Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 22. Seorang remaja dan seorang pria.


“Silakan Nona," ujar seorang pelayan yang mengantarkan Graciella masuk ke dalam sebuah ruangan pribadi di sebuah restoran yang terletak di dalam mall terbesar di kota mereka.


“Terima kasih," ujar Graciella. Graciella segera masuk dan menemukan Xavier sedang duduk santai sambil membaca kembali buku tebal nan usangnya.


“Fredy, pulanglah. Kau tidak perlu berjaga.” suara berat Xavier langsung terdengar. Dia melirik ke arah Fredy yang memang dari tadi mengikuti Graciella dari belakang.


“Siap komandan!” ujar Fredy memberikan hormat. Dia langsung melakukan perintah Xavier. Keluar dan menutup pintunya.


“Duduklah," ujar Xavier berdiri dari sofa dan pindah ke meja makan yang ada di sana. Lagi-lagi tanpa melirik sedikit pun pada Graciella. Graciella mematuhi saja apa permintaan dari Xavier. Dia melihat sekeliling ruangan itu. Sebenarnya tidak terlalu privasi, ada jendela besar yang langsung bisa melihat ke arah luar untuk melihat orang-orang yang berlalu lalang di Mall itu.


“Makan lah," ujar Xavier.


“Eh, sebenarnya tadi sebelum ke sini aku sudah makan siang dengan Laura. Jadi aku rasa aku tidak bisa makan lagi. Perutku sudah penuh. Aku minum saja,” Ujar Graciella yang memang sudah makan. Laura memaksanya untuk menemaninya makan tadi siang.


Xavier hanya memandang Graciella. Graciella hanya tersenyum canggung mendapatkan tatapan dari Xavier. Tanpa mengucapkan kata-kata apapun, Xavier langsung saja memulai makan siangnya.


Susana di ruangan itu senyap. Graciella benar-benar hanya melihat dan menemani Xavier makan siang. Dia tak berani mengajak bicara Xavier dan Xavier pun diam seolah Graciella tak ada di sana.


Graciella hanya memandang pria itu. Bahkan hanya makan saja dia terlihat teratur dan rapi sekali. Wanita yang menjadi istrinya kelak pasti kerepotan makan bersamanya, pikir Graciella lagi. Merasa tak enak memandangi seseorang makan, Graciella mulai mengubah pandangannya. Dia memandang ke arah kaca. Mencoba mencari hal menarik untuk bisa dia lihat.


Dia memandangi banyak orang yang lalu lalang. Banyak juga yang menarik perhatiannya. Contohnya seorang nenek yang berdandan begitu menornya dan Graciella rasa tak pantas untuk usianya, hal itu berhasil membuat Graciella tersenyum tapi juga mengerutkan dahinya. Ada-ada saja pikir Graciella.


Xavier melirik wanita yang sudah tak lagi memperhatikannya. Melihat wajah Graciella yang sedikit tersenyum aneh membuat alisnya bergelombang. Xavier menebak apa yang sedang dilihat Graciella hingga membuatnya tersenyum.


Graciella tentu tak sadar tatapan dari Xavier. Matanya mencari lagi hal-hal yang menarik perhatiannya. Matanya jatuh pada seorang anak remaja dan seorang pria. Tak ada yang aneh sebenarnya. Kecuali pria itu terlalu tertutup pakaiannya. Dia menggunakan jaket, masker hingga topi. Kenapa begitu tertutup untuk berjalan-jalan di mall seperti ini? apakah dia seorang artis hingga tak ingin dikenali?


Entah kenapa Graciella menjadi begitu tertarik pada mereka yang sekarang sedang berhenti di dekat mereka. Kaca itu tembus dari dalam, tapi orang dari luar tak bisa melihatnya ke dalam. Graciella mengamati bagaimana eratnya pria itu memegang pergelangan tangan gadis remaja itu. Merasa aneh kenapa berpegangan di pergelangan? bukan saling mengenggam tangan layaknya sepasang kekasih.


Graciella lalu menunjukkan wajah terkejutnya. Tangan kiri gadis itu dia letakkan di belakang punggungnya. Dia membuka tangannya, empat jarinya naik ke atas dan jempolnya terlipat, seperti gestur menunjukkan angka empat. Lalu dia berulang kali membuka dan menutupnya dengan perlahan. Graceilla membesarkan matanya, dia tahu apa maksud dari gerakan tangan yang diberikan oleh gadis itu.


