Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra part 54


🌻🌻🌻🌻🌻


Ya, Om! Buna pun sepertinya mengizinkan


Melisa mendongakan wajahnya yang sudah banjir air mata, ia menatap Langit yang sudah lima belas tahun ini bersamanya.


Andai anak itu tahu jika kini ia sedang di paksa untuk ikhlas melepas kepergiannya lusa.


"Asal Abang mau, Buna akan izinkan Abang" ucapnya lirih di sela Isak tangisnya.


Langit hanya menunduk, satu tetes air mata lolos begitu saja mewakili perasaannya yang kini terluka dengan keputusan orang tuanya.


"Aku gak mau!" pekik Air, ia berdiri lalu berlari ke kamarnya, begitu pun dengan Bumi meski ia tak bersuara tapi semua orang pasti tau iapun tengah terluka dengan keputusan papanya.


.


.


.


"Bun... Buna jangan nangis" rengek Langit di atas pangkuan Melisa ia tak lagi Perduli jika harus mendapat sorotan tajam dari Reza.


"Buna, Abang mohon!"


"Buna gak apa-apa, Buna cuma... cuma..."


Melisa tak sanggup meneruskan kata-katanya karna dadanya begitu sesak


"Kalo Buna gak izinin, Abang gak akan pergi"


Reza menarik nafasnya, percuma juga jika harus menenangkan sang istri saat ini karna yang ia butuhkan hanya Reza menarik kata-katanya lagi sedang kan pria itu tak mungkin melakukannya.


"Suka tak suka mau tak mau Abang tetap pergi"


Langit dan Melisa menoleh ke arah Reza secara berbarengan, menatap pria itu dengan begitu lekat tak percaya.


"Abang akan lakuin apapun itu asal Abang disini sama Buna, om!" ucap Langit memaksa di sela Isak tangisnya.


"Om gak minta apapun lagi dari kamu, cukup belajar dan berikan yang terbaik seperti biasanya" tegas Reza tanpa ingin di bantah.


"Tapi Buna nangis, Om" ingin rasanya ia berteriak marah jika saja Melisa tak memeluknya.


"Wajar kalo Buna nangis, ibu manapun akan melakukan hal yang sama, Bang. tapi ini air mata bangga buat Abang karna kelak Abang akan jadi orang sukses" Melisa berkata sambil terbata bata karna tangisnya, begitupun dengan Langit.


"Abang janji, Bun" jawabnya dengan tangan memeluk erat Melisa, biasanya ia melakukan ini jika tak ada Reza di dekatnya.


Keduanya masih berpelukan sambil terus menumpahkan air mata kekecewaan, Bukan Reza tega, iapun belum siap berjauhan. Lima belas tahun bukan waktu yang sebentar sedangkan ia selalu menyamaratakan semuanya dengan si kembar juga.


"Abang akan Pulang dengan membawa nilai terbaik, Buna harus pegang Janji Abang" ucapnya penuh tekad yang serius.


"Belajar lah semampu mu, Buna gak mau kamu malah sakit nanti disana, Bang"


Langit mengangguk, kemudian menoleh ke arah Reza. jauh di sudut hati pria itu ia pun merasakan apa yang kini di rasakan istri dan ketiga anaknya, matanya serasa panas dan berkaca-kaca.


"Abang nurut sama Om,.tapi om harus janji sama Abang" pintanya sambil menghapus air mata.


"Abang mau apa?" tanya Reza, ia menangkap keseriusan di manik mata pemuda tampan itu.


.


.


.


.


.


.


Om harus terima Abang buat jadi menantu om.. Abang akan pulang dan melamar Cahaya!


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕


Tenang bang..


kita pasukan Cahaya Langit bakal ada di garis depan


itu ngomong ngomong hari ini babang Reza kenapa sih..kena bully Mulu disini ama disono


Liat aja Lo bang, gue masih diem sama kelakuan Lo yang demen bgt dan misahin orang yang gue jodohin..


Ntar lama lama Lo yang gue Pisahin dari pawangnya.


Setuju?????


yuk di like komennya ya...