Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 135. Malam bersama.


Xavier memberikan senyuman manisnya yang membuat Graciella sejenak berhenti untuk bernapas. Xavier tidak membuang waktu lama. Dia segera menempatkan kedua tangannya pada pipi Graciella, perlahan dia mendekatkan wajahnya ke arah Graciella. Dengan sangat lembut kembali menyatukan bibir mereka kembali.


Graciella bisa melihat pantulan dirinya di mata Xavier. Hembusan napasnya yang berbau mint terasa menyegarkan. Graciella benar-benar terbuai dengan ciuman itu. Melihat dari sifatnya yang dominan, Graciella berpikir Xavier akan melakukan sesuatu seperti memaksa dan kasar. Tapi, apa yang dilakukan oleh Xavier berbanding terbalik dengan apa yang dipikirkan oleh Graciella.


Sentuhan, kecupan, dan juga semua perlakuan yang Xavier lakukan sangat lembut dan begitu tenang. Sabar dan tak terburu-buru sama sekali. Hal itu membuat Graciella benar-benar tak tahan. Sedikit lagi, mungkin pertahanannya juga akan luluh lantak dibuatnya.


“Xavier,” suara Graciella tampak berburu dengan napasnya. Harus diakui, na’fsunya terpancing akibat ulah Xavier. Bagaimana pun dia adalah wanita dewasa, pernah menikah, pernah melakukan hal itu walaupun dalam ingatannya, pertama kali dia melakukannya benar-benar menyakitkan. Tapi, siapa yang bisa tahan jika diperlakukan begini.


“Hmm?” gumaman Xavier begitu menggoda. Tak tahan berlama-lama memutuskan pautan bibir itu. Dia sudah sangat menahan dirinya untuk berlaku sesuai keinginannya. Semua itu karena dia ingin Graciella menerima dirinya. Dia tak ingin kesan pertama Graciella padanya menjadi buruk.


“Bisa berhenti, aku rasa aku tidak bisa, auh!” ujar Graciella diikuti pekik kecil ketika Xavier malah menyerang lehernya yang putih. Dari tadi Xavier sudah menunggu untuk menyerang tempat itu.


“Kenapa?” bisik Xavier. Tapi bukannya berhenti, tangannya malah semakin bergerilya menyusup ke dalam baju yang digunakan oleh Graciella. Tubuh Graciella bergetar ketika kulit tubuhnya yang hangat bersentuhan dengan kulit Xavier yang lebih dingin. Tangan kekar itu memeluk pinggangnya dan mengusap halus dan pelan punggung Graciella dari atas hingga ke bawah dengan ujung-ujung jemarinya. Hal itu tentu membuat Graciella menegangkan tubuhnya hingga membuat tubuhnya melengkung bak busur panah.


Tidak! Tidak bisa begini! Sepertinya jika tak berhenti sekarang, Graciella benar-benar akan kehilangan akal sehatnya dan malah menerima dengan mudah perlakuan Xavier. Tapi,  siapa yang bisa menolak perbutan ini. Graciella yang mencoba mencari kepingan kewarasannya yang tersisa.


“Ini terlalu cepat, kita baru saja bersama dan kau juga baru saja bercerai,” ujar Graciella yang menggigit bibirnya keras agar tetap terjaga karena menerima sentuhan dan ciuman di tubuhnya. Tentu semua itu membuatnya merasakan seperti disengat oleh aliran listrik.


“Aku tidak pernah menyentuhnya,” kata Xavier menatap mata Graciella yang langsung mengerutkan dahinya. Tindakan Xavier berhenti sesaat.


“Eh?” tanya Graciella tidak percaya.


“Kami menikah karena perjodohan. Dan aku hanya menganggapnya seorang adik, aku tidak bisa menyentuh wanita yang tidak aku sukai, seumur hidupku, aku hanya menyentuhmu,” ujar Xavier dengan kata-katanya yang tampak begitu menyakinkan.


Mendengar pengakuan dari Xavier, tentu membuat Graciella menjadi berbunga-bunga. Walau dia tak tahu apakah yang dikatakan benar atau tidak, tapi sebagai wanita tentu dia merasa tersanjung karena secara tidak langsung Xavier mengatakan bahwa hanya Graciella-lah wanita yang ada dalam hatinya. Graciella tertunduk menutupi wajahnya yang tersipu malu.


