
🌻🌻🌻🌻
" Kak, udah dong nangisnya" kata Melisa yang entah berapa kali mengusap pipi bulat si sulung.
"Nanti, mama" sahutnya masih sesegukan.
"Main yuk sama papa, nanti siang baru jemput Abang" ajak Reza yang ikut merayu jagoan pertamanya.
"Enggak!" jawabnya sambil menggeleng.
"Terus maunya apa?, Adek lagi tidur berisik" Reza masih mencoba meraih tubuh Ay namun selalu di tepis.
"Mau nangis, papa"
"Diem gak?"
"Enggak!"
" Ya ampun kakak, gak punya telinga ya?" Reza yang sudah pusing akhirnya mengangkat tubuh Ay ke atas pangkuannya.
"Ini ada, dua" jawab Ay sambil memegang kedua telinganya.
"Kalo ada telinga harusnya bisa denger kalo Kakak nangis itu berisik" ujar Reza.
"Papa tanya, kakak nangis kenapa?" tambah Reza
Ay hanya menggeleng sambil masih terisak.
"Terus kakak nangisin apa?"
"Pengen nangis papa" sahutnya lagi keukeh.
"Sekarang pengen apa?"
"Pengen nangis aja, papa" Jawaban yang sama dan tak berubah dari si sulung membuat Reza frustasi.
"Huaaaaaaaaaaaaaa" Reza yang mendadak pura pura menangis sontak membuat Ay langsung berhenti.
"Papa napa?" tanya Ay.
"Papa nangis,huhuhu" jawab Reza masih berpura-pura.
"Jangan ikutan nangis berisik" balas Ay yang sudah menghapus air matanya.
"Papa mau nangis kaya Kakak"
"Jangan, kakak aja yang nangis, papa N'Da boleh"
"Kenapa?" tanya Reza.
"Berisik tau"
"Deal?" Reza yang sudah mengulurkan tangan disambut baik oleh anaknya.
Melisa yang memperhatikan drama anak dan suaminya itu sangat terharu, mereka bisa menjadi team ataupun lawan bahkan bisa juga bersikap semanis ini.
CUP.
Melisa tersentak kaget saat pipi kirinya di cium tiba-tiba dari arah belakang oleh Bumi yang bergelayut di bahunya.
"Sayang mama" bisiknya.
"Mama juga sayang kakak" sahut Melisa sambil menitikan air mata.
"Kakak kalau nangis kaya mama ya gada suaranya" kata Bumi yang lagi lagi mencium pipi mamanya.
"Iya sayang"
"Biar kakak Ay aja sama papa yang berisik" tambahnya lagi semakin menggemaskan.
"Gak apa-apa berisik biar rame" kekeh Melisa yang kini sudah memeluk erat anak keduanya, Bumi hanya mau banyak bicara jika sedang berdua saja dengan Melisa, selebihnya hanya kata YA dan TIDAK sebagai jawaban.
"Kalian harus saling menjaga juga saling menyayangi, mama cuma mau itu, bisa?"
"Bisa, mah.. kakak sayang adek juga kak Ay" jawabnya dengan senyum hangat, sifat pendiamnya terkadang membuat Bumi jauh lebih dewasa dari usianya terlebih dari cara berfikirnya yang selalu memikirkan sebab dan akibatnya.
"Loh kok udah bangun?" Ujar Melisa saat melihat Reza sedang menggendong Chaca dan menuntun Air.
"Iya papa nangisnya berisik tuh mah" sahut Ay yang langsung berhambur memeluk mamanya, jadilah kini ada dua anak tampan sudah duduk di atas pangkuan Melisa.
"Eh enak aja, kakak yang berisik tuh" protes Reza.
"Adek sini" kata Ay sembari melambaikan tangannya.
"N'Da, mau sama papa aja" tolak Cahaya semakin mengeratkan pelukan dileher Reza.
"Hahaha, cakeeeeeeep!" sahut Reza sambil tergelak.
"Kalo semua sama mama, Papa sendirian dong?" ucap Reza dengan wajah di buat menyedihkan.
"Enggaaaaaak... paling papa ntar sama Tante Susi tuh yang suka lari lari di taman, iya kan Bu?" celoteh polos Ay membuat Reza dan Melisa saling menatap.
💦💦💦💦💦💦💦💦💦💦
Itu mulut lemes amat Ay 😂😂😂😂
Itu bisa ada perang ketiga di kamar kayanya 🙈🙈🙈🙈
Like komen nya yuk ramai kan ♥️♥️🤗