
🌻🌻🌻
Makan malam usai, semuanya berkumpul di ruang tengah seperti biasa namun ada yang lain karna malam ini ada Bella si gadis yang tak kalah cantik dari Ameera ikut serta berkumpul.
Masih dengan kebiasaan kakak beradik yang tiada hari tanpa berdebat membuat semuanya harus menggelengkan kan kepalanya melihat tingkah keduanya tak ada yang mau mengalah satu sama lain.
Reza akan berhenti jika mama sudah melempar sesuatu tepat di kepalanya atau cubitan panas antara paha atau lengan putra sulungnya itu.
"Udah dong ,kak" rengek Melisa saat kakaknya itu terus menggelitik telapak kakinya.
"kak, udah!" sentak mama saat anak bungsunya itu hampir menangis.
"Bentar mah, belom mewek, ckckck"
"Udah, kasian Adek!" kini Melisa ikut memarahi suaminya.
"Gimana nanti anakmu, kak?" tanya papa yang sudah memeluk anak bungsunya itu yang tadi berlari berhambur memeluk papa.
"Gak dong, anakku mah di sayang" Reza mengusap perut istrinya yang duduk bersandar.
"Kakimu masih bengkak, Mel?" tanya mama.
" Udah gak terlalu, cuma sering keram di telapak kakinya aja kaya kesemutan gitu" jawab Melisa.
"Tapi semua baik baik aja kan?" papa mulai menyelidik.
"Baik, detak jantung juga ok" sahut Reza.
"Tekanan darahnya apa masih tinggi?" mama mulai meringsek mendekati menantunya itu.
"Kaya biasa mah, cuma gak setinggi kemarin saat dirumah eyang"
"Kehamilan mu jangan menjadi beban, santai dan jalani sampai harinya ia lahir" ucap mama merangkul Melisa.
"Iya, Mah, tapi aku tetep takut" jawab Melisa yang sudah menyandarkan kepalanya di bahu sang mertua.
"Kami ada disini, semuanya siap siaga untukmu"
"Iya, Mah.. terimakasih" Melisa selalu terharu dengan semua pesan dari mama dan juga papa karna ia tak mendapatkan itu dari orangtuanya terutama ibunya yang entah kemana dan dimana keberadaannya. Setahun ini tanpa kabar berita bagai di telan bumi, bohong besar jika ia tak merindukan sosok wanita yang melahirkannya itu, jauh di sudut hatinya banyak pertanyaan yang ia tak temukan jawabannya.
"Ko ngelamun" kata Reza membuat Melisa sedikit tersentak kaget.
"Ah, enggak!"
"Ya sudah kalian istrirahat sana" titah papa pada anak dan mantunya.
Kini Reza dan Melisa bangun dari duduk dan berjalan menuju kamar, melewati anak tangga dengan pelan.
"Aku produksi berapa ya, bisa gede banget perut kamu" kata Reza sambil terus menuntun istrinya.
"Ya kenapa tadi gak tanya aja sama dokter Rissa" sahut Melisa mendadak kesal.
"Liat aja nanti pas udah lahir"
"Tapi aku mau tau, Mas" keuekeh Melisa saat sudah di baringkan oleh Reza.
"Yang penting sehat, sekarang kamu tidur ya sini peluk aku"
Melisa langsung mengubah posisi tidurnya sedikit miring agar bisa meletakkan kepalanya di dada bidang sang suami, tempat ternyaman nya.
"Mas Reza kenapa masih gak mau tau sih, nanti aku beli perlengkapan bayinya gimana?"
"Maksudnya apa?" tanya Reza bingung.
"Habis nanti acara tujuh bulanan, aku mau beli perlengkapan bayi, aku mau beli baju sepatu pokonya semuanya"
"Ya tinggal beli aja apa yang kamu mau, terus masalahnya dimana?"
"Kalau kita tau kan enak, kalau cowo yang aku belinya biru atau putih, kalau cewe aku belinya ada pink pink nya gitu" ucap Melisa antusias.
"Beli aja semuanya, gak usah pilih pilih warna"
"Gak bisa gitu, nanti mubazir"
"Sekarang kamu tidur, aku ada kerjaan sedikit" kata reza kembali Merapihkan selimutnya.
"Kerjaan dimana?, mas Reza mau kemana?"
"Kerjaan kantor, besok aku Gak kesana jadi bawa kerumah"
Melisa hanya menganggukkan kepalanya.
