Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 90. Kira-kira siapa yang datang?


Graciella menggigit bibirnya. Ditundukkannya arah pandangannya dan mencoba untuk menghindari tatapan mata Xavier yang selalu berhasil meluluhkan hatinya. saat ini diia tidak bisa menjawab pertanyaan Xavier.


Xavier menatap ke arah Graciella. Kenapa Graciella tidak menjawabnya. Apa dia masih ragu dengan perkataan Xavier?


"Kau masih ragu dengan apa yang aku katakan?" tanya Xavier sambil menaikkan dagu Graciella agar dapat melihat sorot mata Greciella, mencoba menganalisa perasaan yang terpancar dari sana. Graciella menggigit bibirnya lebih dalam melihat mata yang menuntut jawaban darinya.


"Tidak," ujar Graciella sambil menggeleng pelan. Xavier hanya menatap sendu wajah wanitanya.


"Lalu? kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?"


"Aku tidak ragu dengan apa yang kau katakan atau tentang permintaanmu. Aku hanya ragu dengan diriku sendiri." Greciella menarik napasanya dalam.


Dia memang meragukan dirinya sendiri. Apa dia menjawab Xavier dan menikhinya dalam waktu dekat? dia baru saja keluar dari pernikahan yang membelenggu dirinya tiga tahun ini. Lagi pula, Graciella tak ingin gegabah menjawab permintaan Xavier. Jika ini terjadi tiga tahun yang lalu, pastilah dia akan mengangguk cepat dan mengatakan iya tanpa pikir panjang lagi seperti saat Adrean memintanya menikahinya. Tapi sekarang semuanya tentu berbeda. Bisa dibilang dia cukup trauma dengan semua hal berbau pernikahan. Tiga tahun diisi dengan derita. Tak mungkin dia bisa secepat ini memutuskan untuk menikah kembali.


Dia memandang wajah Xavier yang sedikit berkerut tapi tatapannya tetap lembut. "Aku harus kembali ke kamar. Aku takut Moira akan terbangun."


"Graciella?"


Greciella berdiri dengan cepat lalu segera pergi sebelum dia kembali ditahan oleh Xavier. Xavier hanya memandang kepergian Graciella. Dia yakin wanita itu masih belum bisa menerima penjelasannya. Dia harus melakukan sesuatu.


Graciella masuk ke dalam kamarnya dan segera menutup pintu kamarnya. Tapi dia hanya diam saja dibalik pintu kamar itu bahkan dia bersandar seolah menahan pintu itu dengan tubuhnya. Perlahan tubuhnya melungsur turun hingga dia terduduk di depan pintu. Greciella memegangi kepalanya yang saat ini tak bisa dia ajak untuk berpikir. Terasa buntu sekali.


Perasaan Graciella sungguh tak nyaman. Dia kembali teringat kejadian malam itu. Malam itu, dia di kamar sendirian. Karena kepalanya pusing sehabis dipaksa minum oleh Adrean. Dia berniat untuk istirahat saat tiba-tiba ada yang mendekapnya dari belakang dan menghempaskan tubuhnya ke ranjangnya, padahal dia sempat membersihkan dirinya. Kamar itu sudah remang karena Graciella mematikan lampu, dia merasa lebih pusing jika dalam keadaan terang


Pria itu langsung menciumnya dengan ganas. Bahkan tanpa memberikan waktu untuk Graciella melihat siapa dia sebenarnya. Pria itu melucuti pakaiannya bahkan hingga merobeknya. Perlakuannyan begitu kasar dan ganas. Awal tentu Graciella berpikir itu adalah Adrean karena hanya pria itu yang tahu dia ada di kamar sehingga Greciella melayani perbuatan pria itu.


Tapi Graciella akhirnya menyadari saat bisa tak sengaja dia menekan tombol lampu tidur di sebelahnya. Tatapan mata yang tajam jelas bukan milik Adrean. Tapi semua sudah terlambat, bagaimana pun Greciella mencoba untuk mendorong dan melepaskan tubuhnya dari pria itu. Pria itu terus melakukan aksinya. Walaupun Graciella memohon dia tetap tak melepaskan tubuh Greciella hingga Greciella pingsan akibat kekasaran yang dilakukan pria itu.


Sikap pria itu tentu berbeda sekali dengan Xavier. Walaupun Xavier sedikit pemaksa, tapi perlakuannya sangat hangat dan lembut. Dia tidak pernah memaksa hal itu jika Graciella tak ingin. Dia masih tak bisa menerima bahwa pria itu adalah Xavier walaupun pengakuan itu sudah keluar langsung dari bibir Xavier.


Tentu dia juga tak bisa melupakan. Saat dia sadar, Adrean yang pertama kali menemukannya dan pria itu marah besar dengannya. Kenapa Xavier malah meninggalkannya sendirian setelah melakukan hal itu pada Graciella? apa dia ingin melarikan diri? tapi itu tak seperti sifat Xavier yang dia kenal sekarang? apa dulu dia berbeda? lalu kenapa dia datang setelahnya?


