Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 198. Kau benar-benar mencintaiku ya?


Pesawat pribadi mereka akhirnya lepas landas. Graciella memandang ke arah luar jendelanya. Melihat awan putih yang bagaikan kapas menghampar di dekatnya dengan langit biru yang cerah dan sinar-sinar matahari menembus. Graciella lalu melirik ke arab Xavier yang ternyata mengamati apa yang dilakukan oleh istrinya.


"Tidur saja, perjalanan ini akan cukup panjang," ujar Xavier yang menatap sendu wajah Graciella.


"Aku tidak bisa tidur karena kau sudah membuatku penasaran," ujar Graciella menyandarkan kepalanya membuat pandangannya lebih dekat dengan suami yang baru saja dia nikahi beberapa jam yang lalu.


Xavier menaikkan sudut bibirnya. Dia mengelus pipi Graciella dengan perlahan. "Aku rasa kau akan menyukainya."


"Kalau begitu ceritakan sedikit sehingga aku bisa membayangkannya," goda Graciella pada Xavier, berharap dia tidak menebak-nebak tempat apa yang sedang mereka tuju.


"Tidak, aku ingin kau tetap penasaran dengan hal ini," ujar Xavier yang tak terpancing walaupun Graciella sudah memandangnya begitu menggoda.


"Baiklah. Apa kau sudah mengatakan pada ibu dan nenek kita akan pergi?" Tanya Graciella, ingat bukannya Monica mengatakan mereka akan menunggu di rumah.


"Sudah. Mereka sedikit kaget tapi langsung mengerti, kau tidak perlu memikirkan mereka," ujar Xavier lagi.


Pramugari yang bertugas di pesawat pribadi itu segera memberikan salamnya dan langsung meletakkan makanan yang memang sudah tersedia untuk mereka.


"Selamat menikmati Tuan dan Nyonya," ujar Pramugari itu ramah.


Graciella melihat makanan yang ada di depannya. Sepiring sarapan ala Eropa.


"Makanlah, aku yakin kau tidak sarapan tadi bukan? Setelah ini beristirahatlah, ada kamar yang bisa kau gunakan di sana. Aku akan menyusul setelah menyelesaikan sesuatu dengan Arnold," kata Xavier lagi.


"Baiklah," ujar Graciella yang akhirnya memang merasa perutnya mulai kosong. Graciella dan Xavier mulai melahap makanan yang ada di depan mereka dengan hening.


Saat selesai makan, Xavier menunjukkan di mana kamar itu berada. Graciella masuk ke dalamnya dan cukup kaget dengan suasananya yang nyaman. Bahkan dia tidak percaya ada kamar yang begitu indahnya di dalam sebuah pesawat. Perpaduan warna biru langit dan juga putih terlihat begitu indah.


"Istirahatlah dulu. Aku harus kembali ke sana," ujar Xavier. Banyak hal yang harus dia kerjakan. Sebenarnya sebagai prajurit dia sama sekali tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Tapi untuk beberapa pekerjaan yang bisa dia lakukan sekarang, maka dia harus melakukannya sekarang hingga nantinya tak mengganggu bulan madu mereka.


"Baiklah, tak perlu khawatir. Kamar ini sangat nyaman," ujar Graciella.


"Iya, ya sudah. Aku pergi dulu," ujar Xavier seraya menutup pintu ruangan itu. Graciella berjalan pelan di ruangan itu. Terasa cukup limbung walaupun pesawat itu bergerak begitu halusnya.


Graciella segera duduk di ranjang yang sangat empuk itu. Di depannya tepat ada sebuah cermin. Graciella tersenyum melihat dirinya sendiri. Tak percaya, akhirnya kehidupan membawanya ke titik ini.


Graciella segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang itu. Entah karena ranjang itu terasa begitu empuk atau karena memang kelelahan. Sejenak saja Graciella langsung berpindah ke dunia mimpinya.


Graciella membuka matanya perlahan. Merasakan kehangatan menyelimuti tubuhnya. Saat dia bisa melihat dengan jelas. Tubuhnya sudah diselimuti oleh selimut tebal dan di sampingnya Xavier juga berbaring dengan tenangnya.


Napasnya teratur, wajahnya tampak damai. Graciella tahu pria ini sedang tertidur nyenyak. Sepertinya dia juga kurang tidur karena pernikahan mereka.


Graciella tersenyum manis melihat wajah Xavier. Tak menyangka bahwa pria ini akhirnya menjadi suaminya. Wajah itu sangat tampan, jika sedang tidur seperti ini Xavier tampak lebih ramah. Tidak ada tatapan tajamnya yang bisa membuat semua orang menunduk karenanya.


Graciella tidak bisa menahan dirinya untuk menyentuh wajah Xavier. Perlahan mengusap bibir suaminya yang menurutnya sangat menggoda. Melihat itu Graciella malah tertawa kecil. Tak mungkin melakukannya ketika Xavier tidur.


Tapi tiba-tiba Xavier langsung memeluk tubuh Graciella. Graciella kaget tapi tidak bisa menghindar. Dia melihat ke arah wajah Xavier yang ternyata masih menutup matanya. Apakah Xavier memang sengaja memeluknya atau memang karena masih tertidur.


Graciella cukup lama menatap ke arah wajah Xavier dan mencoba untuk mencari tahu apakah Xavier sudah bangun atau tidak. Graciella segera menyentuh pipi Xavier kembali, menekannya untuk tahu apakah benar Xavier masih tidur atau tidak.