“Aku ingin keluar dulu!” Graciella langsung berdiri. Bahkan membuat Xavier kaget. Wajah Graciella tampak begitu serius dan tegas. Tanpa menunggu persetujuan dari Xavier, Graciella langsung pergi saja. Tentu hal ini membuat Xavier bingung. Dia melirik ke arah luar dan menemukan apa yang dilihat oleh Graciella. Xavier langsung cepat bertindak.


Graciella dengan perlahan mengikuti mereka dari belakang. Xavier juga mengikuti Graciella tak jauh darinya. Mengamati apa yang ingin dilakukan oleh wanita ini sebenarnya. Kenapa dia suka sekali melakukan sesuatu secara spontan? wanita ini memang berani atau hanya terlalu nekat? pikir Xavier.


Graciella melihat pria itu membawa gadis remaja ke arah pojok mall yang sepi, mereka masuk ke lorong yang menuju ke arah parkiran. Tempat itu sepi. Graciella langsung memutar otaknya. Bagaimana dia bisa menyelamatkan gadis remaja itu. Dia melirik ke toko yang ada di sebelahnya. Melihat sebuah stik golf di dekatnya.


“Nona?” tanya penjaga toko yang melihat Graciella mengambil stik golf dari tokonya.


“Aku pinjam sebentar, nanti aku akan membayarnya!” ujar Graciella seenaknya saja langsung pergi. Tentu penjaga toko itu langsung kalang kabut mengira Graciella adalah seorang pencuri yang ingin membawa pergi barang jualannya.


Penjaga toko itu ingin mengejar Graciella, tapi langkahnya terhenti ketika Xavier menghadangnya dan menunjukkan kartu tanda anggota militer miliknya dan meyerahkan kartu kredit miliknya pada penjaga toko itu.


“Kami akan kembali," Suara tegas dari Xavier membuat penjaga toko itu hanya mengangguk. Dia menerima tanda keanggotaan militer dan juga kartu kredit milik Xavier yang langsung  kembali mengikuti Graciella yang sudah menghilang di belokan lorong menuju tempat parkir itu.


Graciella mengendap-endap, melihat gadis dan pria itu sudah keluar ke arah parkiran. Begitu melihat pria itu mendekati sebuah mobil. Graciella langsung bertindak. Dia segera berlari dan memukul tangan pria itu dengan stik golf. Tentu karena itu pegangan pria tersebut terlepas.


“Lari!” teriak Graciella pada gadis yang tampak linglung. Mendengar teriakan Graciella, dia langsung mengikutinya. Pria itu segera sadar melihat tawanannya lepas. Graciella mengacungkan stik golf ke arah pria itu.


“Kau siapa! Jangan ikut campur! Aku punya senjata api!” ujar pria itu dengan nada marah mengancam Graciella. Graciella membesarkan matanya. Dia tadi tak berpikir bahwa mungkin saja pria ini punya senjata api. Graciella langsung berpikir dan dengan cepat melemparkan Stik Golf itu ke arah sang pria dan untungnya mengenai kepala pria itu.


Melihat pria itu sibuk dengan kepalanya yang terkena lemparan stik golf Graciella. Graciella langsung berlari kabur dari sana. Pria yang melihat Graciella berlari langsung mengejarnya. Dia tentu marah rencananya sudah dirusak oleh Graciella.


Graciella langsung berlari masuk ke dalam mall lagi. Berharap di depan banyak orang dia bisa menyelamatkan dirinya. Graciella langsung berlari ke arah lorong sepi yang tadi dia lewati.


Pria itu terus mengejar Graciella. Tapi baru saja dia ingin masuk, dia langsung dihadang oleh Xavier yang segera menghantamnya dengan sebuah pukulan yang kuat. Pria itu langsung tersungkur jatuh membentur dinding kaca yang ada di sana.


Graciella yang mendengar suara benturan yang keras langsung melihat ke belakang. Dia berhenti seketika melihat Xavier mengangkat tubuh pria itu dengan menarik kerah bajunya. Dia langsung membekuk pria itu. Menguncinya agar tidak bisa bergerak atau melarikan diri lagi.


“Panggil keamanan!" perintah Xavier pada Graciella. Graciella mengangguk dan segera mencari keamanan mall itu.