
“Ya, kalau aku jadi dia, aku juga pasti tidak ingin bertemu siapa-siapa. Aku tidak tahu apakah dia beruntung karena pergi, atau tidak, menanggung semua itu pastinya sangat menyakitkan. Aku rasa aku lebih memilih mati dari pada harus tersiksa mengingat tentang keluargaku.” Helena mengambil foto yang diberikan Ferdinand tadi.
“Tapi setidaknya dia ada di tangan yang tepat. Tuan Kane dan istrinya begitu menyayangi Yuki. Aku dengar mereka sudah mengajukan hak asuh terhadap Yuki sebagai tanda balas budi mereka karena orang tua Yuki sudah mengangkat derajat mereka hingga seperti sekarang.”
“Tuan Kane perawakannya juga kecil bukan?” ujar Helena lagi. Graciella memandang Helena saat dia mengatakan hal itu.
“Ya, tapi untuk apa dia membunuh keluarga kakak iparnya. Hubungannya dengan Tuan Sato sangat baik. Mereka bahkan tidak pernah bertengkar sama sekali. Sebelum hari pembantaian, Tuan Kane bahkan mengadakan pesta kecil-kecilan bersama mereka. Lalu, untuk masalah persaingan bisnis atau iri, Tuan Sato sudah mengatakan akan menyerahkan perusahaannya untuk dipegang oleh Tuan Kane minggu depan. Dia tidak perlu membunuh kakak iparnya untuk mendapatkan perusahaan itu bukan?” ujar Ferdinand.
“Jika memang mereka ingin melakukannya, pasti alasannya lebih dari itu semua.” Mata Graciella tampak menerawang jauh sambil dia mengatakan hal itu. Dia memutar otaknya menghubungkan semuanya.
“Ya, benar. Tapi apa yang ingin diambil oleh Tuan Kane dari Tuan Sato. Sangat tidak masuk akal. Masalahnya apa yang dipunya oleh Tuan Sato, Tuan Kane pun bisa mendapatkannya.” Helena mengerutkan dahinya.
“Aku rasa besok aku ingin pergi ke rumah Tuan Kane. Aku ingin bertemu dengan Tuan Kane dan isterinya juga Yuri,” ujar Graciella menatap Ferdinand dan juga Helena bergantian.
“Baiklah, itu semua bisa di atur,” ujar Helena langsung.
...****************...
Graciella duduk dengan sopan di ruang tamu yang cukup besar. Dari tadi dia diam-diam sudah mengamati keadaan rumah itu. Rumah Tuan Kane jauh lebih besar dari pada rumah Tuan Sato. Hal ini menandakan bahwa kecil kemungkinan bahwa Tuan Kane menyerang keluarga Tuan Sato dengan alasan uang.
“Silakan diminum. Yuki akan turun sebentar lagi. Dia memang sedikit susah untuk dirayu keluar semenjak orang tuanya meninggal,” ujar Tuan Kane dengan senyuman ramahnya. Saat dia tersenyum matanya langsung hilang karena tinggal segaris.
“Ya, dia sangat terpukul. Aku bahkan sampai sekarang tidak bisa tidur karena mengingat apa yang aku lihat di rumah itu,” ujar Nyonya Kane yang langsung meneteskan air matanya. Tuan Kane langsung mengelus pundak istrinya. Pasangan yang harmonis.
Graciella mengerti kenapa Nyonya Kane tampak sangat syok. Menurut data yang diberikan pada Graciella. Dia adalah orang pertama yang datang ke rumah dan menemukan keluarga kakaknya telah dibantai.
“Aku pergi ke kantor dan menemukan semuanya masih terkunci. Biasanya kak Sato tidak mungkin terlambat jika dia tidak sakit. Bahkan jika dia sakit pun, dia pasti akan segera mengatakan padaku untuk mengambil kunci kantor ke rumah. Tapi pagi itu dia sama sekali tidak mengabari apa pun. Karena cemas, aku segera menyuruh istriku untuk ke rumah Kak Sato, sedangkan aku harus ke pabrik,” jelas Tuan Kane dengan keadaan di pagi hari yang tenang itu.
“Ya, aku datang dan pintu rumah sudah tidak dikunci. Itu aneh, kakakku orang yang punya OCD, dia bisa menutup dan membuka kunci pintu itu berulang kali hingga dia puas dan merasa yakin pintu utama itu sudah tertutup,” ujar Nyonya Kane lagi. Mengelap hidungnya yang basah karena air matanya.
Graciella hanya mengangguk. Kata-kata itu sama dengan apa yang mereka sampaikan di kantor polisi. Mereka sudah di interogasi selama lebih dari 8 jam sebelum diperbolehkan untuk pulang.
