
“Sampel DNA?” tanya Ferdinan yang mencatat semua yang dijelaskan oleh Cindy.
“Tidak ditemukan. Korban ke tiga adalah Nyonya Sato. Aku rasa dia tidak meninggal di kamar walaupun dia di temukan di atas ranjangnya. Jejak luminol yang berpendar, menunjukkan bahwa ada darah yang terlah dibersihkan dengan cairan pemutih. Nyonya Sato dibunuh di dekat tangga, kemungkinan ingin melihat keadaan yang terjadi di bawah. Terutama setelah pembunuhan Nyonya Chang. Beliau di seret hingga masuk ke dalam kamar dan di posisikan di atas tempat tidur. Ada jejak darah di karpet walaupun sedikit. DNA juga tidak di temukan.”
Graciella menatap ke arah TKP yang dijelaskan oleh Cindy, melihat gambaran luminol yang berpendar. Tampak gambaran darah yang seperti tertarik di sepanjang lantai dekat tangga menuju kamar.
“TKP Ke empat dan kelima ada di kamar si kembar, mereka dibunuh di kamar mereka. Di duga mereka berusaha untuk menyelamatkan dirinya. Fran ditemukan di dalam lemari bajunya. Sedangkan Faren ditemukan di kamar mandi. Sepertinya dia sempat melawan dengan memukul penjahatnya dengan tongkat baseball, tapi dia juga meregang nyawanya.”
Graciella dan juga Helena langsung berwajah miris melihat foto-foto korban dan tempat kejadian yang sudah lebih dahulu polisi abadikan. Entah monster apa yang bisa menyerang anak-anak kecil tak berdaya seperti ini.
“Bukannya keluarga ini punya seorang gadis remaja?” ujar Graciella, dia ingat tentang gadis itu. Miris sekali dia harus kehilangan semua keluarganya dalam satu malam.
“Ya, Yuki, sekarang dia sudah berada di rumah adik ipar dari Tuan Sato, Tuan Kane. Istri Tuan Kane adalah adik dari Tuan Sato,”
“Di mana kamar dari Yuki?” tanya Graciella.
“Yuki tidak ada di rumah saat itu, jadi dia selamat. Ini adalah kamar dari Yuki,” ujar Cindy menunjukkan sebuah kamar yang berada diantara TKP ke tiga dan ke empat.
“Boleh aku lihat?” ujar Graciella.
“Silakan,” ujar Cindy membuka pintu kamar itu.
Graciella dan Helena masuk ke dalam. Kamar itu khas kamar anak remaja. Semuanya tersusun begitu rapi dan sesuai ciri khas yang empunya. Graciella mengerutkan dahinya lalu segera keluar dari sana.
Graciella lalu melihat foto-foto keluarga di sana. Melihat seperti foto liburan mereka. Graciella melihat sebuah perasaan ganjil saat melihat foto itu.
“Coba foto ini,” ujar Graciella memberikan foto dimana Yuki sedang digandeng oleh seorang pria dan seorang wanita yang bukan ayah dan ibunya.
“Itu adalah Tuan Kane dan istrinya, Yuki sekarang tinggal bersama mereka,” ujar Cindy lagi. Graciella hanya mengangguk-angguk mengerti.
“Apa kamar ini sudah di geledah?” tanya Graciella.
“Oh! Ferdinand, coba tutup pintunya dari dalam,” ujar Graciella lagi. Dia segera memfoto pintu itu. Membuat Cindy bingung. Dari semua TKP, Graciella malah memfoto pintu yang tidak ada jejak kejahatannya sama sekali.
“Apa yang sudah kau dapatkan?” tanya Brigjen Howard melihat Graciella yang baru keluar dari kamar Cindy. Wajahnya tampak berkerut sehingga Brigjen itu tampak sedikit berpikir mungkin wanita ini sudah menemukan sesuatu.
“Tidak, aku harus mencari lagi,” ujar Graciella mencoba melempar senyum dengan pria yang selalu saja ketus dengannya itu.
“Ini adalah jejak sepatu yang kami temukan hasil dari luminol. Setelah diperiksa ukurannya hanya 40. Berjenis sepatu olahraga yang biasa wanita gunakan,” ujar Cindy yang melihat Graciella melihat foto hasil temuan itu lagi.
“Ukurannya umum pada wanita. Jika dia laki-laki itu terlalu kecil, itu tandanya bisa jadi pembunuhnya adalah seorang wanita atau seorang pria yang tubuhnya kecil,” ujar Ferdinand menganalisa.
“Tuan Sato memang terkena isu wanita simpanan setelah sebuah surat kaleng datang ke kantornya. Di sana dia mendapatkan tiga buah surat cinta tanpa pengirim. Hal itu juga yang memicu pemikiran bahwa Nyonya Sato marah pada Tuan Sato dan memintanya untuk tidur di ruang tamu. Karena itu, sudah begitu malam Tuan Sato masih berada di ruang tamu dimana tak ada satu pun alat hiburan di sana,” ujar Cindy lagi.
“Menarik,” ujar Graciella yang tampak terus mengamati rumah itu. Dia benar-benar mengamati setiap sudut ruangan itu. Bahkan orang-orang yang mengikutinya saja sampai lelah. Brigjen Horward saja sudah menyerah mengikuti Graciella.
“Apa hanya itu saja?” ujar Graciella.
Cindy mengerutkan dahinya, hanya itu informasi yang bisa dia dapatkan, apakah masih kurang, rasanya itu informasi yang sangat banyak.
“Ya, Nona Graciella,” ujar Cindy ragu.
Graciella tersenyum lembut. “Baiklah, kalau begitu boleh aku meminta data-data itu dikirimkan ke email-ku. Aku juga ingin data-data perusahaan dan juga keluarga mereka. Bisakah aku mendapatkannya?” tanya Graciella dengan senyumannya yang terus mengembang.
“Ya, tentu,” ujar Cindy.
“Baiklah, jika begitu, aku berterima kasih sudah diizinkan memeriksa tempat ini. Aku akan pergi dahulu dan beristirahat di hotel,” ujar Graciella.
Bukan hanya Cindy yang kebingungan dengan sikap Graciella yang tiba-tiba saja merasa cukup. Helena dan Ferdinand yang menjadi timnya juga kebingungan. Tiba-tiba ingin datang, tiba-tiba saja ingin kembali ke hotel. Mereka hanya bisa mengikutinya saja. Brigjen Polisi Howard pun hanya bisa memandang kepergian wanita itu dengan wajahnya yang tak ada ramah-tamahnya sama sekali,