“Eh, kau sudah bangun?” tanya Graciella. Bodoh sekali, tentu saja Xavier sudah bangun hingga bisa melihatnya sekarang, pikir Graciella. Terlalu gugup hingga bertanya hal yang bodoh seperti itu.


Mendengar pertanyaan itu membuat Xavier tertawa kecil. Melihat wajah Graciella yang memerah, membuatnya sangat gemas melihat istri kecilnya.


“Kau masih saja gugup ketika aku melakukan hal seperti ini?” ujar Xavier lebih mendekatkan dan mensejajarkan wajahnya ke arah wajah Graciella. Tentu itu semakin membuat Graciella terkaku. Xavier semakin suka melihat wajah Graciella seperti itu.


“Tentu saja, aku masih belum terbiasa, nanti aku akan membiasakan diriku,” ujar Graciella tidak berani melihat mata sendu di depannya. Mata hitam itu seolah menarik Graciella untuk masuk lebih dalamnya.


Xavier melengkungkan senyumannya. Mengelus luka di pipi Graciella dengan perlahan. Memandang dengan dalam ke arah istrinya. “Jangan.”


“Jangan?” tanya Graciella menatap Xavier,


“Karena aku ingin terus melihat wajahmu yang seperti ini setiap hari,” goda Xavier.


Graciella tertawa kecil tapi hatinya langsung berbunga-bunga. Dia langsung mencubit hidung Xavier kembali. “Apakah Arnold atau Fredy yang mengajarimu berbicara manis seperti ini?”


“Tidak, aku benar-benar serius. Teruslah melihatku seperti itu, aku benar-benar menyukainya,” ujar Xavier lagi yang sekarang wajahnya begitu serius, seolah tidak terbantahkan. Graciella jadi terdiam.


“Kau benar-benar mencintaiku ya?” tanya Graciella lagi. Membuat Xavier langsung mengerutkan dahi dan memipihkan bibirnya. Dia merasa geram dengan pertanyaan Graciella, kenapa dia harus bertanya seperti itu? Apakah selama ini Graciella tidak merasakan cinta yang ditunjukkan oleh Xavier? Xavier menarik napasnya dan segera menggelitik pinggang Graciella membuat Graciella langsung kaget dan terpekik kegelian.


“Jadi kau belum percaya aku sangat mencintaimu ya?” tanya Xavier yang terus saja menggelitiki Graciella yang terus menggeliat dan tertawa karena ulah Xavier.


“Xavier! Sudah! Sudah!” ujar Graciella yang sudah tidak tahan. Seluruh tubuhnya terasa lemas karena ulah suaminya itu. Tapi sepertinya Xavier menikmati bagaimana dia menghukum Graciella.


Graciella yang terus mencoba untuk melepaskan dirinya. Tapi semakin Graciella berontak semakin semangat Xavier menggelitik istrinya. Graciella mencoba untuk memutar otaknya. Graciella langsung memegang kedua pipi Xavier dan ketika dia bisa, Graciella langsung mencium bibir Xavier yang langsung membuat Xavier kaget.


Tentu saja apa yang dilakukan oleh Graciella sangat ampuh untuk membuat Xavier berhenti. Xavier tentu kaget dengan apa yang dilakukan oleh Graciella. Wanita ini tidak pernah menciumnya lebih dahulu, karenanya Xavier tentu langsung terlena. Xavier malah memeluk tubuh Graciella, menekan kepala Graciella hingga Graciella tidak bisa melepaskan ciuman itu. Nyatanya, Xavier sendiri yang akhirnya lebih ganas mencium Graciella.


Ciuman itu sangat dalam, panas dan membara. Xavier yang tadinya ada di samping Graciella perlahan mengubah posisinya ke atas Graciella. Graciella tentu tidak bisa melakukan apa pun, dia tidak bisa menghentikan apa yang sudah dia mulai.


Napas Xavier tampak mulai memburu. Graciella tahu itu tandanya Xavier sudah terkuasai oleh naf;sunya. Tapi saat ciuman itu semakin memanas, tiba-tiba Xavier melepaskan ciumannya. Bahkan Graciella merasa tergantung karena tingkah Xavier.


“Kita tidak bisa melakukannya sekarang. Sebentar lagi kita akan mendarat,” ujar Xavier. Dari wajahnya dia juga merasa tergantung. Tapi Xavier segera turun dari tubuh Graciella dan segera melangkah ke luar dari kamar itu.


Graciella terdiam sesaat melihat langit-langit pesawat itu. Mencoba menenangkan sedikit nafsunya yang juga sudah terpancing oleh tingkah Xavier. Setelah dia cukup tenang, Graciella segera menaikkan tubuhnya dan duduk di ranjang itu. Mencoba untuk memperbaiki penampilannya yang sedikit berantakan akibat pergumulan mereka tadi.


Saat Graciella sudah selesai membenarkan penampilannya. Pintu kamar itu juga terbuka. Graciella melihat Xavier yang sudah tampak lebih segar. Sepertinya dia mencuci mukanya atau melakukan sesuatu di toilet.


“Sudah siap? Sebentar lagi kita akan mendarat.”


“Ya,” ujar Graciella yang berdiri dan segera keluar dari kamar itu. Kembali duduk di kabin pesawat dan menunggu waktu untuk mendarat.


...****************...


Hai kak, saya tambahkan pengumuman ya, Bab selanjutnya sudah di publish bersamaan dengan bab INi, jadi seharunya kemarin udah up 2 bab tapi! mgkn kena sensor ya. jadi upnya lama amat! harap sabar