
Perawat itu awalnya ingin menyuntikkan obat pelemas otot yang sama seperti yang dia berikan pada Serin. Tapi melihat Graciella yang tertidur pulas membuatnya mengurungkan niatnya.
Perawat itu segera mengambil sapu tangan dan memberikan chloroform pada sapu tangan itu. Sejujurnya dia tidak suka menggunakan obat pelemas otot itu. Efek sampingnya terlalu berbahaya.
Dia langsung membekapkan sapu tangan ke mulut dan juga hidung wanita itu. Tentu saja wanita yang ditugaskan untuk dia culik ini berontak seketika. Tapi dia terus membekapnya hingga wanita itu tampak lemas dan tak sadarkan diri. Pekerjaan yang sangat mudah dengan upah yang lumayan.
Graciella tentu kaget saat tiba-tiba ada yang menghalangi jalan napas dan menekan hidung dan juga mulutnya. Dia hanya melihat dengan samar wajah wanita yang membekapnya dengan kedua tangannya. Seolah memastikan bahwa dia tidak boleh sama sekali lepas.
Graciella bisa mencium bau khas yang kuat dari sapu tangan itu. Dia tahu bahwa sapu tangan itu pastilah sudah diberikan semacam obat bius agar dia kehilangan kesadarannya. Graciella juga tahu bahwa dia harus bisa bertahan untuk tidak menghirup bau itu. Tapi karena pertahan tubuhnya yang relfeks berontak. membuatnya tidak bisa menahan napasnya lebih lama. Mau tak mau dari pada mati karena kehabisan oksigen. Graciella menghirup bau menyengat itu masuk ke dalam tubuhnya. Perlahan-lahan membuatnya mulai pusing dan pandangannya mengabur. Beberapa detik kemudian dia merasakan ngantuk yang amat sangat. Dan selanjutnya dia sudah tidak ingat apapun.
Wanita itu melepas sapu tangan dari wajah Graciella. Melihat kedua orang yang sudah tergeletak lemas. Agar tidak menimbulkan curiga sebelum dia bisa membawa wanita ini pada yang memesannya. Dia harus membuat wanita yang tadi menginterogasinya terlihat sedang tidur seperti biasanya.
Dia menarik tubuh Serin yang baginya cukup berat. Mungkin karena wanita ini sering berolahraga. Terlihat dari tubuhnya yang tampak terbentuk. Untung saja dia juga rajin berolahraga hingga menyeret tubuh Serin bukanlah masalah berarti baginya.
Setelah memposisikan Serin di atas sofa dan menggunakan selimut seolah-olah wanita itu sedang tidur siang. Dia lalu melihat ke arah Graciella. Dia harus menurunkan wanita itu dari ranjang dan membuatnya duduk di kursi roda.
Dia memandang tubuh Graciella. Wanita ini seperti wanita normal biasanya. Tapi kalau dia tidak salah dengar bahwa wanita ini sedang mengandung. Dia mengerutkan bibirnya. Sebuah pekerjaan ekstra untuk tetap menjaga wanita ini dalam keadaan baik-baik saja. Walaupun seorang kriminal, dia masih punya simpati sesama wanita. Dia tentu tak ingin wanita ini kehilangan bayinya.
Elaine – si wanita penculik – mencoba sebisa mungkin dan selembut mungkin untuk memindahkan tubuh Graciella yang lunglai karena efek chloroform tadi. Untunglah baginya tubuh Graciella bukanlah hal yang menyulitkan. Walau sedang hamil, sepertinya tubuh wanita ini tidak terlalu berat.
Dia memposisikan Graciella dengan posisi yang senatural mungkin. Dengan menarik napas sambil memperbaiki baju perawat yang dia curi dari kantor perawat. Dia mulai mendorong tubuh Graciella untuk keluar dari ruang rawatnya.
Tentu, saat keluar dia juga langsung dihadang oleh dua orang tentara yang tadi juga mencegahnya untuk masuk. Mereka mengerutkan dahinya melihat keadaan Graciella yang tampak terkulai lemas.
