Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 222. Wanita yang sudah meninggalkanmu.


Antony menatap lurus ke arah pada jendela yang ada di ruangan itu. Dia memegang segelas champagne yang sama sekali tidak dia minum. Tubuhnya menegak tatkala merasakan sentuhan lembut yang membelai punggungnya. Dia menyipitkan matanya sejenak lalu memberikan sebuah senyuman manis pada wanita yang sekarang berdiri di sampingnya.


“Apa ada lagi yang menungguku?” tanyanya dengan suara lembut. Jelas sekali kelelahan. Dia juga tak bisa beristirahat hampir selama dua hari ini.


“Tidak ada. Mereka semua sudah pamit pulang.” Adelia mengulas senyumannya.


Antony melihat wanita itu. Wajahnya sangat cantik dan sangat pintar untuk berhias diri. Bibirnya yang tipis terpoles pewarna bibir berwarna merah jambu yang sangat cocok dengan kulit wajahnya. Rambutnya di tata indah serasi dengan gaun berpotongan simpel yang elegan. Benar-benar sosok ibu negara yang akan dikagumi oleh masyarakat.


“Aku belum mengucapkan selamat untukmu, Tuan Presiden,” ujar Adelia lagi dengan senyuman khas yang menenangkan sambil mengangkat gelas champagne-nya


“Kau tidak perlu mengucapkan selamat pada ku. Semua ini sudah diatur oleh Ayahku dan Ayahmu. Aku hanya tinggal menjalankannya,” jawab Antony mengubah arah berdirinya. Sekarang membelakangi jendela itu dan bersandar.


Adelia tersenyum manis cenderung menggoda. Dia meletakkan tangannya di dada Antony dan mengusapnya perlahan. Antony bisa mencium semerbak wangi white musk yang tercium nyaman.


“Tapi kau juga pastinya sangat lelah melakukan semua ini,” ucap Adelia. Antony hanya melirik Adelia yang tampak ingin menggelayut manja mendekati dirinya.


Tapi, Antony segera menggenggam tangannya yang tadi mengusap lembut bahunya. Antony lalu menegakkan tubuhnya membuat Adelia tidak jadi melanjutkan tingkahnya.


“Benar, aku sangat lelah. Mari kita tidur,” jawab Antony melepaskan tangan Adelia dengan lembut. Adelia hanya tersenyum sedikit kecut. Melihat punggung pria yang menjauh meninggalkannya. Walau sudah berstatus suaminya. Tapi tak pernah bisa disentuh olehnya. Jangankan menyentuhnya, Adelia sedikit saja mendekat. Seolah begitu anti dengannya. Antony langsung saja menjaga jarak mereka.


“Adelia?” ujar  Antony melihat istrinya yang masih saja tertegun di tempatnya.


“Ya?” jawab Adelia.


“Tak masuk? Kau akan kedinginan di sana,” ujar Antony lagi. Adelia hanya mengangguk pelan. Ini yang menurutnya sedikit menyesakkan. Sikapnya terkadang menolak, tapi perhatian juga keluar dari bibirnya. Adelia jadi bingung apa maunya Antony ini padanya.


“Baiklah.” Adelia mulai berjalan dengan anggun. Dia mengikuti Antony yang langsung menuju ke arah kamar mereka. Kamar megah yang dingin tanpa kehangatan.


Adelia menatap dirinya. Dia cantik dan menggoda. Bahkan banyak orang yang mengatakan tubuhnya bak biola. Lekukannya terlihat nyata. Dia menggigit bibirnya. Sudah hampir sebulan Antony tak menjamahnya.


Adelia melihat lalu membuka lemarinya. Dari arah kamar mandi, suara air masih mengalir deras. Adelia terus menggigit bibirnya menimbulkan sebuah senyuman menggoda. Dia lalu mengambil baju tidur yang benar-benar terlihat seksi. Baju itu menerawang hingga bahkan seperti tidak menggunakan baju. Akankah kali ini Antony kembali bisa tergoda? Pikirnya.


Adelia mengoleskan wangi butter cream berbau cocoa ke tubuhnya yang nyaris tanpa sedikit pun cacat. Tentu saja, dia jaga dengan sepenuh hatinya sejak kecil. Dia tak lupa sedikit berdandan tipis, melepaskan rambutnya hingga terurai tak lupa menyemprotkan wangi lembut di sekitar lehernya, Antony sangat menyukai wangi itu.


Suara air itu berhenti. Jantung Adelia berdegup kencang. Sudah beberapa bulan menikah tapi hal ini begitu jarang terjadi. Bahkan hanya dua kali. Adelia segera berdiri melihat suaminya yang hanya menggunakan handuk itu keluar dari kamar mandinya.


