
🌻🌻🌻🌻
"Abaaaaang.. Abang Chaca yang ganteng!" seru Cahaya saat turun dari mobil yang berhenti tepat di depan gerbang sekolah, sudah ada Langit yang menunggunya disana.
"Abang... Abang cendol" ejek Ay pada adiknya.
"Dia gak berani tuh kalo papa yang anterin, paling teriaknya nanti di dalem kelas" timpal Bumi yang ikut menggoda adik perempuannya itu, tapi Cahaya tak memperdulikan nya, ia langsung bergelayut manja di lengan Langit.
"Pagi kak" sapa Langit pada kedua adik kembarnya yang lain.
"Pagi juga Abangnya Kakak" Ay malah berhambur ke lengan Langit satunya lagi.
"Ih, apaan sih, sana...sana!" Cahaya mencoba melepas tangan Ay di lengan Langit.
Pertengkaran mereka sudah sangat biasa di lihat siswa dan siswi di sekolah, ada saja yang tertawa atau hanya mengulum senyum.
Semakin berisik Cahaya berteriak tentu Air akan semakin gencar meledaknya.
"Udah dong, kak. sana jalan duluan pacar kamu udah nungguin tuh"
"Ini hari apa sih?, pacar aku yang mana ya" gumamnya bingung.
Namun setelah itu langsung berlari menghampiri seorang siswi bertas biru.
"Hai, Nella cantik" sapanya pada gadis itu
"Hai juga Ay" jawabnya yang kaget melihat Ay.
"Kita masih pacaran gak sih?" tanya Ay dengan santainya.
"Udah putus empat hari lalu" jawab Nela yang dulu mendapat jatah hari Minggu dari Ay.
"Oh, terus gantinya Lo siapa ya?, gue lupa!" pertanyaan konyol baginya namun menyakitkan bagi Bella.
"Iiiiiiih... kamu rese! aku aja belom move on" sentaknya kesal sambil memukuli bahu Air.
"Lah, itu sih urusan Lo!" kekeh Ay lalu kembali berlari meninggalkan Nella yang masih kesal.
"Banyakin sabar!" Ucap Bumi sambil menepuk bahu Nella, gadis itu hanya tersenyum kecil.
Bumi yang tak kalah popular dari Air tentu menjadi pusat perhatian juga, jika para gadis sangat mudah menggapai Air tapi tidak dengan Bumi, remaja tampan itu begitu sulit di dekati hanya Cahaya satu-satunya yang bisa bicara dengannya.
.
.
.
" Apa sih, Bang" tanya Chaca saat tubuhnya di senderkan di tembok samping ruangan Lab yang nampak sepi.
kedua tangan Langit sudah berada di tembok untuk mengurung tubuh mungil Cahaya, keduanya saling berhadapan dengan hanya hidung mancung mereka yang menjadi jarak.
"Ada apa?"
Cahaya tau jika sudah begini biasanya ada hal yang ingin Langit katakan tanpa ada yang menggangu.
"Kok dadakan bilangnya?"
"Kan Abang udah bilang, yank. kamu pasti lupa?"
Cahaya mengerutkan dahinya, mencoba mengingat Ingat apa yang pernah di katakan Langit padanya.
"Hayo, inget gak?" Langit menarik tubuhnya, kini mereka hanya berdiri berhadapan.
"Enggak"
Langit terkekeh, lalu menangkup wajah gadis kesayangan itu dengan kedua tangannya.
"Kamu jangan nakal ya, gak boleh lari-lari nanti harus makan banyak pas jam istirahat"
"Abang gak tau pulang jam berapa, mungkin langsung ke panti gak balik ke sekolah lagi"
"Nanti kalo sempet Abang telepon ya pas istirahat"
Langit banyak berpesan pada Cahaya, ia takut Cahaya tak mau makan saat tanpanya nanti.
"Janji Abang nanti telepon aku?" Cahaya memastikan, ia tak suka menunggu.
"Iya Yank, kapanpun Abang sempet nanti Abang telepon ya"
Langit langsung memeluk Cahaya, sangat jarang bagi mereka berpisah.
.
.
"Langit mana sih Langit?"
Sayup-sayup mereka mendengar ada seseorang yang mencari Langit
"Ada yang nyariin Abang!" seru Cahaya.
"Hem, iya" Langit mengurai pelukannya.
"Nah ini tersangkanya" Salah satu teman Langit berdecak kesal padanya karna lelah mencari ke seluruh Sekolah.
"Malah pacaran, kita udah capek muter muter"
"Sorry..sorry.."Langit terkekeh.
"Abang, pergi ya, inget pesen Abang ya"
Cahaya mengangguk, tangannya seakan enggan melepas Langit menjauh darinya.
"Titip Abang ya" pinta Cahaya pada teman-teman Langit yang di balas acungan jempol.
Cahaya melepas kepergian pemuda itu dengan perasaan resah, ia tak pernah bisa jauh dari Langit.