah, aku turun dulu.” Graceilla segera turun dari mobilnya dan segera di sambut oleh Daren. “Kakak,” salam Graceilla.
“Wajah orang yang baru menikah memang berbeda ya. Lebih berbinar. Xavier, tidak turun dulu,” ujar Daren dengan wajahnya yang berhiaskan senyuman khasnya.
“Tidak. Ada yang harus aku kerjakan sekarang. Aku pergi dulu,” ujar Xavier dengan nada datarnya.
“Baiklah,” ujar Daren yang cukup biasa dengan nada datar Xavier terhadap dirinya. Tak lama Xavier langsung melajukan mobilnya dan Graciella langsung masuk bersama dengan Daren ke dalam kantor mereka.