Xavier melihat wajah wanitanya yang memerah merasa menjadi tidak bisa lagi menahan dirinya. Rasa gemas itu membuatnya langsung menggendong tubuh mungil Graciella. Graciella yang diperlakukan seperti itu tampak kaget dan kikuk. Tanpa sadarnya dia segera mengalungkan tangannya ke leher kekar milik Xavier. Tentu itu adalah sikap bertahannya agar tidak jatuh.


Xavier membawa Graciella langsung ke lantai atas kamarnya. Perlahan dia membuka pintu kamarnya yang memang tak terlalu tertutup sempurna. Dengan penuh kelembutan Xavier meletakkan tubuh Graciella di ranjangnya. Xavier yang sudah dipenuhi oleh nafsu yang dia tahan begitu lamanya langsung membuka bajunya.


Graciella melempar pandang dan menahan napasnya. Usianya mungkin sudah hampir tiga puluh tahun, tapi untuk hal ini dia sama sekali awam. Baginya, Graciella hanya pernah melakukannya sekali, itu pun bukan dengan suaminya.


Graciella menggigit bibirnya ketika Xavier mulai beraksi. Mel*umat bibir Graciella dengan ganas dan mulai lebih kasar. Jari jemari Xavier mulai menyibakkan pakaian yang digunakan Graciella sebelum dia bergerilya mengusap dan menyusuri seluruh tubuh Graciella sejengkal demi sejengkal. Dari gerakan yang lembut, perlahan menjadi kasar dan nantinya menjadi lembut lagi, sensasinya membuat Graciella melayang hingga tak bisa lagi berpikir apa-apa.


Sentuhan kulit ke kulit mereka begitu terasa. Membagi kehangatan suhu tubuh mereka berdua. Xavier tak melewatkan sejengkal pun dari tubuh Graciella, menyusurnya baik dengan jari maupun dengan bibirnya.


Gerakan mereka awalnya perlahan hingga akhirnya menderu menggebu. ******* dan napas yang memburu terdengar saat mereka menyatukan raga dan rasa. Graciella tak pernah bisa mengerti, kenapa dia dengan mudahnya bisa terpancing dan menerima apa yang dilakukan oleh Xavier. Otaknya mungkin berpikiran untuk menyudahinya, tapi tubuhnya sama sekali tidak bisa menolaknya. Aroma tubuh Xavier membuatnya semakin menggila hingga menghantarkannya menemukan puncak kenikmatan dunia.


Xavier memandang mata sayu yang tampak bahkan tak sanggup menatapnya kembali. Xavier tersenyum mengecup dahi Graciella yang sudah dihiasi bulir-bulir keringat yang membuat anak-anak rambutnya terlihat basah. Dia juga mengecup kedua pipinya dan juga bibirnya.


“Sudah?” tanya Xavier yang tampak puas memperlakukan Graciella hingga seperti itu. Graciella mengangguk pelan menatap mata hitam itu sayu memandangnya.


“Ingin menikmatinya dulu atau lanjutkan?” tanya Xavier.


Graciella menelan ludahnya, dengan menarik napasnya sedikit, Graciella berbisik. “Lanjutkan lah.”


Xavier tersenyum mendengar persetujuan dari Graciella. Dengan cepat dia melakukannya. Tak ingin Graciella terlalu kelelahan. Tapi perlakukan Xavier malah membuat Graciella menjadi kembali naik hasratnya. Melihat itu membuat Xavier semakin bersemangat dan akhirnya mereka bisa merengkuh puncak bersama-sama.


Graciella segera berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tidak menyangka dia akan melakukan ini dengan pria yang bahkan baru dia kenal. Graciella merasa bodoh tapi bingung, bagaimana ini bisa terjadi. Graciella cukup lama membersihkan tubuhnya karena dia lebih banyak termenung. Banyak penyangkalan yang terjadi di kepalanya, bukannya Graciella bukan lagi anak ABG, hal ini lumrah bukan dia lakukan? Tapi, kenapa harus begitu cepat?


“Graciella? Apa kau tidak apa-apa?” tiba-tiba pintu kamar mandi itu terbuka begitu saja. Graciella langsung kaget melihat Xavier yang ada di sana. Tanpa sadarnya dia menutupi tubuhnya, kamar mandi itu memang tidak ada kuncinya, entah apa maksud Xavier membuat kamar mandi tanpa kunci seperti itu. Mungkin dia berpikir tidak ada yang berani untuk masuk tanpa persetujuannya.


“Ya! Kenapa tidak berteriak saja dari luar atau mengetuk dulu!” protes Graciella langsung mengambil handuknya.