
"Ya, apa kakak mengenal dia?" tanya Graciella penasaran.
Daren tampak bingung dan tak tahu harus bagaimana menyikapi hal ini. Bagaimana bisa Xavier bertemu dan bersama dengan Greciella kembali? Apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Kak? Ada apa?" Tanya Graciella yang bingung dengan ekspresi Daren. Kenapa tiba-tiba saja Daren tampak syok mendengar nama Xavier.
"Apa yang dia katakan padamu? Lalu apa dia melakukan sesuatu padamu? Bagaimana bisa dia datang lagi padamu?" Cerca Daren pada Greciella yang mengerutkan dahinya.
"Ehm, tidak ada apa-apa, kami hanya kenal begitu saja. Dan apa maksud kakak dengan 'datang lagi'?" tanya Graciella semakin penasaran.
Daren terdiam. Dia terlalu kaget hingga tak menyaring apa yang hendak dia katakan. Sepertinya Xavier juga tak memaksakan Graciella untuk mengingat tentangnya jika iya pasti Graciella tak akan bertanya begitu. Lagi pula, seingat Daren, Stevan juga pernah mengatakan bahwa Xavier juga kehilangan memorinya. Tapi bagaimana bisa mereka kembali bersama? Apakah ini yang dinamakan jodoh? Walau tak mengingat, tapi masih bisa bersama? Bagaimana harus Daren bersikap.
"Bukan, aku hanya salah berbicara. Tapi aku memang pernah bertemu dan sedikit mengenalnya," ujar Daren pelan tak menggebu-gebu seperti yang tadi. Dia harus lebih tenang untuk bisa menyikapinya. Salah ekspresi saja akan membuat Graciella bertanya-tanya. Hal itu membuat Graciella tentu akan memaksakan ingatannya dan kata dokter itu tidak baik untuknya.
"Benarkah?"
"Ya. Graciella, apakah benar dia sudah bercerai? Aku tahu dia sudah menikah beberapa tahun yang lalu."
"Seperti itu yang dia katakan tadi malam. Aku juga tidak tahu pasti. Dia datang dan menunjukkan bekas cincin di jarinya. Lalu dia minta menginap karena tidak ingin ada yang tahu di mana keberadaannya, tadi pagi dia pergi begitu saja. Ah! Sudah aku hanya membuat pengakuan itu pada kakak. Kami juga baru bertemu beberapa kali, tak perlu dicemaskan." Tanpa di sadarinya Graciella tampak begitu sumringah saat berbicara tentang Xavier.
Daren mengangguk pelan. Dia lalu memajukan tubuhnya lebih condong ke arah Graciella. Memandang wajah Graciella dengan sangat seksama.
"Apakah kau menyukainya?" tanya Daren tiba-tiba.
Graciella tentu kaget dengan pertanyaan Daren. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang hingga membuat pipinya panas. Seketika saja, tanpa menjawab, Daren sudah tahu jawabannya dari wajah Graciella yang tampak bersemu merah. Tapi Graciella sendiri tak tahu, apakah dia menyukai pria itu atau tidak, tapi dia harus akui, perasaannya begitu aneh hanya dengan memikirkan tentang Xavier. Graciella hanya menunduk menutupi wajahnya yang lebih memerah.
Daren memipihkan bibir. Soal perasaan siapa pun memang tidak bisa memaksakan. Dulu Daren juga pernah menaruh hati pada wanita di depannya ini. Pernah juga dia mencoba untuk memenangkan hatinya, tapi Graciella sama sekali tidak merespon perasaannya. Wanita ini malah membangun tembok tinggi dengan panggilan kakak hingga akhirnya dia menyerah dan mengikhlaskan. Dia mencoba untuk menemukan cinta yang lain dan akhirnya dia bisa bersama dengan istrinya sekarang.
Tapi lihatlah, Xavier bahkan tidak perlu melakukan apa pun untuk memenangkan hati Graciella. Dia hanya datang dan bertemu dengan Graciella. Dan begitu saja sudah membuat Graciella begitu tersipu.
Saat Graciella sedang mencoba menenangkan dirinya, tiba-tiba saja ponsel Graciella bergetar. Graciella langsung melihat ke arah ponselnya, nama Laura terpampang di sana.
“Sebentar kakak, Laura,” ujar Graciella menunjukkan ponsel itu pada Daren. Daren mengangguk pelan sambil mempersilakan Graciella untuk mengangkat ponselnya. Graciella langsung menjawab panggilan itu.
“Halo, laura? Ada apa?” ujar Graciella segera.
