Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 215. Sang Eksekutor


“Tentu saja tidak mungkin karena file itu sudah aku musnahkan dan tak akan bisa lagi kalian temukan jejaknya!” ujar James yang tidak fokus. Kombinasi antara kelelahan dan juga cemas membuatnya jadi asal bicara.


Graciella langsung tersenyum lebar. James membesarkan matanya, “Bukan! Maksudku – aduh!” James tampak begitu panik terjebak oleh permainan Graciella. Padahal mereka tidak pernah mengeledah tempat usaha James apalagi menemukan file itu, semua hanya karangan Graciella semata.


“Seperti aku katakan, di balik kaca itu ada lebih dari tiga orang yang sudah mencatat pengakuan Anda. Dengan bukti hasil tes luminol dan juga pengakuan Anda tadi. Kami sudah memiliki dua bukti untuk menetapkan Anda sebagai tersangka dan menahan Anda!” ujar Graciella seolah begitu menang. Hal itu tentu langsung menciutkan nyali James dan membuatnya benar-benar panik. “Kecuali ….” suara Graciella kembali pelan seolah ingin bernegosiasi.


“Kecuali apa?” ujar James yang langsung membuat Graciella senang. Pria ini mudah dimanipulasi.


“Apakah polisi-polisi tadi sudah mengatakan bahwa bisa saja Anda mendapatkan keringanan bahkan dibebaskan dari segala tuntutan asalkan ….” ujar Graciella sengaja menggantungkannya.


“Asalkan?” tanya James dengan sangat antusias. Kata bebas itu terngiang-ngiang di kepalanya.


“Anda mau bekerja sama dengan kami mengungkapkan kasus ini. Saya tahu, bukan Anda yang menjadi dalang semua ini. Anda pun hanya menjadi korban bukan?” ujar Graciella dengan nada simpati. James mendengar itu bagaikan kerbau yang ditusuk hidungnya, dia hanya mengangguk. “Jadi apakah Anda mau menanggung semua kesalahan orang lain. Anda yang akan ditahan, anak dan istri Anda akan sangat kasihan karena pasti mendapat olokan dari masyarakat di mana ayah dan suaminya dituduh menjadi pembunuh, sedangkan orang yang sebenarnya menjadi dalang semua ini malah pergi bebas?” ujar Graciella lagi dengan nadanya yang seolah-olah benar-benar simpati dengan Tuan James yang sekali lagi, hanya menggeleng mendengarkan perkataan dari Graciella.


“Bayangkan sekarang pria itu sedang santai, mungkin berlibur dengan hasil uangnya membunuh seseorang dan lihatlah Anda! Bahkan untuk memakan sandwich saja susah sekali. Apakah Anda mau?” tanya Graciella lagi.


“Tidak!” tegas James.


“Karena itu, aku berjanji pada Anda. Saya akan memperjuangkan kebebasan Anda asalkan Anda bisa membantu saya untuk menemukan dalang semuanya,” kata Graciella.


“Apakah Anda serius?” tanya James.


“Tentu, saat saya mengatakan saya akan memberikan Anda makanan, Bukannya saya langsung memberikannya?” kata Graciella. James melihat nampan di depannya. Benar juga apa yang dikatakan wanita ini. Dari tadi dia hanya meminta air putih bahkan begitu lama diberikan. Tadi, dia langsung membawakannya makanan enak dan minuman. Rasa percaya tumbuh di hati James.


Graciella tersenyum tipis. Melihat postur dan juga keterangan dari yang dia baca. Dia tahu bahwa salah satu kesukaan dari Tuan James adalah makanan. Karena itu dia memancingnya dahulu dengan makanan. Membuatnya nyaman dan juga senang. Lalu meyakinkannya dengan hal itu pula. Graciella yakin, kombinasi kurang tidur membuat otaknya mengambil segala jalan pintas. Kelelahan membuatnya mudah untuk disugesti apalagi dengan hal yang membuatnya nyaman.


“Baiklah. Kau benar, aku tidak mungkin dipenjara gara-gara dia!” ujar James dengan nada sedikit emosi.


“Dia? siapa? “ tanya Graciella. Semua orang di balik kaca dua arah itu langsung tegang. Rasanya ini detik-detik penentuan. Xavier yang tidak mengikuti kasus ini saja langsung mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah cermin itu. Seolah akan mendapatkan ******* dari cerita ini, dia sudah tak sabar.


