Suami Dadakan

Suami Dadakan
extara bab 120


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


" Gue mau kok jadi Istri buaya cengeng!!!!!"


" Cih, segitunya Lo sama gue" decak Air namun ia malah meletakan lagi kepala di ceruk leher Hujan yang terasa harum baginya meski seharian ini mereka bersama.


Tangannya yang kini ia lingkarkan di pinggang Hujan tentu membuat gadis itu sulit bergerak.


"Mau di lanjutin nangisnya?" goda Hujan, ia kembali mengusap kepala pemuda itu.


"Kalo Lo nangis ya gue juga nangis, kalo Lo gak nangis ngapain juga gue nangis!" ucapnya kesal karna di goda oleh Hujan.


"Hahahaha, lucu banget si, Ay"


"Mama kalo bilang lucu ke gue biasanya gue di cium Loh, Jan" Kini ia yang balik menggoda.


"Enak aja Lo! dasar tukang modus"


Hujan mendorong tubuh Air yang sedang tertawa terbahak bahak karna melihat kedua pipi Hujan yang memerah karna ulah konyolnya, Gadis itu kemudian bangun dan merapihkan baju dan rambutnya begitu juga dengan Air yang mengambil barang-barangnya.


"Yuk" Air mengulurkan tangannya yang langsung di sambut oleh Hujan.


Keduanya keluar dari kamar kos'an yang memang sedari dulu tidak di sewakan karna itu memang khusus untuknya.


Menuruni anak tangga satu persatu kini mereka sudah ada di lantai bawah, suasana nampak ramai berbeda dengan tadi pagi.


"Si kakak baru turun nih, berapa ronde, Kak?" goda Tante Susi sambil mengedipkan satu matanya.


"Gak ngitung, Tan. banyak banget" balas Air yang langsung mengundang gelak tawa.


"Asik, si kakak bawa cewe berarti udah gede dong" goda yang lain.


" Iya besok panggil kakak jadi kakek ya"


Semua kembali tertawa, terkecuali Hujan yang bersembunyi di balik punggung Air.


Gadis itu malu dengan godaan para penghuni kost yang sebagian sudah terlihat lebih dewasa.


Bahkan ia sadar bahwa ada beberapa wanita yang memandang sinis padanya, dari mata dan senyum yang tak biasa.


"Kak, sorry telat" seorang pemuda datang menghampiri yang lagi-lagi memberikan sebuah amplop pada Air.


"Gak apa apa, Bang. Asal bayar aja aku mah" kekeh Ay sambil menyerahkan amplop itu pada Hujan.


"Mumpung lagi kumpul, Kakak mau kasih tau kalo bulan depan uang kos'an yang ambil Hujan ya"


"Basah dong" celetuk tante Susi sambil tertawa lagi bersama yang lain.


"Ish, Tante! namanya emang Hujan!" jelas Air.


"Neng, pas bikin lagi hujan ya?" goda pemuda yang tadi memberi amplop.


Hujan menggelengkan kepalanya.


"Gak Hujan gak jadi, woy" sambung yang lain.


"Jadi apa?" tanya Ay polos.


"Jadi si Hujan, hahahaha"


"Tapi paham kan, Kak?"


Air hanya tersenyum kecil, ada beberapa candaan yang kadang memang tak sampai di otaknya meski ia pintar dalam segala bidang akademik.


"Asisten Lo, Kak " tanya wanita yang sedari tadi begitu sinis pada Hujan.


"Bukan, Mbak" jawabnya sambil menarik tangan Hujan agar berdiri sejajar dengannya.


"Tante kira adek mu yang perempuan tapi pas di perhatiin laen ya wajahnya meski sama-sama cantik"


Air merangkul bahu Hujan yang sedari tadi menunduk malu dan takut.


"Cantik dong, kan calon istrinya aku" jawabnya begitu lantang membuat semua orang yang mendengarnya terkejut.


"Mau kawin, Kak?" tanya Tante Susi antusias.


"Nikah, Tante!" sahut Air sambil tergelak.


"Wah, makin betah kalo ibu kostnya cantik begini" ujar beberapa pemuda.


"Enak aja, udah mau di patenin nih punya kakak doang"


Setelah memperkenalkan Hujan kini keduanya berpamitan untuk pulang Karna mang Jajang datang menghampiri, usianya yang tak lagi muda membuat pria paruh baya itu harus mengatur nafasnya lebih dulu sebelum berbicara dengannya.


"Den, Nyonya telepon lagi" kata mang Jajang.


"Apa katanya?" tanya Air.


"Disuruh cepet pulang karena semua udah nunggu" jelas mang Jajang lagi


"Terus mang Jajang jawab apa?"


"Mamang gak jawab, cuma potoin Den Air sama pacarnya lagi rangkulan"


.


.


.


.


.


.


.


.


Mang Jajang potong gaji bulan ini!!!!!


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


KHUMAIRAHnya Gajah bisa pingsan 😂😂😂😂


Like komennya yuk ramaikankan. ♥️♥️♥️