
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Reza yang baru keluar dari lift berjalan pelan menuju kolam ikan peliharaannya serta beberapa aquarium juga berjejer di sana. Ia mulai suka dengan hewan dalam air itu sejak remaja, saat ia masih menjadi putra tunggal Rahardian Wijaya.
Matanya kini tak hanya ada para ikan, tapi juga ada bayangan kedua orangtuanya yang lama tiada beberapa tahun lalu. Dunia bagai runtuh seketika saat Tuan besar Wisnu menghembus kan napas terakhirnya karna di detik yang sama juga, Reza tak akan merasakan pelukan dari pria yang tak banyak bicara namun sigap dalam bertindak.
"Kangen Papa dan Mama. Semoga kalian tenang disana" lirih Reza seraya menghapus cairan bening di ujung matanya.
Seberat apapun masalah, rasanya akan lebih berat jika tanpa orangtua karna hanya mereka tempat berpulang yang paling nyaman.
"Pah.." seru si sulung yang membuat Reza menoleh kemudian merentang kan tangan siap untuk memeluk putra manjanya.
"Ngapain liatin ikan?" tanya Air.
"Takut tenggelam, kasihan" jawab Reza santai namun berhasil membuat putranya mencibir kesal.
"Kasih pelampung dong, Pah"
"Tar keenakan, yang ada nanti ketiduran, kak" sahut Reza lagi yang kini sembari terkekeh.
Pria tampan beda generasi itu tak hanya menjelma sebagai anak dan ayah karna kadang menjadi sahabat ataupun rival saat memperebutkan wanita pemegang tahta tertinggi di hati mereka, siapa lagi kalau bukan Melisa.
Wanita berambut putih namun masih terlihat cantik tak kalah dari para menantunya. Bukan karna perawatan mahal, tapi karna tutur kata lembut nya yang baik dan hatinya yang bersih.
Hidup dengan limpahan kasih sayang dan penuh cinta dari anak dan suami membuat hari-harinya bahagia terlebih banyaknya cucu dan cicit yang mewarnai masa tuanya. Semua yang di inginkan selalu terpenuhi, semua yang di mau selalu di turuti itulah wanita kesayangan semua pria Rahardian. Reza, Air, Bumi, samudera, Galaksy, Awan dan Langit yang selalu bersama melindungi wanita terbaiknya.
"Papa jadi ke rumah adek besok?" tanya Air yang kini berjalan menuju sofa dekat tangga.
"Abang emang udah pulang? keliling negara mulu tuh sekarang" kata Air menimpali.
"Perusahannya sedang maju pesat, biarkan ia sukses karna adekmu masih gila belanja"
Air dan Reza tertawa bersama, semakin mudah kini untuk ber shoping ria semakin kalap si Nyonya besar Biantara untuk menghabiskan uang suaminya yang tak habis habis.
Semua tahu bagaimana Cahaya, tak ada satupun yang berani melarang dan mencegahnya untuk melakukan semua hal yang membuat ia bahagia. Karna perjuangannya untuk hidup dan sembuh dari penyakit jantung sejak lahir lebih sampai lebih dari dua puluh tahun seakan tak akan cukup untuk jika di banding dengan harta orang-tua dan suaminya.
"Sayangi adik perempuanmu jika papa tak ada ya, karna kamu yang akan menggantikannya" pesan Reza pada si sulung.
"Wih, si papa cari ribut. Udah lama gak debat sama kakak ya" protes Air yang tak suka dengan apa yang di bicarakan Pria baya itu.
"Papa hanya berpesan kak, meskipun kamu itu nyebelin dan sering bikin papa dan mama sakit kepala tapi papa yakin kamu bisa melindungi keluarga Rahardian" ucap Reza lagi.
"Au ah.. " sahut Air malas menanggapi atau mungkin lebih tak ingin membahas hal itu.
Air mengeratkan pelukannya, membuat Reza seolah semakin berat untuk menerima kenyataan jika mungkin saja hari ini esok atau lusa ia lah yang akan pergi menuju keabadian.
.
.
Saat ini aku sedang bersama dengan si sulung yang memiliki mata teduh, senyum manis tubuh tinggi nyaris sempurna. Sifatnya yang manja dan ingin selalu di mengerti tapi tak jarang juga ia bersikap dewasa.
Terkadang ia membuatku ragu namun yakin setelahnya, jika sedang bertengkar ia memilih pergi dan menghilang setelah menabrak apapun yang ia lewati atau ada di depannya. Dan kembali seolah tak terjadi apa-apa dan itu kadang membuatku kesal. Namun juga mencintainya berkali-kali karna si sulung aku tahu bagaimana rasanya menjadi seorang Ayah....