“Namanya Dico Huang, dia adalah sepupu istriku. Dia yang memintaku untuk mencetak kartu itu dan juga meminjam mobil besar itu. Aku saja hingga kesusahan mengendarainya. Tapi Nona, aku benar-benar tidak tahu dia melakukan hal itu untuk membunuh. Dia hanya memintaku, karena itu pekerjaanku jadi aku mengikutinya saja.” James mengatakannya dengan sangat menggebu.


Dan akhirnya Graciella bisa menghembuskan napas leganya sekaligus menyandarkan tubuhnya pada kursi itu. Akhirnya dia menemukan nama pria yang menjadi eksekutor dalam kasus ini.


Semua orang yang ada di balik kaca pun tampak sama. Bahkan mereka sedikit bersorak riang. Tentu saja, 18 jam interogasi akhirnya berbuah manis juga.


“Ya. Dia tahu persis cara untuk memanfaatkan momen ini,” kata Stevan.


“Ya, pantas dia bersikeras datang sepagi ini. Di tunggu sebentar lagi, James akan kelelahan dan hasilnya pun tak akan maksimal ini karena dia akan dikuasai emosinya, yang Ada dia akan diam seribu bahasa. Waktu ini sangat tepat,” ujar Xavier bangga. Istrinya benar-benar hebat.


“Baiklah Tuan James, terima kasih atas informasi yang Anda berikan. Saya sangat senang mendengarnya,” ujar Graciella sumringah.


“Nona, kau benar-benar akan membantuku, ‘kan? Aku punya dua anak balita yang harus aku hidupi,” ujar James lagi dengan sangat berharap.


“Tentu, aku akan membujuk Jenderal untuk mengurangi atau bahkan membebaskan Anda karena Anda sudah begitu kooperatif. Anda boleh kembali memakan makanan Anda. Aku akan memesankan kopi kembali. Jika Anda butuh tambahan makanan, katakan saja pada cermin itu, mereka akan memberikannya,” ujar Graciella lagi mengambil file-file yang ada di sana. Berdiri lalu tersenyum sebelum keluar.


Saat Graciella keluar dia langsung kaget melihat tiga pria itu ternyata sudah menunggunya di depan pintu. Stevan yang kegirangan langsung ingin mendekat ke arah Graciella. Tapi urung karena langsung melihat Xavier.


“Apa kau tidak apa-apa?” tanya Xavier. Tadi dia melihat istrinya sedikit tegang berada di dalam sana.


“Ya, aku tidak apa-apa. Ehm, Stevan,” ujar Graciella segera berpindah pada Stevan.


“Ya?” kata Stevan langsung semangat namanya dipanggil oleh Graciella.


“Aku serahkan kasus ini padamu. Kabari aku setelah Dico Huang tertangkap, aku yakin dia adalah orang yang menjadi eksekutor dan menyamar menjadi Xavier. Saat ini aku harus pulang kalau tidak, Tuan berwajah dingin ini tak akan mengizinkanku untuk bekerja lagi,” ujar Graciella melihat suaminya yang hanya berwajah datar.


“Oh! Jangan! Itu tidak boleh terjadi. Pulanglah, Kami akan mengurus kasusnya,” ujar Daren yang langsung menyaut. Tidak boleh terjadi sampai Graciella berhenti bekerja. Biro penyelidikan swastanya sedang sangat naik daun.


“Baiklah, akan ku kabari.” Stevan hanya mengulum senyumnya.


“Ya sudah. Ayo pulang,” ujar Graciella melihat ke arah Xavier dengan senyuman. Seperti janjinya setelah ini terbongkar dia harus kembali beristirahat.


Xavier mengangguk dan segera membawa istrinya keluar dari kantor itu. Stevan hanya melihat kepergian Graciella dengan tatapan sendunya.


“Sudah istri orang. Istri sahabatmu lagi. Mulailah cari wanita lain, perlahan-lahan kau akan dapatkan yang mungkin membuatmu terkejut karena ternyata kau bisa mencintai wanita selain Graciella,” nasehat Daren.


Stevan hanya menarik napasnya. “Ya! Yang penting sekarang fokus mengungkapkan dan mencari siapa Dico Huang itu sebenarnya! Karena aku yakin, dia bukan dalang utamanya!”