Mata Graciella berpindah saat sosok seorang anak perempuan dengan usia 15 tahunan datang. Wajahnya tampak begitu tertekan dan murung.
“Ini Yuki. Aku harap kalian jangan terlalu keras dengannya. Dia sangat tertekan sekarang,” ujar Tuan Kane dengan senyuman ramahnya. Dia memanggil Yuki dengan gesturnya dan meminta Yuki untu duduk di tengah-tengah antara dirinya dan istrinya. Yuki tampak menurut. Tapi dia hanya memandang Graciella dengan tatapan kosongnya. Yang membuat Graciella merasa aneh. Anak ini malah langsung menatapnya lurus ke arah matanya.
“Yuki, bagaimana keadaanmu?” tanya Cindy basa-basi.
Yuki hanya memipihkan bibirnya. Tak lama dia menunduk sambil memegang kedua tangannya. Tuan Kane melihat itu langsung tampak simpati, Nyonya Kane mengelus punggung keponakannya itu.
“Bisakah kalian tidak terus menanyakan hal ini padanya. Dia baru saja tidak menangis beberapa hari ini,” ujar Nyonya Kane yang merasa kasihan.
“Silakan, kamar mandi ada di belakang lorong itu. Apakah Anda perlu saya tunjukkan?” tanya Nyonya Kane ramah.
“Oh, tidak perlu. Aku akan mencarinya sendiri. Kalian tanyakanlah apa yang ingin kalian tanyakan. Sangat jarang bukan Yuki keluar dari kamarnya,” ujar Graciella berdiri dan membawa tasnya. Yuki menaikkan kepalanya dengan bibir yang berkerut. Graciella hanya memberikannya senyuman lalu pergi ke arah yang ditunjuk oleh Nyonya Kane.
Helena dan Ferdinand langsung gelagapan dengan perintah dari Graciella. Sebenarnya mereka belum siap untuk mengajukan pertanyaan pada Tuan Kane, Yuki ataupun Nyonya Kane. Jadi mereka segera membuka kembali catatan-catatan mereka.
Graciella segera kembali dari kamar mandi itu. Melihat mereka masih terlibat pembicaraan. Yuki masih banyak menunduk.
“Bagaimana? Apakah sudah cukup?” tanya Graciella pada Helena dan Ferdinand yang langsung mengerutkan dahinya. Kenapa malah Graciella bertanya pada mereka? Bukannya yang ingin bertemu dengan keluarga ini awalnya adalah Graciella.
“Ya, sepertinya aku sudah cukup,” ujar Ferdinand.
“Aku juga,” saut Helena.
“Kalau begitu, kami izin dari sini. Kami akan segera menemukan pembunuh orang tuamu, tenang saja,” ujar Graciella tersenyum.
“Baiklah, terima kasih,” ujar Nyonya Kane yang memeluk Yuki.
Helena dan Ferdinand yang lagi-lagi bingung dan tidak bisa menebak jalan pikiran Graciella hanya diam saja mengikuti wanita itu mulai berjalan keluar. Graciella melihat ke arah rak sepatu di dekat pintu.
“Oh, ya, maafkan aku, aku hampir lupa dengan pertanyaan penting ini,” kata Graciella membalikan tubuhnya. Melihat Tuan Kane tampak gantian merangkul Yuki. Seperti menguatkan anak itu agar tak terjatuh.
“Apa itu?” tanya Nyonya Kane.
“Tuan, Nyonya, Yuki, berapa ukuran sepatu kalian?” tanya Graciella. Helena dan Ferdinand kembali mengerutkan dahinya. Kemarin bukannya Graciella bilang itu bukanlah patokan. Tapi kenapa sekarang malah mengatakan hal itu penting.
“Kakiku kecil. Aku memakai ukuran 38,” ujar Nyonya Kane.
“Ukuran sepatuku 42, walau tubuhku kecil, kakiku cukup besar,” ujar Tuan Kane.
“Lalu Yuki?” tanya Graciella.
“40, ukuranku 40. Kapan aku bisa kembali ke rumah. Aku ingin mengambil laptopku. Bisakah kalian mengambilkannya untukku?” kata Yuki tiba-tiba.
Graciella tersenyum lalu mengangguk. “Tentu, aku punya akses masuk ke rumahmu. Aku akan mengambilkannya.”
“Terima kasih,” ujar Yuki langsung.
“Baiklah, kami pulang dulu,” ujar Graciella dengan senyuman tipis mengembang. Lagi-lagi itu membuat Helena dan juga Ferdinand kaget dengan tingkah Graciella. Dia terlalu banyak tersenyum di rumah ini.