Jika dia datang saat itu dan mengatakan ingin bertanggung jawab seperti sekarang. Mungkin Greciella akan dengan mudah menerimanya. Kenapa harus sekarang? saat bahkan Greciella sudah tak berani dan percaya lagi dengan pernikahan. Kenapa harus sekarang? hanya pertanyaan itu yang berkutat di dalam pikirannya.


Entahlah apa yang Tuhan padanya, akhirnya Graciella hanya bisa pasrah.


********


Xavier memandang Graciella yang ada di dapur. semenjak pagi ini dia tampak menghindari Xavier. Dia bahkan tak ingin melihat Xavier. Xavier tahu, ini semua pasti berkaitan dengan pengakuannya semalam.


Xavier tak bisa berharap lebih. Dia sudah menghancurkan hidup wanita itu. Tentunya begini saja sudah cukup baik. Setidaknya Greciella tak meninggalkannya dan menjauhkannya dengan Moira.


Xavier sedikit tersenyum pada Moira yang sedang lahap memakan rotinya. Saat ini mereka sedang sarapan. Dari tadi Xavier menunggu Greciella untuk makan bersama tapi Greciella tampak sibuk di dapur. Entah lah apa yang sedang dia lakukan.


"Moira, ajak mama mu makan," bisik Xavier pada putri kecilnya.


Moira yang sedang memegang roti tawar berisi coklat mengangguk sebentar, "Mama, mamam!" suara lucu Moira terdengar.


"Ya, sebentar lagi, Moira makanlah duluan," ujar Graciella. Terlihat sibuk mencuci sesuatu.


Xavier menghembuskan napasnya pelan. Dia mengambil tongkatnya dan perlahan berjalan ke dapur. Graciella melihat kedatangan pria itu. Awalnya bingung harus apa tapi dia merasa ingin pergi dari sana.


"Aku butuh perjuangan berjalan dengan tongkat ini menuju dapur hanya untuk bicara denganmu. Tolong jangan menghindari ku," ucap Xavier yang menahan Graciella yang tadinya cepat ingin menyelinap keluar dari dapur itu.


Graciella menggoyangkan sedikit bibirnya. "Aku tidak menghindari mu."


"Tapi tindakkanmu malah mencerminkan sebaliknya. Moira ingin sarapan dengan ibunya. Temanilah dia makan."


Graciella menarik napasnya. "Aku belum lapar."


"Sudah siang, makanlah. Jika memang tak nyaman karena ada aku di sana. Aku akan pergi."


Graciella melirik Xavier. Entah kenapa sekarang malah tak enak perasaannya karena Xavier mengatakan hal itu. "Kau harus makan untuk makan obat. Baiklah, aku juga akan ikut makan, tak perlu pergi, kita makan bersama saja," ujar Graciella lagi langsung keluar dari dapur itu.


Xavier memandang Graciella yang meninggalkannya. Disadarinya atau tidak, Graciella terdengar lebih ketus. Tapi entah kenapa Xavier malah sedikit suka melihat keadaan ini. Dia berpikir mungkin nanti jika mereka menikah dan Greciella marah padanya, gambarannya akan seperti ini. Xavier harus mengerti.


"Aaa!!!" Moira membuka mulutnya lebar menerima suapan roti dari Graciella. Xavier tersenyum melihat interaksi ibu anak ini. Dia pasti akan membuat hal ini menjadi pemandangan favoritnya setiap pagi.


Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Greciella sedikit mengerutkan dahinya, siapa pagi-pagi sudah bertamu? Tak mungkin Stevan, dia tak perlu untuk membunyikan bel, dia pasti tahu kombinasi untuk membuka pintu.


Laura pun tak mungkin. Dari tadi pagi dia sudah mengintrogasinya tentang apa yang terjadi pada dirinya dan Xavier tadi malam. Dia juga mengatakan bahwa hari ini IGD sangat penuh jadi pastinya dia sedang menjaga IGD. Dia berjaga hingga lewat tengah hari nanti, jadi siapa yang membunyikan bel itu?


...****************...


Hayo siapa Hayo!!


Dijawab di komen ya kak! ada 20K untuk satu orang yang bisa jawab tepat dan tercepat! Mudah kok!


Hari ini aku izin up 1 ya kak ... kerjaan di RL banyak banget ampe baru selesai jam 9 tadi (kok curcol)


Ini pasti BETE digantung lagi WKwkkw... sabar, besok aku up cepat biar ga penasaran banget.


Jangan lupa Like, Comment, Share, Dan Favorit ya kak! Kerena semua itu membuat Othor jadi semangat! See you next chapter ya kak!