
“Aku akan pulang nanti malam," ujar Xavier sebelum masuk ke dalam mobil yang akan membawanya pergi. Graciella hanya mengangguk pelan. Xavier menaikkan sudut bibirnya.
“Baiklah! Hati-hati!” teriak Stevan pada Xavier dengan sangat semangat.
“Aku titipkan dia sejenak padamu.” Xavier tahu bahwa hari ini Stevan tidak begitu padat jadwalnya.
“Tenang saja, aku akan menjaganya seperti pacarku sendiri. Semangat untuk mengawasi bawahanmu!” ujar Stevan asal saja yang langsung membuat Xavier menyipitkan matanya ke arah Stevan. Mengeluarkan aura mengancamnya hanya dengan tatapan itu. “Tidak, tidak, jangan tatap aku seperti itu. Kau lihat! Bagaimana kau bisa hidup dengan pria yang mukanya selalu kejam seperti itu, lebih baik menikah denganku, kau pasti tertawa terus menerus,” rayu Stevan yang melihat Graciella tertawa tipis melihat tingkahnya dan Xavier.
“Stevan!” suara berat itu terdengar cukup kesal.
“Pergilah nanti kau akan terlambat," ujar Graciella yang merasa pertengkaran ini tak akan ada habisnya.
“Baiklah," ujar Xavier yang langsung naik ke dalam mobilnya. Graciella melambaikan tangannya melihat mobil itu keluar dari halaman rumah.
“Nona Graciella, ayo masuk,” ajak Stevan. Graciella segera mengangguk dan berjalan perlahan. Kakinya sudah tak begitu nyeri lagi, mungkin esok dia ingin melihat apakah jahitannya sudah bisa dibuka atau tidak.
“Irjen Stevan, Anda tidak bekerja?” tanya Graciella melihat pria itu masih santai dengan pakaian rumahnya. Tidak seperti Xavier, bahkan sebelum Graciella bangun, pria itu sudah selesai berolahraga dan segera bersiap untuk melakukan tugasnya.
“Ehm? panggil aku Stevan saja, bukannya itu terdengar lebih intim, maksudku akrab. Ya, aku tidak harus ke kantor terlalu pagi. Ada beberapa hal yang bisa aku lakukan dari rumah, Nona Graciella," ujar Stevan.
“Kalau begitu, kau juga harus memangil aku Graciella saja.” Graciella merasa sedikit aneh dipanggil Nona oleh Stevan.
“Ehm, tidak mau. Aku selalu memanggil wanita cantik dengan sebutan ‘Nona’ itu penghargaan ku terhadap mereka," ujar Stevan lagi segera duduk di sofa ruang tengah. “Nona Graciella, di sini saja. Xavier sangat cerewet memintaku untuk menjagamu. Jadi kau jangan jauh-jauh dariku," ujar Stevan dengan senyumannya yang sumringah.
Graciella mengerutkan dahinya. Pria ini susah ditebak. Antara serius atau tidak, tidak terlihat karena sifatnya yang terlalu ramah. Graciella hanya melempar senyum dan duduk di sofa tunggal di dekat Stevan. Stevan lalu segera fokus dengan tablet yang ada di depan. Wajahnya yang selalu penuh dengan senyuman itu tiba-tiba tampak serius. Graciella jadi mengerutkan dahinya dan jadi sedikit penasaran.
“Oh, maafkan aku Nona Graciella. Ada beberapa hal yang harus aku kerjakan. Kasus ini membuatku pusing," ujar Stevan melihat Graciella yang hanya diam menatapnya. Dia merasa bersalah karena membiarkan Graciella sendirian.
“Ehm, tidak apa-apa. Apakah kau ingin aku meninggalkanmu, mungkin ada data rahasia yang aku tidak boleh tahu," ujar Graciella lagi.
“Iya, aku tidak mungkin membocorkannya," ujar Graciella.
“Jadi begini!” ujar Stevan yang arah duduknya berubah ke arah Graciella. Graciella melihat Stevan yang tampak serius. Graciella pun mencoba untuk serius menatap ke arah Stevan. “Tak perlu terlalu serius begitu Nona Graciella. Jika kau menatapku begitu, aku takut persahabatanku dan Xavier akan berakhir karena aku harus merebutmu darinya.” Stevan tampak terkekeh melihat Graciella.
