Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 106.


“Kau ingin anakmu, itu adalah abu kremasi anakmu! Serahkan padanya!” ujar Robert.


Graciella memindahkan matanya ke guci kremasi yang langsung di sodorkan padanya. Tiba-tiba kepalanya yang tadinya penuh dan berat sekarang terasa begitu kosong. Dia bahkan merasa tidak bisa mengerti apa yang dikatakan oleh Robert.


“Moira? Di mana anakku?” ujar Graciella lagi dengan wajahnya yang tampak begitu linglung.


“Ini, ini Moira mu!” ujar Robert mengambil guci itu dan langsung menyodorkannya dengan paksa pada tangan Graciella.


Graciella menatap guci kremasi itu kembali. Permukaan guci itu terasa dingin. Graciella hanya memandangi guci itu beberapa saat. Kepalanya benar-benar kosong hingga dia tidak bisa memprosesnya atau memang dia terlalu syok mendengarkannya.


“Tuan, di mana anakku? ini tak mungkin anakku! tidak!” tanya Graciella lagi dengan lelehan air mata. Sebenarnya dalam benaknya dia sudah tahu apa yang terjadi. Dia hanya tak percaya ini terjadi. Dan dia tidak bisa, dia benar-benar tidak bisa percaya ini.


“Jelaskan padanya bagaimana putrinya itu meregang nyawa!” ujar Robert yang merasa sudah tidak tahan melihat tangisan Graciella. Dia segera keluar dari tempat itu.


“Putri Anda tidak bisa selamat. Dia terjatuh dari gendongan saat berontak dan kepalanya terbentur, lalu dia meninggal. Tadi malam anak Anda di kremasi,” jelas asisten pribadi Robert mengikuti apa yang diperintahkan Tuannya.


Graciella mendengar itu benar-benar seperti tersambar petir, dia terkaku seketika. Tiba-tiba saja kepalanya kembali serasa ditimpa beban berat hingga kakinya tidak lagi sanggup untuk menopang tubuhnya. Graciella langsung terduduk melihat ke arah guci kremasi putri kecilnya. Melihatnya terbuka karena tidak percaya dengan apa yang ada di dalam genggamannya.


Ini adalah abu anaknya. Kemarin dia masih bisa mendengar suara Moira, tapi kenapa sekarang mereka mengatakan bahwa Moira, gadis kecilnya sekarang ada di sini. Tidak! Tidak mungkin ini Moira! Tidak mungkin!


Bibir Graciella begitu bergetar, “Tidak mungkin! Ini bukan anakku! Dia tidak mungkin, dia tidak mungkin, tidak mungkin!” ujar Graciella. Kata-kata itu tidak bisa keluar dari mulut Graciella yang seluruh tubuhnya dingin bagaikan didekap oleh salju. Seluruh tubuhnya gemetar hingga membuatnya menggigil parah.


“Itu terserah Anda ingin percaya atau tidak. Tapi itulah kenyataannya. Sampai kapan pun, Anda tidak akan bisa lagi bertemu dengan anak Anda,” ujar Asisten Robert segera meninggalkan Graciella.


Graciella yang dari tadi, tangisnya tidak bisa keluar langsung meraung dengan begitu keras. Rasanya sesak. Begitu sesak hingga dia tidak bisa bernapas. Rasanya seperti separuh nyawanya baru saja dicabut keluar dari tubuhnya. Benar-benar sakit hingga seluruh sendinya menyeri. Seluruh tubuhnya seperti mati rasa dan kesemutan. Dia tidak lagi bisa berpikir apa pun. Dia hanya memeluk guci itu erat, sangat erat seolah sedang memeluk Moira. 


Moira, kenapa dia harus bernasib begitu malang hanya karena dirinya. Graciella tidak bisa membayangkan bagaimana detik-detik terakhir anaknya. Bagaimana bisa dia membuat anaknya begini. Kenapa? Kenapa Tuhan mengizinkannya bertemu dengan putri kecilnya jika hanya dalam hitungan hari dia mengambilnya lagi selama-lamanya. Kenapa Tuhan bisa  menghukumnya begini! Apa yang sudah dia lakukan di dunia ini hingga dia harus merasakan neraka bahkan sebelum dia meninggal. Graciella hanya bisa meratap. Terkadang dia hanya berteriak.