Antony langsung tertegun melihat penampilan istrinya. Jujur, sebagai laki-laki normal itu benar-benar menggodanya. Apalagi yang berdiri di depannya adalah istrinya. Wanita yang bagaimana pun sudah miliknya seutuhnya.


Munafik jika Antony mengatakan bahwa dia tidak tergoda. Siapa pun disuguhi pemandangan indah itu pastilah langsung naik hasratnya.  Karena itu demi menahan dirinya, Antony langsung membuang pandangannya dan segera mencoba mengontrol dirinya.


“Sudah selesai mandinya?” ujar Adelia mendekati Antony sehingga Antony bisa mencium semerbak wangi istrinya.


“Ya,” ujar Antony. Untung saja dia mandi air dingin, hingga setidaknya dia tidak terlalu merasa kepanasan.


“Kita bisa ….” ujar Adelia dengan suara menggoda menyentuh kulit dingin suaminya.


“Aku lelah. Jangan sekarang,” ujar Antony. Hal ini bisa membuat nafsunya naik, tapi untuk mengeksekusinya. Dia tidak bisa. Selalu ada rasa penyeselan di akhirnya yang membuat Antony tak nyaman.


Adelia terdiam. Dia bingung dan kesal. Bagaimana bisa, dia sudah berdandan dan menggunakan pakaian yang begitu menggoda tapi Antony masih tidak ingin tidur dengannya. Adelia menggertakkan giginya. Dengan cepat dia memegang kedua pipi Antony dan langsung ingin mencium bibir Antony.


Antony tentu kaget. Tapi dia langsung mendorong tubuh Adelia di depannya. “Apa yang kau lakukan?” tanya Antony.


“Apa yang aku lakukan? Kau seharusnya tahu apa yang aku lakukan? Antony! Aku istrimu!” ujar Adelia yang frustasi. Sudah begitu bernafsu tapi malah tak digubris. “Aku tahu kau bernafsu melihatku padaku! Tapi kenapa kau tidak mau melakukannya denganku!”


“Bukannya aku katakan aku lelah?” ujar Antony lagi.


“Kau bohong! Kau hanya tidak ingin menyentuhku! Kau bohong!” histeris Adelia.


“Bagaimana kau tidak ingin menyentuhku! Apa yang kurang dariku!” ujar Adelia lagi dengan air mata yang sudah menggantung di sudut matanya.


Antony melihat wajah yang menahan tangis itu. Dia merasa dilema dalam hatinya. Dia hanya tidak bisa melakukannya. Ada rasa tak nyaman ketika dia harus melakukannya dengan wanita lain.


“Baiklah! Jika kau memang menginginkannya!” ujar Antony yang segera berjalan menuju ke arah lemari minuman keras yang memang terpajang di dalam kamarnya. Dia sengaja melakukannya hanya untuk membuatnya kehilangan akalnya sejenak dan juga untuk menuntaskan tugasnya sebagai suami.


Adelia yang melihat hal itu langsung berjalan cepat ke arah Antony yang mulai menuangkan minuman keras ke dalam gelas itu. Adelia langsung menariknya dan membuangnya ke lantai.


Suara gelas pecah itu langsung menggaung di kamar mewah milik mereka. Membuat keduanya terdiam sejenak. Antony melihat kelakukan istrinya langsung berwajah kesal. Apa-apaan wanita ini!


“Apa yang kau lakukan?” tanya Antony dengan wajah kesalnya.


“Apa yang kau lakukan? Seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang kau lakukan! Tak bisakah kau menggauliku dalam keadaan sadar! Tanpa bau alkohol! tanpa kehilangan akalmu!” tanya Adelia lagi. Apakah semegerikan itu bagi Antony untuk menggaulinya hingga dia harus benar-benar mabuk lalu dia baru mau menyentuh Adelia.


Antony terdiam. Dia ingin menjawab tapi dia tak tahu harus mengatakan apa.


“Jawab aku!” kata Adelia.


“Aku hanya tidak bisa,” ujar Antony pelan.


Adelia menarik napasnya diikuti dengan air matanya yang semakin banyak. “Kau masih saja menyukai wanita itu? Benar?” tanya Adelia.


Lagi-lagi Antony hanya diam.


“Antony! Wanita itu meninggalkanmu di hari pernikahanmu! Aku yang ada! Aku yang merendahkan diriku untuk tetap menerima pria yang ditinggalkan oleh pengantinnya sehari sebelum pernikahan! Aku yang menanggung malu itu dan kau! kau masih saja mencintainya! Antony! Tidak bisakah kau jangan begitu kejam!” pekik Adelia histeris.