Graciella memandang aneh pada Stevan. Padahal dia sudah berusaha untuk serius, pria ini malah kembali bercanda. Graciella bingung, harus bagaimana menanggapi Stevan. Bagaimana orang yang seperti ini bisa menjadi seorang Inspektur Jendral di kepolisian.
“Baiklah, aku akan menjelaskan dengan serius. Jadi … dua minggu yang lalu ada sebuah kasus kematian seorang wanita yang mengikuti sebuah aliran sesat karena ada tato pentagam di tangan kirinya. Jadi sebelumnya dia dibawa ke rumah sakit oleh seorang pria. Pria ini adalah seorang direktur utama sebuah perusahaan besar. Perusahaan itu sebenarnya adalah milik keluarga istrinya. Dia membawanya ke IGD dan mengatakan dia menyelamatkan wanita itu dari beberapa pria yang menggunakan pakaian seperti pakaian aliran sesat saat mereka melakukan ritual. Dia melihat wanita itu menusukkan sendiri pisau ke bagian dadanya. Di pisau yang ditemukan juga hanya ada sidik jadi wanita dan pria penolong karena dia memberikan pengakuan bahwa dia yang menarik pisau itu keluar dari dada wanita itu. Di rumah sakit, Suster yang menjadi saksi mengatakan kata-kata terakhir wanita itu adalah bahwa pria itu menyelamatkannya. Jadi kasus di tutup dengan kesimpulan bahwa wanita itu mencoba melukai dirinya sendiri untuk menjadikan dirinya tumbal dari ritual sesat dan hingga sekarang kami sedang mengejar tiga orang yang terlibat dalam aliran sesat itu. Tapi, sampai sekarang orang tua wanita itu tidak bisa menerima bahwa anaknya melakukan bunuh diri karena menjadi pengikut aliran sesat. Mereka percaya bahwa yang membunuh anaknya adalah pria yang menyelamatkannya itu." Stevan akhirnya benar-benar serius menjelaskan tentang apa yang terjadi. Graciella pun dengan serius dan seksama mendengarkan apa yang disampaikan oleh Stevan.
“Bukannya kasus ini terlalu sederhana untuk Anda tangani langsung?” ujar Graciella. Untuk sekelas Inspektur Jendral. Stevan seharusnya melimpahkan kasus seperti ini pada bawahannya.
“Masalahnya adalah ibunya berlutut lebih dari delapan jam di depan rumahku hanya agar aku bisa menelaah ulang kasus ini. Dia mengatakan hanya aku yang bisa membantunya. Apa jika ada ibu yang melakukan hal itu padamu, kau akan bisa menolaknya? Jadi aku setuju dan berjanji akan membantu ibu itu.” Stevan memandang lurus ke arah Graciella yang melirik ke arah tabletnya.
“Itu …. “ kata Graciella melihat foto-foto tentang kasus itu dari tablet Stevan. Graciella mengerutkan dahinya, melihat sebuah mobil berwarna hitam.
“Pria itu membawa wanita itu dengan mobil ini dan segera pergi ke rumah sakit. Di sini ada rekaman CCTV dari pria itu saat melewati lampu merah. Lihatlah wanita itu duduk di depan dengannya," ujar Stevan mulai menganalisa kembali kasusnya.
“Dan ini adalah foto dari dalam mobilnya?” ujar Graciella melihat ke arah sebuah foto yang ada di sana.
“Ya, ini adalah foto yang diambil setelah pihak polisi datang," ujar Stevan.
“Wanita itu duduk di depan bersama pria itu?” tanya Graciella lagi. Stevan mengerutkan dahinya melihat wajah Graciella yang tampak serius berpikir. Bukannya tadi sudah dia tunjukkan foto CCTV bahwa wanita itu didudukan pria itu di sampingnya.
“Ya, dia duduk di sampingnya," ujar Stevan lagi. Seharusnya dia tidak mengajak Graciella untuk membahas hal ini. Seharusnya dia membahas tentang liburan atau apalah yang disukai oleh wanita. Wanita tak terlalu mengerti tentang hal ini.
“Boleh sedikit perbesar foto CCTV itu lagi?” tanya Graciella.