
“Stevan. Jangan begitu,” tegur Xavier langsung.
Stevan tergelak. “Aku hanya bercanda padamu Nona …?” tanya Stevan mengangkat satu alisnya.
“Laura, Laura Chang,” ujar Laura sedikit dengan nada datar.
“Laura Chang? Ehm …,” ujar Stevan seraya mengulik ingatannya. Dia sering bertemu wanita cantik. Mungkin saja dia pernah bertemu dengan Laura yang menurutnya cukup menarik.
“Dia adalah calon tunangan Antony,” ujar Graciella langsung. Laura segera membesarkan matanya melihat sahabatnya itu. Graciella hanya tersenyum tipis. Biasanya dia yang selalu menggoda Graciella, sekarang waktunya Graciella menggoda Laura.
“Antony? Antony Lim?” tanya Stevan dengan nada sedikit tidak percaya.
“Aku masih belum setuju menikah dengannya. Graciella, kau jangan asal menyebarkan gosip,” ujar Laura kesal. Kenapa kemana-mana nama pria itu selalu melekat padanya.
“Wow! Aku mundur! Tidak mungkin bersaing dengan Antony. Hahaha!”
“Kau juga tidak masuk ke dalam tipeku!”
“Benarkah? Kau hanya belum mengenalku lebih dalam. Jika kau sudah, kau bahkan tak bisa lari dariku,” ujar Stevan dengan tatapan mautnya mengarah ke Laura yang tampak kembali terperanjat. Namun Laura langsung memasang wajah tak bermintanya, membuat Stevan kaget, baru kali ini ada wanita yang langsung tak terpikat walau dia sudah mengeluarkan jurusnya. Wanita yang cukup menantang.
“Baiklah, aku sepertinya tidak bisa lama-lama di sini. Aku punya tugas khusus dari Letnan Jenderal Xavier, jika aku tidak melakukannya, dia akan marah padaku, mungkin akan membunuhku,” ujar Stevan menepuk pundak Xavier.
Xavier menyipitkan matanya melihat ke arah Stevan. Tapi pria itu tampak biasa saja. Dia lalu berdiri dan sedikit memberikan gestur untuk pamit, “Nona Graciella, tunggu aku pulang ya, aku akan membawa kabar baik untukmu,” ujar Stevan lagi dengan senyumannya yang mengembang sempurna. Graciella hanya tersenyum bingung untuk menanggapi perkataan Stevan. Tapi dia juga sedikit penasaran. Kabar baik apa?
“Pergilah, jika memang ingin pergi,” ujar Xavier yang merasa cukup terganggu dengan kehadiran dari Stevan. Apalagi dia mengatakan hal yang seharusnya Graciella tidak tahu.
“Galak sekali. Nona Graciella, pertimbangkanlah bersamaku. Aku tak akan galak seperti pria ini! Kau tidak ingin mengantarku keluar Nona Graciella?” tanya Stevan lagi.
“Kau benar-benar cari mati ya Stevan!” Xavier mulai kehabisan kesabaran dengan temannya yang aneh ini.
“Nona Graciella, aku kabur dulu. Pacarmu sebentar lagi akan berubah menjadi super saiya! Sudah ah! Aku pergi! Nona Graciella doakan aku berhasil! Nona Laura! semoga kita bertemu lagi!” Stevan akhirnya melangkah pergi juga dari ruangan itu.
“Dari mana kalian bisa bertemu pria seaneh itu?” ujar Laura yang menatap kepergian Stevan dengan wajahnya yang tidak suka.
“Dia sahabat Xavier,” ujar Graciella.
“Benarkah? Bagaimana bisa? Aku jadi merasa Antony lebih baik dari pria seperti itu. Aku ingin tahu wanita seperti apa yang mau dengannya."
“Dia adalah cinta pertama Sarah Wu dan Natalia West,” kata Xavier lagi. Bagaimana pun Stevan adalah sahabatnya. Dia harus membelanya sedikit. Walaupun sebenarnya apa yang dikatakan oleh Laura ada benarnya. Stevan hanya terlalu suka bercanda.
“Kau serius? Sarah Wu, mantan anak perdana menteri yang sekarang menjadi salah satu artis itu? Dan bukannya Natalia West itu model yang berdarah campuran itu bukan?” ujar Laura kaget. Xavier apa sedang bercanda? Tapi orang seperti Xavier bukanlah orang yang suka bercanda.
