Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra part 69


🌻🌻🌻🌻


" Napa liatin aku?" tanya Ay setelah meletakan kembali Ponselnya ke atas meja yang masih kosong karna pesanan mereka tak kunjung datang.


"Gak, aku cuma lagi inget pertama kali kita kenal" jawab Yayang dengan senyum manisnya


"Haha, gak usah diinget"


"Aku hutang budi loh Ay sama kamu" ucap Yayang lagi.


"Gak usah hutang budi, aku maunya hutang perasaan aja" Air tergelak dan semakin tertawa saat gadis di hadapannya itu melemparnya dengan tissue.


"Jangan ngerayu aku, gak akan mempan!"


"Kenapa?, kamu gak punya hati ya" goda Ay, Baginya gadis berambut panjang itu sangat berbeda dan yang paling cocok dengannya.


"Aku gak akan jadi deretan para gadis yang akan menangis karna mi, Ay"


Keduanya kembali bersama, pertemuan rutin setiap satu Minggu sekali membuat keduanya semakin dekat jika hanya sebatas teman biasa.


Tapi tak ada sedikitpun niat dalam hati Air untuk meminta gadis itu menjadi kekasihnya, ia hanya senang menggoda sampai kedua pipi Kahyangan merah merona karna ulahnya.


"Mereka yang nangis kenapa aku yang di salahin" cetus Ay sambil menggeser ponselnya karna pesanan mereka datang.


"Karna kamu sering bikin mereka baper, Ay. Dan aku gak mau nangis kaya mereka"


"Aku gak bakal bikin kamu nangis, kamu bakal aku sayang sayang sama kaya nama kamu Yayang."


Kahyangan hanya tersenyum simpul kemudian mulai menarik piring makannya.


Ini yang jadi penghalang kita!


*******


Suara gelak tawa di dalam dapur sangat menggelitik telinga Bumi yang baru saja terjaga dari tidurnya, ia melongok ke dapur tapi bukan makanan yang di dapat justru ia malah melihat adik dan abangnya sedang berpelukan di depan kompor.


"Emang gak ada tempat lain apa?" gumam Bumi yang akhirnya membelokkan langkahnya menuju ruang tengah, ia duduk di sofa dengan memeluk satu toples cookies buatan Melisa kemarin siang.


Mata elangnya fokus pada acara yang sedang ia tonton dengan sesekali menyuapkan satu kue ke dalam mulutnya


"Dek, ambilin minum" teriak Bu pada adiknya.


Satu detik dua detik hingga enam detik barulah si bungsu menjawab.


"Iya, kak, minum apa?" tanya Cahaya sambil berteriak juga


"Aer putih aja"


Lima menit kemudian Cahaya datang bersama Langit, gadis itu meletakan segelas air putih di atas meja yang penuh dengan berbagai cemilan yang tersusun rapih dalam toples, mulai dari kue, keripik, coklat sampai permen ada semua disana.


"Ay belum pulang ya" kata Langit memulai obrolan diantara mereka.


"Kakak lagi pacaran sama Rizka, padahal aku gak suka sama dia" ucap Cahaya sambil menyandarkan kepalanya pada Bumi yang memasang wajah datar.


" Emang kenapa?"


.


.


BRAAAAAKKKK


"Aw... sakit!"


Langit, Cahaya dan Bumi sontak menoleh ke arah suara.


"Ih, siapa sih yang naro rak sendal disini" umpatnya kesal.


"Itu rak dari kamu baru bisa jalan kayanya udah situ deh, kak" Langit menyahut dari ruang tengah sambil tergelak.


"Kok aku bisa nabrak"


"Kan raknya cinta sama kakak!" jawab ketiganya sambil tertawa namun Ay langsung memasang wajah masam karna menahan rasa sakit di kakinya.


"Au ah, nyebelin!" ocehnya lagi.


Ia langsung menyambar toples yang sedang di peluk Bumi.


"Bagi dong, aku yang mesen sama mama" ucapnya sambil mengejek sang adik.


.


.


Drrrrtttt... drrrrtttt...drrrrrt


Getar ponsel Air di atas meja membuat mata empat orang yang sedang berkumpul itu beralih pada layar benda pipi yang masih bergetar, Ay Langsung meraihnya sambil bangun dari duduk.


"Hallo, Yang"


.


.


.


DEG...


Bumi menoleh dan menatap tajam ke arah sang kakak yang berlalu menuju kamarnya.


💕💕💕💕💕💕💕💕


Berasa banget ya kak Bu 🤭🤭🤭


Yayangmu lagi di pertigaan siap di tikungan si kakak 😂


Like komen nya yuk ramai kan