
π»π»π»π»π»π»
"Mami kenapa?, jadi mendadak diem gini sih?" tanya Langit yang merasa aneh dengan sikap ibu kandungnya itu.
"Gak apa-apa, Mami hanya lelah"
Langit menatap dua manik mata milik Diana untuk mencari kebenaran yang tersimpan disana, dan kebohongan lah yang ia dapat kan meski Langit pun sadar jika Wanita itu memang dalam keadaan yang cukup buruk.
"Nanti Abang minta tolong Buna ya buat cariin temen Mami ngobrol di apartemen, biar Mami gak kesepian" ujar Langit yang tak mendapat respon apapun dari Diana.
"Mam.. Mami denger Abang gak?"
"Iya.. Mami denger, Nak"
Pemuda tampan itu membuang nafas pelan, lalu kembali melajukan kereta besi mewahnya menuju tempat tinggal ibu kandungnya.
.
.
"Mami istirahat ya, Abang tinggal lagi gak apa apa, Kan?"
"Gak apa-apa, Mami mau langsung tidur kok" sahut wanita itu yang sudah terbaring di tengah kasur.
"Ada Mbak, jadi disini buat jagain sama temenin Mami sementara biar gak sendiri karna mungkin baru besok Abang kesini lagi" Langit mengucapkanya dengan di sela helaan nafas berat, jika ia boleh mengeluh tentu ia pun lelah dan ingin istirahat namun Cahaya jauh lebih membutuhkan dirinya untuk di kuatkan.
"Abang pamit ya, Telepon Abang jika ingin sesuatu" Diana menjawab hanya dengan anggukan kepala, matanya yang berkaca-kaca sudah siap menumpahkan cairan bening.
"Abang sayang Mami"
*******
Cahaya yang baru sadar tentu menjadi kabar baik untuk keluarga Rahardian, gadis cantik itu mengedarkan pandangannya mencari satu sosok yang tak ia lihat saat membuka mata.
"Abang belum datang" bisik Reza yang paham meski anak kesayangannya tak berkata apapun.
Dan lima belas menit kemudian orang yang ditunggu Cahaya pun datang membawa senyum yang langsung menenangkan si bungsu.
Ia masuk bergantian dengan Reza yang menunggui Cahaya Sedari tadi karna Melisa pun memilih pulang sejenak.
"Cahayanya Langit udah bangun?, mimpi apa tadi?" ujarnya lembut seperti biasa. Tak pernah sekali pun Ia menaikkan satu nada bicaranya di depan pemilik hatinya semarah atau sekesal apa pun.
Cahaya hanya mengangguk sambil tersenyum kecil, ia tatap sandaran hatinya yang nampak sangat lelah.
"Cepet sembuh ya, kita pulang"
"Abang udah urus semua buat pernikahan kita"
Lagi-lagi Cahaya hanya mengangguk, ia yang masih lemah tak bisa banyak merespon.
.
.
.
Seminggu berlalu kini si bungsu sudah di pindah kan ke rawat inap biasa meski tetap tak banyak yang boleh datang menemuimu, Diana yang juga beberapa kali menjenguk di sambut baik oleh keluarga calon menantunya itu meski masih ada rasa canggung antara ia dan Melisa tapi sebisa mungkin Diana bersikap sewajarnya.
"Kapan adek boleh pulang?" tanya Wanita yang melahirkan Langit ke dunia.
"Gak tau, Mam. Adek masih mual" jawab Cahaya lemas. Efek obat pasca operasi yang memberi rasa mual luar biasa membuat pihak rumah sakit tetap mempertahankan Cahaya dan tak mengizinkan Gadis cantik itu pulang secepatnya.
"Mami akan menemani mu disini secara bergantian dengan mamamu"
"Terimakasih, Mam. Maaf karna keadaan ku yang lemah jadi membuat Mami sering bolak balik kesini karna pasti Abang yang nyuruh kan?!"
Diana tersenyum simpul, tangannya yang sedari tadi memegang tangan Cahaya semakin di usap nya secara lembut.
"Abang gak nyuruh pun, Mami pasti datang"
Cek lek...
Pintu terbuka dengan pelan, dua wanita itu menoleh secara bersamaan kearah pria yang sedang tersenyum sambil berjalan mendekat.
.
.
.
.
.
.
Jantungku selalu berdetak hebat saat melihatnya!!!
πππππππππππ
Masih untung gak di gentayangin dek π€£π€£π€£π€£
Like komennya yuk ramaikanπ₯°π₯°