“Kenapa kalian membunuh anakku!” teriak Graciella dengan lirih! Teriakan dan raungannya menggema di seluruh ruangan itu. 


...****************...


Graciella merasakan sesuatu yang dingin ada di dahinya. Graciella bahkan tidak sanggup lagi membuka matanya karena panas di tubuhnya yang begitu membakar. Air matanya sudah tidak bisa lagi keluar. Dia bahkan tidak ingat sudah berapa lama dia tidak lagi bisa membuka matanya. 


“Graciella?” suara merdu itu terdengar. Suara seperti keibuan. Graciella sebisa mungkin melihat siapa yang ada di sampingnya sekarang. Tapi bagaimanapun dia berusaha, dia tidak bisa melihatnya.


Monica mengambil kain basah yang diberikan oleh asistennya. Dia perlahan mencoba untuk mengelap wajah Graciella yang tampak seputih porselen. Bibirnya bahkan berwarna kelabu, pucat bagaikan tak ada darah lagi di wajahnya. Hanya darah kering yang masih menempel dan luka menganga yang sudah mulai kering tapi juga tampak sedikit bernanah infeksi. 


Monica menatap miris pada Graciella, bagaimana pun wanita ini hanya korban dari semua ambisi suaminya. Mereka bahkan meninggalkannya di banker bawah tanah itu sendirian dan membiarkannya untuk mati di sana. Untung saja Monica bisa mendapatkan kode akses dari ponsel suaminya dan langsung melihat keadaan Graciella.


Awalnya Monica tidak banyak berharap. Sudah tiga hari mereka membiarkan Graciella sendirian di sana. Tapi entah bagaimana, wanita ini bisa bertahan tanpa minuman dan makanan dan juga dengan keadaan dehidrasi berat dan panas begitu tinggi seperti ini. Begitu dia melihat keadaan Graciella yang begitu mengenaskan, dia segera membawanya keluar agar bisa mendapatkan pertolongan medis, sekarang mereka sedang menuju ke rumah sakit.


Monica tahu apa yang sedang digenggam erat oleh Graciella. Wanita itu selalu berbisik meracau tentang Moira. Monica bahkan tidak bisa menahan tangisnya, bagaimana pun dia juga seorang wanita dan juga seorang ibu. Dia tahu bagaimana remuknya hati Graciella sekarang. Walaupun dia belum pernah bertemu lebih dekat dengan cucunya itu. Tapi, Monicajuga merasa sedih kehilangan cucu pertamanya itu. Dia adalah korban tak bersalah dari keserakahan suaminya. Monica menyesal awalnya mendukung David dan Robert.


“Biarkan aku mati,” bisik Graciella sambil menggelengkan kepalanya. Menjauhkan wajahnya dari kain yang menurutnya sangat dingin hingga menyengat dirinya.


“Jangan begitu, tolong tetaplah hidup. Aku tidak bisa menolong anakku dan cucuku, jadi aku mohon tetap hidup. Izinkan aku menebus dosaku,” ujar Monica lirih.


Graciella yang mendengar itu sekuat tenaga membuka matanya. Walau hanya sedikit dia akhirnya bisa melihat siapa yang ada di sampingnya. Graciella hanya memandang Monica dengan kosong. Tatapan itu terasa semakin menghakimi Monica.


“Kalian tak izinkan aku mati agar aku tidak bisa bertemu dengan anakku, sampai kapan kalian akan menyiksaku,” ujar Graciella tanpa nada. Matanya pun tak menunjukkan emosi apapun. Kosong, sekosong jiwanya yang sudah tercabut bersama dengan kepergian anaknya.


“Aku tidak ingin menyiksamu, kau harus hidup untuk anakmu, aku tahu kau sudah kehilangan dirinya. Tapi kau harus tetap hidup, Moira pasti ingin ibunya hidup,” ujar Monica dengan air mata yang sudah turun membasahi wajahnya yang tetap tampak anggun dan cantik.


“Jangan,” Graciella menggeleng lemah, “Jangan panggil nama anakku, kalian tidak pantas.” Graciella tak bisa lagi menangis. Entah memang karena air matanya sudah mengering atau karena dia sudah dehidrasi berat, tapi walaupun hatinya remuk mendengar nama anaknya. Tapi air mata itu tidak lagi meleleh keluar.