“Gracie? Kau ada di mana?” tanya Laura dengan suara yang terdengar buru-buru dan cemas juga terselip sedikit kesedihan. Tentu hal itu membuat Graciella langsung mengerutkan dahi.
“Aku sekarang sedang ada di kantor, sedang bekerja. Laura? Ada apa?” tanya Graciella, nalurinya mengatakan bahwa ada yang tidak beres dengan Laura. Wanita ini tidak akan pernah bisa menunjukkan kesedihan, tapi kenapa sekarang terdengar isak tangis di panggilan telepon itu. “Laura ada apa?” tanya Graciella sekali lagi.
Tentu hal itu membuat Daren memasang wajah seriusnya. Apalagi melihat ekspresi Graciella yang tampak cemas.
“Menikah? Antony? Bukannya dia akan menikah dengan orang lain dua hari lagi? Bagaimana bisa kau akan menikah dengannya?” cerca Graciella yang tampak kaget. Bukannya dari dulu Laura tak pernah menyukai pria itu. Seberapa pun pria itu mengejarnya, dia selalu saja menolak kehadiran pria itu. Lalu bukannya kemarin Stevan mengatakan bahwa Antony akan menikahi wanita lain, jadi sekarang kenapa dia sekarang malah akan menikahi Laura minggu ini.
Daren yang hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Graciella menjadi mengerutkan dahinya setelah melihat Graciella semakin panik. Graciella hanya menggigit bibirnya menunggu Laura yang hanya diam saja.
“Laura, jangan membuatku khawatir! Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Graciella lagi karena tak sabar menunggu.
“Gracie. Aku tidak bisa mengatakannya di sini sekarang. Bisakah kau datang sekarang?” tanya Laura lagi terdengar berharap.
“Eh? Aku akan bertanya dulu dengan Kak Daren apakah aku bisa izin dulu dari sini atau tidak, ini adalah hari pertamaku,” ujar Graciella melihat ke arah Daren.
Daren hanya mengangguk sambil berbisik, “Pergilah!”
“Aku mohon datanglah sekarang,” ujar Laura lagi memelas.
“Baiklah, baiklah, aku sepertinya sudah mendapat izin dari kakak, baiklah, aku akan menemuimu. Kau ada di mana? Di apartemenmu atau di rumah orang tuamu?” tanya Graciella langsung berdiri setelah Daren mengizinkannya pergi.
“Aku ada di rumah orang tuaku. Datanglah ke mari secepatnya,” pinta Laura lagi.
“Iya, iya, baiklah,aku akan segera datang, paling lama dua puluh menit lagi aku akan sampai di sana. Tunggulah sebentar,” ujar Graciella lagi ingin segera berjalan ke pintu keluar kantor Daren.
“Baiklah, sampai jumpa,” ujar Laura terdengar menarik napasnya dengan suara sedikit berair. Graciella segera mematikan panggilan itu. “Kakak, aku pergi dulu,” ujar Graciella sebelum dia benar-benar meninggalkan tempat itu.
“Graciella!” panggil Daren yang masih tampak berpikir.
“Ya?” saut Graciella.
“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Lebih baik kau tidak mengatakan tentang Xavier sementara, baik pada Laura ataupun Stevan.” ujar Daren dengan sedikit tersenyum. Bukan dia ingin mengkhianati Laura ataupun Stevan. Tapi dia juga tidak ingin menghalangi kebahagiaan Graciella. Walaupun Xavier adalah sumber luka dari Graciella menurut Laura dan Stevan, tapi di sisi lain, Daren bisa melihat cahaya kehidupan yang lebih menyala ketika Graciella membicarakan tentang Xavier. Lalu apa haknya untuk memisahkan mereka berdua?
Graciella mendengar itu mengerutkan dahinya, “Kenapa?”
“Hanya memberikan saran. Lebih baik jangan membicarakan tentangnya pada siapa pun. Xavier dan Stevan, mereka punya hubungan yang tidak baik sekarang,” ujar Daren lagi.
Graciella masih merasa tidak puas dengan jawaban yang terlontar dari bibir Daren tapi Graciella juga tidak bisa berlama-lama di sana. Graciella hanya mengangguk sejenak dan meninggalkan pertanyaan itu di dalam pikirannya. Melihat Graciella mengangguk, Daren hanya melepaskan adik angkatnya itu dengan balasan senyuman sebelum Graciella menghilang dari ruangan. Benarkah langkah yang diambil Daren sekarang?
...****************...
Maaf kak aku upnya 2 dulu ya, besok aku sambung lagi lebih banyak.