Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 186. Perasaan yang tersadar.


Graciella tersenyum begitu senang. Tak henti-hentinya bibirnya melengkungkan senyuman. Sorot matanya begitu bercahaya seolah semangat yang penah hilang dari dirinya sudah kembali lagi. Dia pernah melepaskan Kaoru yang tampaknya mengerti apa yang dirasakan oleh ibu kandungnya. Walau udara begitu panasnya dia pasrah terus berada di dalam pelukan Graciella.


“Kaoru, makan dulu ya,” ujar Anali membawakan sepiring makanan. Makananya sangat sedehana, sepotong ikan dengan sayuran seadanya dan juga nasi putih.


“Ya, ibu,” ujar Kaoru yang langsung semangat. Graciella melihat ke arah Anali.


“Nyonya, ingin menyuapinya?” tanya Anali. Graciella tentu langsung mengangguk. Dia ingin merasakan bagaimana menyuapi anaknya. Anali segera menyerahkan piring itu pada Graciella yang langsung menyambutnya.


Moira yang tampaknya memang sudah sangat lapar karena baru pulang sekolah dan belum makan sama sekali benar-benar kelihatan berselera dengan makanan sederhana itu. Graciella perlahan memberikan suapan pertama yang langsung disambut oleh Moira dengan lahap. Seolah makan itu begitu nikmat dia rasakan.


Graciella dan Anali kembali tertawa kecil melihat ke arah Moira yang gayanya terlihat lucu. Graciella begitu menikmati waktunya menyuapi Moira yang begitu patuh. Duduk di depan Graciella dan memakan makanannya dengan cepat. Graciella tentu begitu senang, anaknya begitu pintarnya.


Anali yang melihat hal itu hanya diam memperhatikan. Sebuah senyuman tipis menghias di bibirnya tapi siapa pun bisa melihat raut wajah sedih dan matanya yang sendu. Dia menggigit bibirnya. Ada rasa yang tak nyaman tapi begitu berusaha dia tutupi.


Xavier yang baru saja mengurus penginapan untuk mereka malam ini, akhinya tiba dan segera masuk ke rumah itu. Dia melihat Anali yang sedang memandang Graciella yang menyuapi Moira. Graciella yang terlalu senang hingga tidak memperhatikan bagaimana wajah Anali sekarang.


“Tuan, silakan masuk. Saya ke belakang dulu untuk mengambil air minum untuk Kaoru,” ujar Alani menutupi wajahnya yang sudah sedikit basah karena air mata. Melihat piring Moira sudah bersih dia santap semuanya.


“Ibu! Ikut!” ujar Moira yang tiba-tiba berdiri dan mengejar Anali. Graciella yang melihat itu sedikit kaget tapi tidak bisa melarang Moira yang sudah memegang tangan Anali menuju ke dapur mereka. Padahal dia baru saja makan, tapi sudah langsung berjalan, pikir Graciella.


Anali melihat Moira yang tampak tersenyum padanya. Terlihat sekali putri kecilnya sedang menenangkannya. Moira memang selalu bisa menenangkan hati siapa pun juga.


Graciella hanya menatap dia ke arah perginya Moira dan juga Anali. Wajahnya yang tadi penuh dengan senyuman sekarang tampak hanya diam.


“Ada apa?” tanya Xavier melihat wajah diam Graciella.


“Tidak. Moira sedang mengambil minun,” ujar Graciella meletakkan piring itu di atas sebuah kursi karena memang tak ada meja di sana.


“Moira memang anak kandung kita. Tapi dia sudah lama hidup di sini dan juga bersama mereka. Dia tidak akan mudah untuk bisa berubah dari hal-hal yang biasa dia lakukan,” ujar Xavier yang merangkul tubuh Graciella. Mencoba memberikan pelukan menenangkan untuk Graciella.


Graciella tidak langsung membalas. Dia hanya melihat lurus ke arah lorong yang memperlihatkan bagian dapur di mana Anali memberikan gadis kecilnya minuman. Dia memberikannya dengan penuh kasih sayang. Moira pun sangat senang dengan apa yang diberikan oleh ibunya, walau itu hanya segelas air putih.


“Aku tahu itu. Mungkin, aku juga belum terbiasa,” ujar Graciella pada Xavier dengan tersenyum.


