Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 98


🌻🌻🌻


Melisa terdiam mendengar kan semua perkataan Tante Desy, ia hanya bisa menunduk kan wajahnya sambil terus mengusap perut yang tiba-tiba ada gerakan dari dalam.


"Setahu Tante papa mertuamu sangat mengharapkan anakmu, bahkan yang Tante dengar ia sudah banyak menanam saham untuk cucunya itu, coba bayangan jika terjadi sesuatu padamu?"


Melisa menghela nafas berat dan ia hembuskan secara perlahan, mencoba mengalihkan pandangannya enggan menatap orang di hadapannya itu.


"Jadilah ibu dan istri yang baik, Reza bisa mendapatkan yang lebih darimu, Melisa" ucapnya dengan senyum menyeringai.


"Ayo, kak kita pulang" ajak Ameera.


"Iya, Dek" jawabnya, lalu bangun dari duduknya, ia sangat lega akhirnya sang adik datang dan mengajaknya pulang setidaknya obrolan ini akan segera berakhir.


"Tante, kami pamit pulang dulu" kata Melisa sambil meraih tangan Tante Desy untuk ia cium.


"Baiklah, hati-hati dijalan." pesan Tante Desy setelah Melisa dan Ameera berpamitan secara bergantian.


Iapun mengantar keduanya sampai depan mobil bersama Nusa, anaknya.


"Jaga kandungan mu baik-baik, jika kamu tak ingin di buang seperti sampah" ucapnya pelan namun sangat menyakitkan.


"Iya, Tante, aku akan menjaganya dengan sangat baik, terimakasih" jawabnya dengan senyum manis walau ada genangan air di sudut matanya.


Melisa tak banyak bicara selama perjalanan pulang, ia hanya menjawab apa yang ditanyakan Ameera, selebihnya hanya diam memandang kearah luar mobil.


Sampai mobil tiba dirumah ia harus disadarkan lebih dulu oleh Ameera.


"Kakak, ayo turun"


"Ah, iya dek, tunggu" jawabnya sambil meringsek turun dari mobil.


Ameera langsung menggandeng kakak iparnya itu masuk kedalam rumah yang ternyata masih sepi.


"Papa belom pulang?" tanya Ameera saat keduanya sudah berada di ruang tengah.


"Belum kali, ini sepi banget"


"Mama yang jemput ya?" tanya gadis manis itu lagi.


"Iya, ya udah kakak ke kamar duluan ya" pamit Melisa pada Ameera yang hanya dibalas anggukan.


"Ke kamar, eyang"


"Tumben gak kedapur dulu" gumam eyang sambil menatap arah tangga.


"Di mobil juga diem aja, liatin jalan terus sambil ngusap usap perut" ucap Ameera si polos.


"Kenapa? Tantemu bicara apa disana?" tanya eyang mulai menyelidik.


"Gak tau, kan aku beresin barangku"


"Pasti ada yang tak beres, anak dan ibu masih sama saja" dengus eyang kesal.


_______


Didalam kamar ibu hamil itu menangis terisak-isak meluapkan rasa kesalnya ia tak habis pikir jika adik dari ibu mertuanya itu akan mengatakan jika ia akan di buang seperti sampah bila tak bisa menjaga anaknya.


Ia pasti bisa menjaganya, ini buah hatinya tentu Melisa akan melakukan apapun demi kebaikan sang jabang bayi.


Melisa terus mengusap perut besarnya, Minggu depan genap enam bulan usiannya acara empat bulanan akhirnya diundur menjadi tujuh bulan karna kondisi Melisa yang amat lemah saat itu.


"Mama akan lakukan apapun untukmu, semua yang terbaik, tetaplah ada sampai waktu yang sudah di tentukan mama janji akan lebih memperhatikanmu" ucap Melisa sambil sesekali menyeka air matanya.


Sungguh iya pun takut, berkali-kali terjadi flek padanya membuatnya gusar, belum lagi Reza dan kedua mertuanya yang sangat khawatir terkadang membuat Melisa lebih memilih tak memberi tahukan walau ia tahu itu salah.


Melisa mendapatkan banyak info dari berbagai sumber dan juga dari dokter Caca ia rasa itu cukup untuk menutupi kegelisahannya.


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, belum ada tanda tanda papa mertuanya datang, kini kepalanya sudah sangat sakit ia merasakan mual yang mendadak.


Dengan perlahan ia turun dari tempat tidur mencoba melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, penglihatannya mulai kabur dengan mata sedikit demi sedikit tertutup,


kini tak ada lagi yang bisa ia lihat, gelap.. semuanya menjadi gelap.


🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉


Lidah si Tante harus di kerok pake silet kayanya 😡😡😡..


Like komennya yuk.