“Aku tak akan percaya kalau bukan kau yang mengatakannya. Pria begitu punya pacarnya wanita-wanita terkenal dan berkelas semua, dia pakai pemikat apa ya?” ujar Laura lagi masih tak percaya. Geleng-geleng kepala sambil meminum sedikit supnya.
Graciella hanya bisa tersenyum kecil. Laura berbicara seperti itu tapi dia tidak berkaca. Padahal sifat mereka hampir sama. Xavier hanya diam melanjutkan makanannya.
*******
"Komandan! semua sudah selesai!" lapor seseorang pada Stevan yang baru saja mengganti baju dinasnya dengan setelan jas fit body berwarna maron. Dia menarik pinggiran jasnya membuatnya sangat rapi. Sangat tampan tentunya.
"Baiklah, kalau begitu kita bisa mulai sekarang." Stevan segera keluar. Dia menggunakan kaca mata hitamnya agar pergerakan matanya tak terlihat. Stevan menaikkan sudut bibirnya ketika melihat Sarah yang baru saja keluar dari sebuah Mall terkenal di kota itu. "Eksekusi sekarang."
Stevan berjalan dengan gayanya yang sangat percaya diri. di ujung jalan yang cukup panjang itu, Stevan melihat Sarah yang berjalan mengarah ke arahnya. Tiba-tiba saja muncul seseorang yang langsung menyambar tas milik Sarah. Stevan menaikkan bibirnya. Tentu saja itu adalah bawahannya yang langsung mengarah ke arahnya.
"Tolong!" teriak Sarah yang semakin lama semakin jelas Stevan dengar.
Stevan membuka kacamatanya. Begitu penjambret itu mendekati dirinya. Stevan langsung beraksi berpura-pura berkelahi dengan Jambret itu. Stevan membuatnya seolah-olah itu adalah pertarungan yang sengit. Dia juga sesekali melihat ke arah Sarah yang tampak cemas mendekati mereka.
"Pukul aku!" bisik Stevan memberikan perintah.
"Tapi komandan?" anak buah Stevan tampak ragu. Mana berani dia memukul seorang Irjen polisi.
"Pukul saja lalu lepaskan tasnya. Cepat!"
Pria itu masih tampak ragu. Tapi atasannya sendiri yang memintanya. Wajah Stevan pun lagi-lagi membuat gestur untuk dia memukul. Dan tanpa pikir panjang. Pria itu memukul wajah Stevan hingga membuat Stevan tersungkur jatuh sambil memegangi tas milik Sarah. Pria yang berlakon menjadi penjambret itu langsung lari ketika melihat Sarah datang.
"Ha! aduh! ala kau tidak apa-apa? apa kau baik-baik saja?" tanya Sarah yang dari tadi kesusahan berjalan cepat karna sepatu hak tingginya. Dia langsung berjongkok di dekat Stevan. Stevan langsung melihatnya. "Stevan?"
Stevan nyengir sambil memegangi bibirnya yang sedikit pecah ujungnya. Tak menyangka bawahannya memukulnya dengan sekuat tenaga, di wajah pula. Sepertinya dia memang punya dendam terpendam pada Stevan.
"Lain kali hati-hatilah," ujar Stevan mencoba bangkit. Sarah membantunya untuk berdiri. Stevan mencoba untuk membersihkan celana dan jasnya yang sedikit kotor. "Ini tas mu."
Sarah mengambil tas putihnya, lalu melihat wajah Stevan yang memerah berbentuk pukulan. Stevan menggoyangkan rahangnya. Nyerinya masih terasa.
"Terima kasih sudah membantuku." Sarah tampak segan.
"Baiklah, aku tidak akan menganggumu." Stevan yang segera ingin berpaling, tapi dia sedikit meringis dibuat-buat untuk menunjukkan seberapa sakitnya pukulan penjambret itu.
Sarah mengerutkan dahinya dan memunculkan wajah kasihan dan sungkannya. Semarah apapun dia dengan Stevan yang dulu pernah mematahkan hatinya sepihak. Dia tak akan tega membiarkan pria itu pergi begitu saja.
"Stevan! apa bisa kita minum bersama?" tanya Sarah. Stevan yang sudah membelakangi Sarah berkedok ingin pergi langsung menaikkan sudut bibirnya yang langsung terasa nyeri. Benar-benar ini! bawahannya pasti punya dendam kusumat pada Stevan.