
Adelia berjalan melewati lorong rumahnya. Dia lalu perlahan melihat keadaan. Dia segera berjalan lebih cepat saat melihat Max yang masih terlihat menunggu Antony bersiap untuk pergi ke kantornya.
"Max," sapa Adelia dengan suaranya yang berkharisma.
Max yang sedang siaga langsung menatap ke arah Adelia. "Selamat pagi Nyonya. Tuan masih ada di dalam kamarnya," ujar Max yang merasa biasanya Adelia selalu menanyakan keberadaan Antony.
Adelia tidak langsung menjawab perkataan Max. Max melihat Adelia yang tampak ragu-ragu hanya mengerutkan dahinya. Ada apa dengan ibu negara?
“Max, apakah aku bisa berbicara sebentar padamu?” tanya Adelia.
Max semakin menautkan alisnya. Tentu dia tidak mungkin mengatakan tidak bisa pada Nyonya. Dengan anggukan pelan, dia menjawab, “Tentu Nyonya.”
Max berjalan di belakang Adelia. Mereka pergi tak jauh dari ruangan Antony. Tentu Max tidak ingin Tuannya itu mencarinya dan juga tidak ingin menimbulkan fitnah jika dia terlihat berdua dengan Nyonyanya. Hal itu akan terlihat tidak etis.
“Max, apakah kau tahu tentang keberadaan Laura?” tanya Adelia langsung saja. Dia tidak punya waktu untuk berbasa-basi. Dia tahu Antony akan segera keluar dari tempatnya.
Adelia juga tahu. Max adalah pengawal dan juga asisten paling setia untuk Antony. Antony akan melibatkan pria ini dalam semua hal. Dan Adelia tahu bahwa Laura pastilah sudah bersama dengan Antony. Tapi di mana wanita itu berada, Adelia tidak tahu. Bagaimana hubungan mereka sekarang, apakah benar mereka sudah saling mencintai? Adelia juga masih buta tentang itu. Jika dia tidak bisa mendapatkannya dari Antony. Dia yakin dia bisa mendapatkan hal ini dari Adelia.
Max sedikit kaget. Tapi dia berusaha sebisa mungkin tidak menunjukkan raut wajah kagetnya itu pada Adelia. Dia tidak menyangka nyonyanya ini akan menanyakan tentang wanita itu padanya. Max tahu, Adelia pasti ingin mengorek informasi darinya.
“Maaf Nona, tapi saya tidak tahu tentang hal itu,” ujar Max tanpa ragu. Dia tahu wanita ini bukanlah wanita sembarangan. Jika dia memberitahu keberadaan Laura. Wanita itu pasti habis dibuatnya. Bukan, bukan karena Max mau menjaga Laura. Dia juga tidak suka dengan wanita itu. Tapi, jika Nyonya-nya sampai tahu. Bisa saja dia membeberkan semuanya dan kedudukan Antony akan terancam. Dia akan melakukan apa pun untuk menjaga Tuannya.
“Benarkah?” tanya Adelia lagi.
Max mengangguk mantap. “Tuan akan keluar sebentar lagi. Nyonya, saya harus segera kembali.” Max merasa pembicaraan ini tak perlu diteruskan. Semakin lama mereka berbicara, bisa semakin gawat keadaannya.
“Kau tahu. Aku tidak bermaksud apa pun. Antony adalah suamiku. Aku yang mendukungnya untuk menjadi presiden, kau tahu itu bukan?” ujar Adelia lagi menghentikan niat Max untuk pergi dari sana. “Tapi, bukannya kejadian semalam sangat beresiko. Antony – walaupun tidak mengatakannya secara langsung. Tapi aku tahu dia pergi ke tempat wanita itu. Aku hanya tidak ingin Antony terkena skandal yang menjatuhkan namanya. Bukannya kau tahu itu? Kehadiran Laura akan membahayakan untuk Antony, bukannya kau selalu mengatakan bahwa keselamatan Antony adalah yang paling nomor satu?” desak Adelia pada Max.
Dia sudah tidak tahu lagi. Dia harus membuat pria ini berbelot membantunya. Dengan begitu dia bisa membasmi pengganggu rumah tangganya dengan cepat. Dia bisa menyeret Laura pergi dari hidup Antony lagi.
Max mendengarkan semua perkataan dari Adelia. Tentu saja itu semua benar adanya. Dia juga sadar bahwa Laura adalah ancaman terbesar dalam kehidupan Antony sekarang. Tapi wanita ini pun tidak bisa dia percaya. Jika dia bisa berpikir untuk mencari informasi dan mencoba untuk memanipulasi dirinya. Maka dirinya juga harus berhati-hati dengan ibu negara ini.
“Maafkan saya Nyonya. Tapi saya benar-benar tidak tahu di mana Nona Laura berada. Tuan Antony hanya memanggil saya ketika membutuhkan pengawalan dari saya saja sekarang. Selain itu, dia memerintahkan orang lain. Kemarin pun, saya bisa membawa Tuan Antony pulang karena memang Tuan Antony ada di kantornya.”
Adelia menggigit bibirnya. Ternyata tak semudah itu memanipulasi Max. Bagaimana ini? Ke mana lagi dia harus mencari cara untuk menemukan Laura. Tiba-tiba otaknya berjalan. Ya! Dia bisa meminta bantuan wanita itu lagi.
“Max!” suara Antony menggaung, mencari pengawal kepercayaannya.
“Nyonya, saya pergi dulu,” ujar Max. Tak menunggu jawaban karena memang dia sudah harus pergi sekarang.
Antony yang melihat Max keluar dari salah satu sudut ruangan langsung mengerutkan dahinya. Tapi dia tidak berkata apa-apa. Bagaimana pun dia percaya dengan sangat pada pria ini dan dia pun segera berjalan keluar dari ruangan itu.