Antony hanya bergeming. Dia bahkan tidak ingin melihat Adelia. Dia mengambil botol minumannya yang lain dan segera menegakkannya. Adelia melihat itu tentu semakin berang. Dia langsung kembali mengambil botol itu dan melemparkannya ke dinding hingga pecah memberai.


Bagaikan kesetanan dia juga langsung mengambil semua minuman yang ada di lemari itu dan melemparkannya jauh ke sudut kamar mereka. Pecah berantakan dan berserakan di lantai. Antony langsung menatap wanita itu dengan marah.


“Kenapa? Kau ingin marah karena aku sudah menghancurkan semua minumanmu! Biar saja! Aku sudah tidak tahan!” Teriak Adelia lagi.


“Adelia jangan terlalu berlebihan,” ujar Antony dengan gemetar mengatakannya.


“Terlalu berlebihan? Aku? Aku terlalu berlebihan? Antony! Aku yang terlalu berlebihan ataukah kau yang kejam! Coba kau pikirkan! Kau pikirkan bagaimana perasaanku  di mana di saat kau menggauliku! Kau malah memanggilku dengan nama wanita itu! Saat kau berasa di puncak! Kau meneriakkan namanya! bukan aku! katakan sekarang apa aku terlalu berlebihan, huh? Kau yang terlalu kejam!” ujar Adelia.


Antony menatap mata kesal yang memerah karena tangisannya. Adelia hanya tidak habis pikir. Apa kurangnya dia dibandingkan wanita itu hingga Antony bisa begitu tergila-gila dengannya. Seluruh jiwa dan raganya sudah dia berikan pada Antony. Tapi dia malah tetap mencintai wanita itu.


“Baiklah! Ayo kita lakukan!” ujar Antony yang segera berjalan ke arah Adelia.


Dia langsung menarik tangan Adelia yang kaget dengan kelakuan suaminya. Dengan cepat dan kasar Antony menghempaskan Adelia ke atas tempa tidur. Adelia yang melihat kemarahan dalam mata Antony juga tidak ingin mereka melakukan hal ini saat Antony seperti kesetanan. Wajahnya begis dan sangat mengerikan. Berbeda sekali dengan Antony yang biasanya penuh dengan senyuman hangat.


“Antony,” ujar Adelia takut tapi Antony langsung membekap mulut Adelia dengan sebuah ciuman. Lagi-lagi bau alkohol itu terasa. Sepertinya walaupun hanya beberapa teguk. Alkohol itu berpengaruh juga dengannya. Adelia langsung berontak menggeliat. Dia tidak ingin lagi seperti ini.


Adelia langsung mendorong tubuh suaminya dan dengan cepat menampar wajah Antony kuat. Hal itu membuat Antony langsung berhenti. Adelia pun kaget, kenapa semua harus seperti ini!


Antony menegakkan tubuhnya. Memegang pipinya dan menggoyangkan rahangnya yang sakit. Dia melihat Adelia kembali yang masih memasang wajah takutnya. Antony lalu hanya mengambil bajunya dan pergi meninggalkan Adelia begitu saja yang akhirnya menghabiskan malamnya dengan tangisan pilunya.


*****


Pojok Author:


Halo kak, aku hari ini mau balik dulu ke PWK. Jadi maaf cuma 1 bab. Senin kita mulai lagi 3 babnya, Insya Allah. Mau family time dl haha.


Untuk Kisah Adelia, Antony, dan Laura. Awalnya mau di pisah dengan judul Skandal cinta sang Presiden. Tapi! mengingat kemarin level penulisan saya diturunin ama pihak NT (Katanya saya ga aktif di 2021 dan tak memenuhi syarat jadi penulis Platinum) jadi sayanya merasa akan menggabungkan saja ceritanya di sini. Maklum ya kak, biar tetep bagus level karyanya. Jadi saya minta pengertiannya. Lagi pula ada beberapa hal di cerita Graciella dan Xavier yang masih berhubungan dengan cerita ini dan belum terbongkar. Ntar dibongkar semua di sini. Sekaligus awal mula cerita Moira (Ada kepikiran gitu bikinnya entar nyambung ama cerita lain, yang mana tunggu aja) wkwkkw. Aduh panjang banget. Ok dah sekian. Semoga kakak-kakak suka. Tapi boleh juga kalo memang banyak yang mau dipisah aja, monggo diutarakan keinginannya. Aku selalu baca komen, kadang kalo lagi gatel tangannya pasti dibalas.