
Graciella menarik tangannya dari tangan Adrean. Semakin lama semakin menyesakkan berada di sana. Suasananya benar-benar membuat Graciella tercekik.
“Aku ingin ke toilet," ujar Graciella yang langsung mencoba untuk mendorong kursi rodanya mundur. Namun Adrean menahannya sejenak.
“Jangan pergi dulu, kau akan melewatkan acara utamanya.” Adrean tersenyum manis yang mengarah ke sinis. Graciella tahu sekali senyuman mengejek itu. Graciella mengulum senyumnya lalu segera menatap ke arah Adrean dengan tatapan yang sedikit tegas.
“Tak perlu. Acara ini juga akan terus berlangsung tanpa adanya diriku. Jadi, aku permisi ke belakang dulu," ujar Graciella.
“Tunggulah sebentar lagi," ujar Xavier yang tiba-tiba menahan Graciella. Graciella mengerutkan dahinya melirik pria itu. Semua mata pun menuju ke arah Xavier. Devina memasang wajahnya tak percaya dan menjadi sedikit ke arah emosi. Adrean pun melirik tajam ke arah Xavier.
Graciella memandang aneh ke arah Xavier yang berwajah tegas. Dia bingung dengan apa yang diminta oleh Xavier. Dia ingin Graciella mendengarkan semua detail tentang pertunangannya? Apa maksudnya?
“Maaf, aku tidak bisa lagi menahannya," ujar Graciella yang langsung segera menjalankan kursi rodanya keluar dari ruangan itu. Graciella hanya menatap ke arah depan tak peduli semua tatapan yang sekarang mengarah ke dirinya. Xavier menatap kepergian dari Graciella dengan tatapan sendunya.
Graciella memutar roda dari kursinya itu dengan cepat. Sebenarnya dia sama sekali tidak ingin ke kamar mandi. Tapi ada di sana sangat membuat Graciella merasa kecil. Dari dulu dia tidak pernah suka ada di kerumunan. Dia sungguh tahu perasaan di mana kita merasa sendirian padahal dikerumuni begitu banyak orang. Dan itulah perasaan yang paling tidak dia suka di dunia.
Graciella terus mengikuti jalan dari restoran yang cukup luas itu. Dia sejujurnya juga bingung harus ke mana. Akhirnya Graciella memilih untuk berjalan ke arah taman restoran.
“Nona?”
Graciella langsung melihat ke arah suara itu berasal. Dua orang pria dengan setelan jas hitam rapi terlihat mendekati dirinya. Graciella mengerutkan dahinya.
“Ya?” tanya Graciella dengan kerutan wajahnya.
“Boleh memeriksa barang-barang Anda?” tanya mereka ketika sudah ada di depan Graciella.
Graciella mendengar itu membesarkan matanya dan berwajah cemas. Di dalam tas yang dia bawa sekarang ada sebuah pistol yang diberikan oleh Adrean. Bagaimana jika mereka menemukan pistol itu dan menuduh Graciella sebagai penjahat atau *******?
“Eh? Ada barang pribadiku di dalam sini. Kalian tentunya tidak boleh membukanya sembarangan,” jawab Graciella dengan gugupnya. Namun kedua pria berjas dengan tampang yang tak bersahabat itu mengambil begitu saja tas kecil yang di genggam erat oleh Graciella. Graciella langsung gugup ketika mereka membukanya.
Mata mereka menyipit melihat Graciella yang tampak bingung dan tak tahu harus apa. “Nona, Anda membawa senjata api ke restoran ini. Anda harus ikut kami," ujar salah satu dari mereka. Yang lain malah sudah mengambil posisi untuk mendorong Graciella.
“Hei! Kalian tidak bisa membawaku begitu saja. Aku harus mengatakan pada keluarga dulu. Kalian tidak boleh membawaku begitu saja.” ujar Graciella yang panik.
“Lebih baik Anda kooperatif dengan kami. Ini adalah pelanggaran serius. Bahkan jika Anda berteriak, Anda bisa ditahan polisi karena Anda membawa senjata api. Kooperatiflah dengan kami. Ini akan lebih mudah,” ujar mereka dengan cepat mendorong Graciella melewati orang-orang di sana dan membawanya ke bagian belakang dari restoran. Bahkan tiba-tiba saja ada dua orang berjas hitam lagi yang datang mengawal Graciella. Graciella jadi bingung. Dia harus apa sekarang?
