
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Aku masih tampan, kan?" tanya Reza didepan cermin besar usai membersihkan diri.
Melisa yang sedang menyisir rambut basahnya terkekeh kecil sambil menoleh. Keduanya baru selesai mandi bersama. Ritual manis yang masih mereka lakukan sampai detik ini.
"Tampan, Mas. mataku belum buram melihatmu" jawab sang Khumairah, ia berjalan mendekat lalu memeluk Reza dari belakang.
"Aku mencintaimu, masih sama seperti dulu"
Reza mengusap tangan istrinya yang kini melingkar di perut, ia bisa merasakan cinta itu meski wanitanya tak berkata sekalipun.
"Kamu pikir aku tak berperasaan sampai tak tahu hatimu, Sayang"
"Aku hanya ingin mengatakannya, Mas"
Reza memutar tubuhnya, jadilah mereka saling berhadapan dan memeluk dari depan.
"Kenapa semua yang ada dalam dirimu membuat ku candu? bahkan wangi shampoo mu pun membuat ku ingin terus menciumnya" goda Reza.
.
.
Usai merapihkan diri dan puas melempar candaan juga rayuan mereka pun keluar dari kamar, turun ke tangga dengan menggunakan lift.
Triiing..
Reza menarik tangan Melisa saat wanita terbaiknya itu hendak keluar.
"Kenapa?" tanya Melisa.
"Kita naik lagi, Ra" ucap Reza dengan senyum seringai di ujung bibirnya.
"Apa ada yang tertinggal?" tanya Melisa lagi.
"Gak ada, aku hanya ingin mengulang kenangan saat kamu hamil si kembar. Bukan kan kamu begitu menyukai bunyi pintu lift terbuka?"
Melisa tentu langsung memerah kedua pipinya, karna mengingat hal itu membuatnya begitu sangat malu.
"Mas Reza, ih. Kok ngeselinnya bikin aku pengen meluk ya"
"Gak usah Alesan, sini!"
"Mas Reza apa gak bosen ya bahagiain aku?"
"Engga, Ra. Harta duniaku tak sebanding dengan warna merah pipimu saat tersenyum"
"Pagi, mah, pah"
"Pagi, kak."
"Kakak yang anter kalian ya kerumah Abang, Abang sampai jam sepuluh nanti" ucap si sulung yang dimintai tolong adik bungsunya.
"Hem, terserah kalian." jawab Reza.
Pria baya itu tak pernah ambil pusing, di gilir dan menjadi bahan rebutan sudah biasa ia dan istrinya rasakan saat ketiga anaknya semakin dewasa dan memiliki keluarga masing-masing. Reza memang sengaja tak meminta anaknya yang lain untuk menginap di rumah utama, cara itu tak lain agar ia dan Melisa lebih dekat dan fokus pada anak yang di datangi setiap waktu yang sudah terjadwal.
Mereka sangat menikmati hal itu, karna di ujung senjanya tak lagi merasa bosan dengan kegiatan yang Itu-itu saja. Pasangan suami istri itu lebih baik datang dibanding diam menunggu.
.
.
Mobil berjalan dengan begitu cepat, hal biasa yang Air lakukan jika ia yang mengendarainya, terbukti tak sampai satu jam kendaraan mewah itupun kini sudah terparkir di garasi kediaman Biantara.
"Kakak langsung kantor ya, pah, mah" pamit Air saat ikut mengantar orang tuanya sampai masuk kedalam.
"Ya sudah, Hati-hati di jalan ya, Kak" pesan Melisa pada anak kesayangannya.
Reza, Melisa dan Cahaya melepas kepergian Air dengan senyum sampai punggung si sulung yang manja dan cengeng itu masuk kedalam kereta besi mewahnya.
"Kenapa Abang belum pulang?" tanya Reza saat ketiganya sudah duduk di ruang tamu.
"Ada kerjaan, pah. Entahlah, aku suka kesel kalau Abang udah ngulur waktu kaya gini. Gak pulang tepat waktu bikin aku gak tenang" lirih si bungsu.
"Gak ada yang harus kamu khawatir kan, dek. Kalian baik-baik saja, kan?" balas Melisa yang paham dengan perasaan anak perempuan satu-satunya itu.
"Tapi tetep aja, mah. Abang tuh.... " Cahaya menarik napasnya dalam dalam sebelum ia hembuskan perlahan.
"Abang kenapa?" tanya orangtuanya.
"Abang selalu positif thinking pada siapapun, sikap baiknya sering di salah artikan oleh orang lain termasuk wanita" cetus Cahaya.
"Dek, apa kamu tahu satu hal?"
"Tahu apa, pah?" tanya Cahaya pada Reza yang melempar pertanyaan.
.
.
Ada dua MAHKOTA pada pria yang membuatnya terhormat dimata wanita. Yaitu tanggung jawab dan kesetiaan.