“Ada apa dengan Nyonya Qing?” logika mereka jika pun begitu ngantuk pasti tetap terbangun jika ingin berpindah ke kursi roda. Tapi Nyonya Qing ini seperti benar-benar sudah tertidur pulas.
Kedua tentara itu tentu tidak mengerti soal pengobatan dan masalah medis lainnya. Mereka saling memandang. Berharap salah satu dari mereka mengerti apa yang terjadi.
“Apa aku perlu menunjukkan resep obatnya lagi?” tanya wanita itu. Mengkalkulasi apakah obatnya masih cukup untuk melumpuhkan kedua tentara ini. Tapi perhitungannya harus lebih matang. Selain dua orang pria ini, di ujung lorong kanan dan kiri juga ada tentara lain. Sepertinya dia harus mengeluarkan kemampuan bela dirinya.
“Tidak perlu,” jawab salah satu tentara itu. Tentu saja mau tak mau percaya. Lagi pula wanita ini menggunakan pakaian resmi perawat di sana. Elaine menarik napas lega. Tak perlu menggunakan kekerasan karena memang dia tidak suka melakukannya.
“Tapi kami akan mengikutimu. Kami diperintahkan untuk menjaga Nyonya ke mana saja dia di bawa,” saut tentara yang satunya lagi.
Elaine tersenyum dengan sedikit kaku. “Tentu saja. Ini hanya pemeriksaan. Tentu kalian boleh mengikutiku.” Elaine segera mendorong kursi rodanya. Membawa tubuh Graciella yang sedang tampak tidak berdaya. Di ujung lorong sesama tentara yang berjaga memberikan isyarat bahwa mereka akan menjaga Nyonya mereka. Hingga yang lain tampak tak khawatir dan tetap menunggu di tempatnya berjaga. Tak perlu takut, toh ada dua orang temannya yang mengikuti mereka.
Elaine membawa mereka ke arah pusat radiologi yang terletak di bagian belakang dari rumah sakit ini. Terpisah dari gedung utama mungkin karena takut radiasinya mengganggu yang lain. Elaine langsung berhenti di salah satu ruangan.
“Kalian rasa lebih baik kalian menunggu di sini. Ruangan ini punya radiasi tinggi. Kami hanya punya baju anti radiasi dua buah. Aku dan dokter yang akan memeriksa Nyonya ini. Selain itu mungkin akan sedikit lama. Biasanya di dalam sudah ada mengantri orang lain. Jadi dari pada menunggu di ruang tunggu yang ada di dalam dan membuatnya lebih padat. Aku sarankan kalian menunggu di sini.” Elaine segera membuka pintu itu.
Dua orang tentara itu melihat sejenak ke dalam. Memang mereka melihat ada beberapa antrian pasien yang diantar masing-masing oleh para perawatnya. Bahkan mereka bisa melihat ada pasien yang terbaring di ranjangnya.
Dua orang tentara itu patuh. Mereka segera menunggu di kanan dan kiri pintu ruang radiologi itu. Tentu dalam pikiran mereka. Mereka sudah melakukan tugasnya dengan baik.
Elaine langsung masuk. Begitu pintu tertutup sempurna dia langsung membelokkan arah dia mendorong kursi roda Graciella. Dia langsung masuk ke dalam ruangan toilet yang ada di sana. Di dalam sana ternyata sudah menunggu dua orang lainnya yang sudah menyiapkan tempat tidur pasien yang dapat didorong.
“Cepat pindahkan!” perintah Elaine. Dua orang pria berseragam perawat itu langsung mengangkat tubuh Graciella. Memposisikannya dengan sedemikian rupa. Mereka bahkan memasangkan selang infus dengan menempelkannya asal di tangan Graciella. Mereka menggunakannya Collar Neck dan juga beberapa perban di kepalanya. Semua hanya untuk mengelabui para tentara yang berjaga di semua sudut ruangan rumah sakit itu.
“Apa ambulansnya sudah siap?” tanya Elaine. Dia adalah otak dan eksekutor dari rencana ini.