
"Kau ingin kemana?" tanya Laura melihat Antony yang menggunakan jas formalnya. Saat ini dia terduduk di ruang tengah villa yang sangat mewah itu.
Antony mengizinkannya untuk keluar dari kamar. Menikmati Villa yang benar-benar lengkap menurut Laura. Ruangan gym yang langsung menghadap ke arah kolam renang, ruang baca hingga bioskop mini juga ada di dalamnya. Jika tak memikirkan sekarang dirinya disekap. Sebenarnya Laura akan senang hidup di sini.
"Aku tidak bisa ada di sini terus menerus," ujar Antony melirik ke arah Laura sekilas lalu kembali membenarkan jasnya.
"Apa aku tidak bisa keluar?"
"Tidak!" Antony melihar pantulan Laura dari kaca itu. Jauh lebih segar dan sehat. Bahkan tidak ada tanda-tanda bahwa dia baru saja membuat semua orang panik karena kondisinya. "Semua kebutuhanmu akan disediakan oleh pelayan. Minta saja, mereka akan mengabulkannya."
"Kalau aku minta pergi ke Mall? Memangnya mereka akan mengabulkannya?" Sungut Laura.
"Selain pergi dari sini. Semua akan disiapkan."
"Tak adil. Kau bisa pergi dari sini. Sedangkan aku tidak!"
"Jika boleh memilih. Aku akan memilih tetap di sini." Antony tampak mulai berjalan ke arah pintu. Melihat itu Laura langsung sedikit gelagapan. Dia langsung berdiri di depan Antony. Sudah hilang rasa sempoyongannya.
"Antony-- kau tidak bisa menahanku seperti ini. Apa kau tidak pernah mendengar bahwa perasaan tidak bisa dipaksakan. Aku mengakui kesalahanku sangat fatal yang mencoba menggodamu dulu. Tapi-- kau tidak harus melakukan ini. Tolong jangan memaksa." Laura memelas. Mencoba sekali lagi memohon pada Antony. Walau hidup di sangkar emas. Kebebasan adalah hal yang tidak bisa diganti oleh apa pun.
Antony hanya memandang ke arah Laura yang menggigit bibirnya. Ingin tahu apa yang akan dilontarkan oleh pria ini. "Aku tidak sedang memaksa, aku sedang mencoba."
Mendengar itu bahu Laura yang tadinya terangkat langsung jatuh seketika. Kenapa sekarang Antony jadi sangat keras kepala. Kenapa tidak menurut seperti Antony yang dulu saja sih?
"Baiklah. Mencoba juga ada batasnya. Sampai kapan kau akan mencoba? Kau tidak akan mencoba selamanya kan? Kalau selamanya, itu pemaksaan!"
"Sampai aku menyerah." Singkat Antony seraya membenarkan jamnya. Seolah acuh tak acuh dengan apa yang dikatakan oleh Laura. Setelah itu baru dia melirik sejenak wajah Laura yang sudah memerah. Kesal sekali sepertinya.
Laura benar-benar kesal! Dia ingin berteriak geram melihat tingkah dari Antony. Bagaimana bisa dia hanya mengatakan 'sampai aku menyerah.'
"Ya tapi sampai kapan? Kapan kau akan menyerah?" Tanya Laura mengikuti Antony menuju ke arah pintu utama.
"Tunggu saja. Akan ku beritahu. Tak perlu terburu-buru," ujar Antony yang sekali lagi tak memperdulikan Laura. Dia langsung masuk ke dalam mobil sedan yang tentu saja bukan mobil dinasnya. Dia harus mengelabui hingga harus berganti beberapa kali mobil hanya memastikan tak ada yang mengikutinya.
Laura mengepalkan kedua tangannya di depan dada dan menggertakkan giginya dengan keras tanda dia begitu kesal. Antony yang sekarang sungguh semakin menyebalkan.
"Pria memang semuanya brengsek! aku kan ingin bertemu dengan orang tuaku!" Gumam Laura yang yakin Antony tidak mendengarkannya karena Antony sudah masuk ke dalam mobilnya.
Antony hanya memandang wajah Laura yang menyimpan kesal. Tentu saja itu wajah kesukaannya. Walau tampak berlebihan, dari dulu dia suka memancing itu semua.
