Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 87


🌻🌻🌻🌻


Dosen yang begitu terkenal killer membuat Air buru-buru keluar dari kelas dan langsung menuju kantin setelah pelajaran berakhir, otaknya yang habis di peras membuat perutnya terasa amat lapar.


"Sekalian pesan makan dek" ujar Ay saat adiknya menyusul ke kantin.


Bumi tak menjawab, ia langsung pergi mengambil dua piring makanan untuknya dan juga untuk kakaknya.


"Mumet banget, tau begini gak mau cepet gede" oceh Air saat menegak minuman dingin.


"Kak, nanti aku yang anter Yayang ya ke pasar lama" ujar Bumi pada kakaknya.


Air hanya mengangguk tanpa menjawab.


"Gak apa-apa kan?"


Air menatap kedua mata adik kembarnya itu dengan intens.


"Gak apa-apa gimana?, emang apa urusannya sama kakak!" sahut Air.


"Aku yang bakal jagain dia sekarang, dan untuk yang lalu aku mau bilang..." Bumi menarik nafasnya.


"Terimakasih sudah menjadi pelindungnya, dan ada di setiap hari-harinya, kak"


Air masih terus mengunyah makanannya, ia menanggapi santai semua yang di ucapkan adiknya.


"kamu tuh cukup ada buat dia, jangan terlalu di Kekang dan kurangi sikap posesifmu itu"


Air yang memang lebih dulu mengenal Kahyangan sangat tahu tentang gadis itu, mulai dari kebiasaan, hal yang di benci dan harapan Kahyangan, hanya Air yang paham dan sabar menemaninya.


"Aku takut kehilangannya lagi, kak" lirih Bumi, lebih dari tiga tahun ia melewati harinya dalam sepi, berharap dan terus berdoa agar gadis yang memiliki nama seperti yang tertera di kalung yang ia temukan segera datang menemuinya.


Dan kemarin doanya terkabul, kahyangan datang sendiri padanya.


"Jalani saja dulu, kuat lanjut ya kalo gak kuat lepas!"


Ucapan sang kakak membuat ia menautkan dua alisnya, meski tak paham tapi ia urung untuk bertanya karna Air sudah bersiap untuk pergi.


"Jalan dulu ya" pamitnya kemudian yang hanya di balas anggukan kepala oleh Bumi.


.


.


Langkah pemuda tampan baik hati itu terhenti saat kekasihnya datang mendekat, dari jauh gadis itu sudah tersenyum padanya.


"Ay, mau pulang"


"Kalo gue mau ke parkiran berarti gue mau pulang, kalo gue ke hati Lo berarti gue ngajak pacaran" sahutnya sambil terus berjalan.


"Malem jalan yuk, kangen banget, Ay" pintanya manja.


"Emang malem jatah Lo ya?, perasaan malam ini giliran sama sama anak siapa tuh gue lupa!" ujarnya sambil mengingat-ingat.


PLAK..


"Sama aku, Ay" datang lagi seorang gadis yang tiba-tiba memukul bahu Air


"Nah, iya sama kamu!" Air terkekeh, lagi-lagi ia lupa dengan pacarnya sendiri.


"Udah ya, gue mau pulang. Kalian jangan ribut udah dapet jatah masing-masing, Ok" pesan Air pada dua gadis di sisi kanan kirinya.


Tak ada drama Perpisahan apapun, karna Air tak pernah menyentuh para gadis yang ia pacari kecuali tangannya.


.


.


.


Dengan motor besarnya kini ia sudah membelah jalan menuju panti jompo, tempat lain yang sering ia datangi selain persimpangan jalan.


"Assalamualaikum, Mbak Aish" sapa Ay.


"Eh, kakak ganteng baru dateng"


Mendengar suara Air datang Nisa langsung menghampiri, ia menadahkan tangannya di depan wajah Air.


"Preman dari mana nih, Mbak" tanya Ay.


"Beli es, dong kak"


Air merogoh kantong celananya memberi satu lembar uang pada Nisa.


"Aku gak usah, buat kalian aja" ujarnya sambil menarik kursi plastik.


Setelah mendapat apa yang ia mau Nisa dan Mbak Aish langsung keluar dari panti menuju minimarket di sebrang jalan meninggalkan Air yang duduk sambil menelungkup kan wajahnya di atas meja.


.


.


.


.


.


.


"Sepi banget!"


"Eh, ada si Ay kayanya"


"Ay, mbak asih mana?, Ay... Ay.. bangun!"


"Loh, Ay! kenapa?"


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕


Kenapa kak?


Mabok ya🤣🤣🤣🤣


Like komen nya yuk ramai kan ♥️