Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 249


🌻🌻🌻


Permainan liar di kamar mandi sebuah resort mewah miliknya menjadi hal baru bagi keduanya, tak ada yang menggedor pintu saat penyatuan dua tubuh menjadi hal yang paling menyenangkan bagi Reza.


"Capek gak?" tanya Reza saat ia dan sang istri berendam air hangat dengan busa berlimpah.


"Capek lah, remuk badan aku nih udah kaya goreng tempe di bolak balik" jawabnya sambil merengut membuat Reza tertawa.


"Tapi kan enak, nanti kalo mainnya Langsung gak pake mampir mampir langsung ngomel-ngomel. 'Emangnya aku ayam gada basa basi ya' !" ledek Reza memperagakan ocehan sang istri jika ia langsung menerobos dengan tergesa saat waktu tak memungkinkan atau karna hasrat yang sudah sangat menggebu.


Melisa yang di goda pun langsung mencubit perut suaminya dengan keras sampai Reza meringis kesakitan.


"Kamu galak ih, makin lama makin kaya kepiting" desahnya merasakan sakit.


"Ya tapi jangan di omong juga, kan aku malu" oceh Melisa yang semakin kesal.


Raut wajah merahnya tak mampu lagi ia sembunyikan, terlebih dalam keadaan seperti saat ini.


Reza hanya menahan tawanya, menikmati sikap belahan hatinya yang kini merajuk.


"Jangan ngambek, nanti aku bikin kamu gak tidur sampe pagi, mau?" ancamnya sambil berbisik, kata-kata Reza membuat ia langsung tersentak dan dengan cepat menyunggingkan senyum semanis mungkin.


"Udah yuk, udah malem banget" ajaknya keluar dari bathtup menuju shower untuk membilas tubuhnya.


.


.


Usai membersihkan diri, keduanya masuk kedalam kamar yang begitu luas dan mewah, ada tempat tidur besar di tengahnya yang terdapat taburan kelopak mawar merah di atasnya sprei, sungguh cantik.


"Aku gak bawa baju" kata Melisa yang bingung, ia yang hanya menggunakan jubah mandi masih diam mematung dekat sofa yang menghadap ke TV.


"Kamu gak butuh baju, Ra" sahut Reza asal namun penuh arti.


Melisa yang mendengar jawaban suaminya itupun hanya mendelik kan matanya, rencana liar Reza sudah bisa di tebak olehnya, Melisa Langsung melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


'Anak anak udah tidur belum ya?, kangen banget belum peluk cium' gumamnya sedih, dilihatnya Reza justru berada di balkon teras resort sedang melakukan panggilan telepon entah dengan siapa meski waktu sudah hampir tengah malam.


Tak ada lagi yang di lakukan, Ia pun akhirnya meringsek ke tengah kasur menutupi tubuh polosnya dengan selimut putih yang tebal, harum kelopak mawar masih sangat menyengat Indra penciumannya.


.


.


"Ra, sayang!" bisik Reza di telinga Melisa yang tertidur dengan posisi meringkuk.


"Dingin ya, mau aku angetin gak?, keluarin keringet yuk" godanya lagi, kini tangan nya sudah bermain di bagian bawah perut rata istrinya.


"Hem, " jawab Melisa dengan mata yang enggan ia buka lagi, rasa lelah di tubuhnya seakan membuatnya kehabisan tenaga, untuk berbalik pun rasanya sulit.


"Lagi ya, kamu tidur aja, aku maen sendiri"


Tak ingin membuang waktu, pria yang sudah melepas bathrobe nya itupun langsung memeluk istrinya dari belakang, menciumi punggung mulus putih bersih tanpa cacat sedikitpun, wangi sabun masih sangat jelas ia rasakan sehingga mengundang hasratnya semakin menggebu tak tertahankan.


Melisa yang setengah sadar masih mengeluarkan de sah an kecil yang sangat seksi di telinga suaminya.


"Bersiaplah jadi pinguin lagi besok pagi, Sayang!"


Dengan senyum menyeringai, ia mulai menancapkan pentungan perkasa nya pada lembah kenikmatan milik sang istri yang tak pernah bosan ia jamah selama sembilan tahun berumah tangga.


Satu tempat yang selalu menjadi tujuannya, tak pernah terlintas dalam benaknya untuk mencari pelampiasan lain meski banyak wanita yang bersedia melempar kan tubuhnya sendiri padanya.


"Euuggh" lenguhnya saat hentakan demi hentakan ia lakukan tanpa ampun, tak perduli dengan istrinya yang mendesis pelan saat di rasa milikinya sangat menyesakkan di bagian inti sang istri.


"Ra... ugh" Reza mulai merancau tak jelas, menggigit bibirnya sendiri atau menyesap bahu Melisa saat rasa yang luar biasa nikmat ia dapatkan.


Posisinya yang berada di belakang tak mampu merasakan bibir ranum istrinya, sebagai ganti ia hanya bisa terus menerus mere mas bongkahan daging kenyal yang masih padat berisi seperti pertama kali ia dulu menyentuhnya.


"Mas..." Melisa yang hampir menunju puncak pun hanya bisa meremat kain sprei yang mulai basah Karna banjirnya keringat yang mereka keluarkan meski AC menyala begitu dinginnya, namun hawa panas birahi mereka cukup mampu mengalahkan itu.


"Tunggu, Ra.."


Ritme hentakan pun mulai semakin di percepat karna tak ingin tertinggal oleh sang istri yang bisa saja lebih dulu meraihnya, Ia hanya ingin menggapai puncak kenikmatan itu secara bersama.


"Lepas, Ra!, ayo sekarang, sayang!" bisiknya dengan suara berat.


.


.


"Terima kasih, selalu membuat ku bagai terbang ke ujung langit hanya karna menyentuh mu saja!"


.


.


.


🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉


Udah ah capek.. tahan napas bikinnya!


Ada yang basah tapi bukan gerimis 😂😂😂😂..


Like komennya yuk..



mampir ya ke babang Ricko.. wajib pokonya.


kalo gak teteh nangis, disana juga ada ceritanya babang Reza kok.


Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Duda Impian, di sini dapat lihat: http://h5.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1263264&\_language\=id&\_app\_id\=2