Tiba-tiba kaca mobil hitam itu turun. Laura mengerutkan dahinya menatap Antony yang hanya menaikkan sudut bibirnya.
"Jika kau menjadi anak yang baik, aku akan membiarkanmu melihat orang tuamu dari jauh sekali dalam sebulan," kata Antony.
Laura membesarkan matanya. Tapi tak lama langsung menyipit curiga. "Anak baik bagaimana?"
"Jadilah gadis yang penurut dan tidak membuat aku kesal. Aku akan membawamu melihat orang tuamu."
"Kau tidak bohong kan?" Tanya Laura masih dengan mata menyipit curiga.
"Aku tidak pernah berbohong. Pikirkanlah apakah kau sanggup atau tidak." Antony menaikkan sudut bibirnya semakin menunjukkan senyumannya. Laura baru sadar senyuman tipis tadi sudah berubah menjadi senyuman yang begitu manis.
"Baiklah, aku akan memikirkannya."
Mobil sedan hitam itu langsung meninggalkan halaman villa megah bak istana yang ada di atas gunung itu. Mata Laura silau melihat sekelilingnya dibatasi oleh pagar beton setinggi lebih dari tiga meter. Di setiap sisinya ada penjaga dan juga kamera pengawas. Jika dari luar orang pasti menyangka ini adalah penjara. Bukan rumah mewah.
Namun, bagi Laura tempat ini benar-benar penjaranya. Dia melihat lagi sekelilingnya yang dipenuhi bunga-bunga. Tamannya yang indah buat sebuah penjara.
...****************...
Graciella mengambil salah satu baju bekerjanya. Dia menggunakamnya dan tampak baju itu sudah cukup kekecilan untuk menutupi perutnya yang mulai membuncit. Tiga bulan saja perutnya sudah ketara. Mungkin akibat dari makanan yang terus harus dia habiskan terutama dari mertuanya.
"Apa aku gendutan? Sepertinya iya," tanya Graciella melihat pipinya yang sedikit chubby. Xavier yang sedang menggunakan pakaian dinasnya hanya melirik tingkah istrinya tanpa berkomentar. Dia melanjutkan saja melakukan tugasnya.
"Kenapa tidak menjawab?" Tanya Graciella kesal. Suaminya acuh saja dengannya.
Xavier mengerutkan dahinya. Semenjak hamil Graciella tampak lebih manja. Dia suka itu tapi terkadang membuatnya bingung.
"Bukannya kau bertanya dan sudah menjawabnya sendiri?" Kilah Xavier.
"Jawab saja," ambek Graciella.
"Ehm, tidak juga." Xavier lebih menyukai Graciella yang sekarang. Tubuhnya lebih berisi sehingga terlihat lebih enak dipandang.
"Tidak juga? Berarti iya?"
Xavier mengerutkan dahinya. "Tidak juga."
"Lalu?"
"Hanya tidak juga."
Graciella memipihkan bibirnya. Dia sadar dia sudah membuat suaminya serba salah. Apalagi sebenarnya Xavier bukan tipe suami yang bisa menggodanya dengan kata-kata.
"Bagi wanita tidak juga itu artinya iya," ujar Graciella merapikan pakaian dinas yang selalu membuat Xavier tampak begitu gagahnya.
"Benarkah? Aku rasa mempelajari kamus wanita lebih susah dari pada belajar bahasa Rusia."
Graciella terkekeh mendengar kata-kata suaminya. Walaupun Xavier mengatakan hal itu dengan serius tapi bagi Graciella itu terasa lucu.
"Hari ini harinya?" Tanya Xavier.
Greciella mengangguk. "Ya, aku sudah membuat janji dengan dokternya. Jam 11 nanti, bisa datang tidak?"
"Aku usahakan."
"Jika ada pertemuan atau pekerjaan penting, tak apa. Bulan lalu aku juga periksa kandungan sendiri."
"Aku usahakan. Tunggu saja."
"Baiklah," ujar Graciella dengan senyuman mengembang.
Xavier mengecup dahi istrinya seperti biasanya dia ingin pergi bekerja. Tapi kali ini dia sedikit berbeda. Ranum bibir istrinya yang pagi ini tampak lebih merah menggodanya untuk mengecup bibir Graciella. Kalau dipikir-pikir, sudah lama dia tak merasakan kenyalnya.