"Ya udah sana, aku belum ngantuk" ucapnya lagi.
"Beneran?, aku gak apa-apa ngerjain sekarang" kata Reza memastikan, karna yang sudah sudah istrinya selalu merengek ingin tidur.
"iya, sana!"
Reza langsung turun dari ranjang menunju sofa setelah mengambil laptopnya di meja kerja sudut kamar.
Ia mulai fokus membaca seluruh laporan dan Email dari Viana dan juga beberapa Asisten pribadinya.
"Mas,"
Baru dua puluh lima menit Melisa sudah mulai mengganggu.
"Hem,apa?, tidur duluan sana aku masih lama" katanya tanpa menoleh, padahal tanpa ia sadari istrinya Sudah duduk di belakangnya dan sudah memeluknya.
"Gak bisa tidur" rengeknya manja, Reza menarik nafasnya saat ia lihat tangan sang istri sudah melingkar di perutnya.
"Tunggu sebentar lagi ya"
"Aku gerah banget, Mas" sambil mengipasi wajahnya dengan tangan.
"AC nya udah dingin loh, Ra."
"Tapi gerah"
Reza menoleh dan benar saja ada buliran air bening di kening dan lehernya.
"Diam disini, aku ambil sisir sama karet" kata Reza lalu bangkit dan berjalan menuju meja rias di sisi ranjang.
"Sini aku Iket rambutnya, kalau gak ada aku jangan di Iket ya" pinta Reza sambil menyisir rambut panjang sepinggang hitam milik istrinya
"Emang kenapa?" tanya Melisa bingung.
"Aku gak mau leher kamu ada yang lihat, terutama laki-laki" ujarnya saat hampir selesai mengikat ala ekor kuda.
"Kamu sexy banget saat begini, aku suka" bisiknya, malah menciumi leher itu.
"Ih, udah sana terusan kerjanya"
"Kamu godain aku sih" kata Reza merengut
"Aku cuma gerah, Mas"
Reza mencium pipi istrinya berkali-kali, lalu kembali memangku laptopnya lagi guna meneruskan pekerjaannya.
satu menit dua menit tiga menit empat menit Lima menit, semua masih aman namun tak lama berselang Melisa mulai menganggu, sisir yang tadi pakai untuk menyisir rambutnya mulai ia mainkan di punggung suaminya seperti sedang menulis.
Reza hanya diam tak begitu menanggapi karna fokus pada pekerjaannya.
Melisa sangat berbeda jika dikantor, Disana ia akan tenang seharian tanpa menggangu berbeda jika dirumah, ia akan mencari perhatian agar suaminya cepat menyelesaikannya pekerjaannya.
"Mas Reza rambutnya tebel ya?" kata Melisa yang sudah berlutut di belakang Reza menyisir rambut suaminya.
"Hem," hanya itu jawabannya.
Lalu...
"Selesai, aku mau tidur" kata Melisa meringsek turun dari sofa.
CUP.
Satu ciuman mendarat sempurna di pipi kanan suaminya.
"Aku duluan ya, jangan lupa matikan lampu"
"Dikit lagi ko' . kamu tunggu di tempat tidur dulu sana"
Melisa berjalan Santai menuju ranjang, menyingkap selimut agar bisa masuk kedalamnya, sedang Reza sudah mulai membereskan beberapa map dan menutup laptopnya.
"Aku bersih-bersih dulu ya" ucapnya sambil berjalan menuju kamar mandi.
CEKLEK.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa" teriakan Reza di dalam kamar mandi sontak membuat Melisa yang baru nyaman berbaring harus terlonjak kaget dan akhirnya datang menghampiri dengan tergesa.
"Apa? mas Reza kenapa teriak?" tanya Melisa di depan pintu melihat suaminya berdiri di depan cermin.
"Ini apa? kamu apain rambut aku, Ra?" Reza menunjuk rambutnya sendiri.
"Hahaha, mas Reza lucu rambutnya banyak kuncir kecil kecil" sang istri justru tertawa terbahak bahak melihat sosok suaminya yang berkuncir....
💘💘💘💘💘💘💘💘💘💘
Bulu keteknya gak sekalian di kuncir 😂😂
atau rambut yang lainnya gitu di kepang 🤭🤭🤭...
Like komennya yuk ramaikan ❤️❤️❤️❤️