Tentu semua ini terasa sangat mengejutkan untuk kedua belah pihak. Walaupun sudah mencari Moira begitu lama, nyatanya bertemu dengannya membuat mereka belum terbiasa. Graciella melihat ke arah lorong itu lagi. Anali dan Moira sudah berjalan ke arah mereka.


Graciella tentu tidak setuju. Ini masih pertengahan hari yang panas. Dia juga baru makan. Tentu tak baik untuk bermain di luar.  Graciella baru saja ingin melarangnya tapi Moira tak meminta izin padanya. Moira hanya melihat ke arah Anali seolah memelas agar ibunya membiarkannya keluar dari sana.


“Ibu, boleh ya?” pinta Moira dengan wajahnya yang diimutkan, tentu berusaha agar ibunya tidak menolak keinginannya.


“Moira, hari sedang pan ….” Ujar Graciella yang segera ingin berdiri. Tapi Xavier tiba-tiba saja menahannya dari berdiri. Hal itu membuat Graciella bingung dan juga terdiam. Xavier seolah meminta Graciella untuk melihat saja apa yang akan terjadi.


“Baiklah, tapi ingat jangan pulang terlalu sore. Kaoru punya pekerjaan rumah untuk sekolah besok kan?” ujar Anali dengan keibuan mengusap wajah anaknya. Lupa sejenak bahwa di dekatnya ada dua orang yang memperhatikan mereka.


“Asik, boleh bawa boneka?” tanya Moira begitu senangnya hingga senyumannya begitu merekah menunjukkan gigi-giginya yang tersusun rapi. Wajah bahagianya tampak begitu ketara. Tentu membuat Graciella merasakan perasaan yang aneh.


“Boleh, tapi ingat jangan sampai sore.”


“Iya! Kaoru janji tidak akan sampai sore!” ujar Moira yang langsung menghambur masuk ke dalam kamarnya. Tak lama gadis kecil itu langsung keluar dengan bonekanya yang cukup besar. Berlari dengan senyumnya yang merekah. Tampak sangat ceria.


“Ibu, aku pergi dulu!” ujar Moira segera keluar melewati Graciella dan juga Xavier. Graciella hanya memandang putrinya pergi dengan wajah yang sedikit khawatir.


Anali tersenyum mengantar kepergian Moira yang langsung disambut oleh anak-anak yang ada di sana. Graciella langsung berdiri dan melihat Moira sudah pergi menjauh untuk pergi bersama dengan anak-anak lain.


“Apakah ini tidak apa-apa, udara sangat panas,” ujar Graciella dengan wajah cemas.


“Oh, maafkan saya Nyonya. Tapi memang Kaoru sangat suka bermain dengan anak-anak itu. Aku tidak tahan melihat Kaoru yang akan sedih karena tidak bisa pergi dengan teman-temannya. Kaori pasti menurut jika aku melarangnya tapi dia akan jadi sedih. Jadi Nyonya, maaf jika aku membiarkan Kaori untuk bermain. Dia anak yang kuat jadi tentunya dia akan baik-baik saja,” ujar Anali menjelaskan apa alasanya membiarkan Moira pergi.


Graciella terdiam. Entah kenapa kata-kata Anali malah membuatnya tersadar. Dia lalu melihat ke arah Moira yang tampak senang bermain bersama dengan teman-temannya di sebuah lapangan yang tak jauh dari rumah itu.


“Nyonya, saya izin untuk masuk ke dalam dulu,” ujar Anali meminat izin. Graciella hanya mengangguk pelan.


Saat Alani beranjak pergi, Xavier berdiri dan mendekati Graciella, berdiri tepat dibelakang Graceilla. Lalu melihat ke arah Moira yang sedang bermain dengan teman-temannya. Xavier meletakkan tangannya di pundak Graciella.


Graciella melirik sekilas ke arah Xavier lalu memegang tangan Xavier  yang juga memandang ke arah yang sama dengannya.


“Aku merasa aku memang ibu kandungnya. Tapi aku sama sekali tidak tahu apa yang membuat anakku senang. Mungkin jika kau tidak menahanku tadi, aku akan membuat Moira sedih karena tidak bisa bermain seperti itu,” ujar Graciella lagi memandang Xavier.


Xavier tidak menjawab. Dia hanya  melemparkan sebuah senyuman singkatnya. Graciella yang melihat itu hanya tersenyum kembali memandang Moira yang sekarang sedang bermain bonekanya bersama dengan teman-teman sepantarannya.