Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 192


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Abang...


Langit mengurai pelukannya saat suara yang ia hafal seperti ada di belakangnya kini dengan cepat dan reflek ia pun langsung menoleh.


"Sayang"


Pemuda tampan itu bangun dari duduknya dan langsung berdiri di hadapan Cahaya yang nampak sangat kebingungan, terlihat saat ia menatap Langit dan Diana secara bergantian.


Diana yang ikut bangun menyentuh lengan anaknya.


"Bang.. " lirih si bungsu lagi.


Langit menarik nafas pelan sambil meraih tangan Kekasihnya itu yang sangat dingin ia rasa.


"Sama siapa kesini, kok gak bilang Abang? " tanya Langit saat mendekat.


"Gak bilang? , mana ponsel Abang! " sentak gadis itu kesal.


Langit menautkan kedua alisnya lalu mengingat sesuatu.


"Maaf, ponsel Abang di kamar bekas makan malam tadi"


Cahaya yang sudah di ceritakan semuanya beberapa hari lalu hanya bisa diam mencoba menerima kenyataan jika Abang kesayangannya itu kini dimiliki oleh orang lain selain keluarganya yaitu yang lebih berhak tentunya meski secara hukum Langit SAH sebagai anak dari keluarga Rahardian.


"Dek, kenalin ini Mami" ucap Langit yang akhirnya mengenalkan pemilik hatinya itu dengan ibu kandungnya.


"Cahaya" ujar si cantik sambil mengulurkan tangan.


"Diana" balas wanita yang masih berdiri di sisi putranya itu.


Diana tersenyum kearah Cahaya yang masih bersikap dingin padanya, tak ada basa basi atau senyum sama sekali membuat suasana terasa sangat canggung.


"Padahal tadinya gak gini Abang ngenalin kalian" ujar Langit sedih, rencananya gagal untuk mempertemukan Ibu dan kekasihnya itu lusa di apartemen miliknya sendiri.


"Gak apa-apa, lebih cepat lebih baik. Biar Mami bisa cepet kenal, iya kan, Cha? " seru Diana mengusap pipi putih mulus calon menantunya itu.


"Hem, iya tante" jawab Cahaya dengan senyum terpaksa.


"Kok tante sih? panggil Mami ya" pinta Langit.


"Kita belum menikah! " tukas Cahaya yang langsung membuat Langit tersentak.


Langit memeluk lembut tubuh gadis kecilnya, ia dekap seakan tak ingin lagi melepasnya.


"Jangan gitu, Dek. Abang mohon! " bisik Langit dengan begitu pelan.


"Abang sayang kalian semua, kalian dunia Abang" tambahnya lagi dengan nada sangat lirih.


Dua saja sudah sangat membuat ia pusing, kini di tambah lagi dengan rajukan Cahaya meski ini memang salahnya yang sepertinya mengabaikan pesan juga telepon dari si bungsu sampai akhirnya gadis itu nekat datang sendiri.


"Abang ninggalin adek" jawab si bungsu dengan mata berkaca-kaca dalam pelukan Langit.


Diana yang baru kali ini melihat langsung kedekatan mereka sungguh merasa gemas, Si bungsu yang begitu manja sangat cocok dengan si tampan yang memiliki hati hangat dan sabar luar biasa.


"Kalian membuat Mami iri" goda Diana yang langsung membuat pasangan itu menoleh ke arahnya.


"Mami mau aku cariin pasangan? " pertanyaan polos Langit membuat Diana tersentak kaget.


"Kamu ini! " seru Diana yang akhirnya pergi meninggalkan Langit dan Cahaya di pintu kaca balkon.


Keduanya menatap pinggung wanita itu sampai akhirnya Diana hilang di balik pintu kamarnya sendiri.


"Apa dia baik? " tanya Cahaya sambil mendongak kan wajahnya.


"Tentu, sama seperti Buna. Kalian yang terbaik tak ada tandingannya" ucap Langit sembari menangkup wajah gadis Kecilnya itu sampai keduanya tergelak bersama.


"Aku mencintaimu, Bang"


"Hem, apalagi Abang! cinta banget sama kamu!" balasnya yang kembali memeluk cahaya hatinya itu.


"Pamit Mami dulu yuk" Cahaya menggeleng kan kepalanya sebagai jawaban.


"Abang aja, aku tunggu disini ya"


Sorot mata Langit langsung berubah seakan memohon pada Cahaya agar mau ikut dengannya masuk kedalam kamar ibu kandungnya itu.


"Iya.. iya" ucap si bungsu akhirnya pasrah.


Langit langsung tersenyum senang meski ia tahu Cahaya terpaksa melakukannya tapi setidaknya ia ingin calon istrinya itu terbiasa dengan kehadiran Diana di tengah-tengah mereka.


Langit mengetuk pintu kamar sang ibu dan ternyata Nana lah yang membukanya.


"Mami udah tidur?"


"Belum, Bang" jawab Nana sambil menggeser tubuhnya agar tak menghalangi jalan.


Langit yang menggenggam tangan gadis kecilnya itu bergegas masuk berniat untuk berpamitan pada Diana.


"Mam, Abang anter adek dulu ya" ucapnya yang duduk di sisi Diana.


"Iya, Hati-hati dijalan. Chaca nanti main-main lagi ya kesini, Mami seneng ketemu dengan kamu" ucapnya sambil meraih meraih tangan Cahaya.


"Iya, Adek jarang bisa keluar rumah, jadi gak bisa janjiin apa-apa" jawab si bungsu.


"My little princess, Mom" kekeh Langit.


Cahaya mencubit pinggang Kekasihnya sampai meringis kesakitan.


"Kami pamit ya, Mam"


Usai berpamitan pada Diana, pasangan kekasih itu langsung bergegas keluar dari kamar, namun langkah kaki Langit berhenti di ruang tamu karna ada Nana disana.


"Titip Mami ya, kalau ada apa-apa cepat hubungi aku" pesan Langit pada Nana.


"Dan satu lagi! " selak Cahaya tiba-tiba.


"Apa?" tanya Langit bingung.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan pernah panggil calon suami ku dengan sebutan Abang!!


🧚‍♂️🧚‍♂️🧚‍♂️🧚‍♂️🧚‍♂️🧚‍♂️🧚‍♂️🧚‍♂️🧚‍♂️


Ceweknya Rahardian itu galak-galak loh😍😍😍


Karna laki-lakinya pada Bucin 😅😅😅


Like komennya yuk ramaikan.