Graciella mengamati sekitarnya. Dua dari penjaga itu berjalan lebih dulu untuk membukakan pintu dari Van hitam. Melihat mereka sedikit lengah Graciella dengan cepat segera berdiri. Tak memperdulikan lagi luka yang ada di kakinya. Sekuat tenaga dia segera berlari kencang. Rasa takut yang dia rasakan lebih parah daripada rasa nyeri di kakinya.
Para pria berjas itu tentu segera ingin mengejar Graciella tapi mereka mengurungkan niatnya. Graciella yang berlari sambil melihat ke belakang sedikit bingung. Kenapa mereka berhenti, padahal jika saja mereka mengejar Graciella, Graciella akan dengan sangat mudah tertangkap karena langkahnya yang pincang.
Sesaat kemudian barulah Graciella tahu apa alasannya. Dia tiba-tiba menabrak seseorang di depannya yang dengan cepat langsung menggendongnya bagaikan sekarung beras. Graciella tentu berteriak. Namun, keadaan bagian belakang restoran itu sepi. Pria itu langsung membawa Graciella ke mobil Van itu dan sedikit menghempaskan tubuh Graciella di bangku penumpang.
Graciella langsung menatap wajah pria yang tadi membawanya. Matanya membesar kaget.
“Kau?” tanya Graciella.
...****************...
Xavier hanya menatap ke arah pintu yang perlahan tertutup setelah kepergian Graciella. Dia tak mendengarkan apapun lagi yang mereka bicarakan di ruangan itu. Xavier baru sadar ketika tangannya kembali digelayuti manja oleh Devina.
“Bagaimana?” tanya Devina dengan wajah manja dan senyuman dibuat-buat.
“Apanya?” tanya Xavier mengerutkan dahinya. Tak menyukai tampang maja dari Devina.
“Nyonya Regina bertanya, apakah bulan depan kalian bisa melangsungkan pertunangan. Bulan depan adalah bulan yang bagus," ujar Monica yang tahu anaknya tak fokus.
“Benar, walaupun sibuk, sisihkanlah waktu untuk pertunangan," ujar Regina, ibu dari Devina.
Xavier hanya mengerutkan dahinya. Tak ada niatnya sama sekali datang ke sini untuk membahas tentang pertunangan ini. Dia setuju datang ke sini hanya untuk mempertegas penolakan pertunangan ini.
Jika Xavier menolaknya hanya di depan orang tuanya. Mereka tentu tak akan langsung mengatakannya pada keluarga Devina. Tapi jika dia langsung mengatakannya pada keluarga Devina. Pertunangan ini otomatis batal tanpa harus ada yang mencoba merayunya kembali. Tapi yang dia tak sangka adalah bahwa Graciella akan datang ke sini. Dia tahu Adrean adalah sepupu jauh Devina. Dia kira wanita itu tak akan lagi berani pergi dengan Adrean karena yang terjadi sebelumnya, tapi kenapa wanita itu tetap saja ingin ikut dengan pria ini? apakah dia benar-benar masih punya perasaan dengan Adrean? Xavier memandang tajam pada Adrean yang santai meminum minumannya.
Ponsel Xavier bergetar di atas meja makannya. Monica, Regina dan Devina menatap dengan kerutan dahi menunggu jawaban dari Xavier. Namun pria itu malah lebih memilih menjawab panggilan yang masuk ke dalam ponselnya.
Xavier segera mengangkatnya. Dia tak mengucapkan apapun dan hanya mendengarkan apa yang disampaikan oleh suara yang terdengar di sana. Dia membesarkan matanya dan tiba-tiba saja bangun dari duduknya. Devina hingga hampir jatuh karena dia sedang bersandar pada Xavier.
“Maaf Tuan Kim, tapi aku menolak perjodohan ini. Aku juga tidak akan menikahi Devina. Itu adalah keputusanku dan tak akan ada yang bisa mengubahnya!” tegas Xavier yang langsung membuat semua orang bungkam dan perhatian semua orang tertuju padanya. Hening seketika saja merebak.