Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 163


🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Air yang sudah berada dalam mobilnya terus saja tersenyum saat mengingat betapa lucunya wajah Hujan ketika ia membisikkan Kalimat


Jangan khawatir, istri cukup satu.


yang banyak tuh pacar!!!!


Gadis itu langsung melepas pelukannya dengan kasar, merengut kesal sambil menghentakkan kakinya lalu pergi sambil sedikit berlari.


"Lucu banget sih, dasar Jan Hujan!" gumamnya sambil tergelak menahan tawa.


.


.


Air turun dari mobilnya saat sampai di apartemen, ia memang kembali pulang usai mengantar Hujan kerumahnya.


Langkah kakinya berhenti saat melihat seorang gadis yang jelas sangat ia kenal, siapa lagi kalo bukan salah satu kekasihnya.


"Ngapain?" tanya Air pada gadis tersebut yang menyandarkan tubuh lemahnya di di dekat pintu lift khusus keluarga Rahardian.


"Jangan bilang kalo kabar yang gue denger itu beneran, Ay" ucapnya lirih dengan derai air mata.


"Kabar apa?,Lo kira gue artis?" tanya Air yang masih belum mengerti dengan arah pembicaraan kekasihnya itu.


"Gue denger Lo mau nikah!" ujarnya dengan ketus.


"Iya! kenapa?"


Gadis itu histeris sampai memukuli dada bidang Air, Ia tak menghindarinya. Ia biarkan gadisnya itu meluapkan rasa kesal sedih dan kecewa tentunya.


"Lo jahat, Ay" jeritnya dengan binar mata tajam.


"Dari awal gue udah bilang, jangan maen perasaan kan


lagian kita gak ngapa-ngapain, Lo gak rugi" jelas Air seakan menyadarkan gadis itu tentang hubungan yang mereka jalani tak pernah serius sedikit pun.


"Tapi gue sayang Lo, gue cinta Lo, gue gak bisa Lo giniin, Ay! gue mau tetep sama Lo!" sentaknya dengan nada paksaan.


"Ya udah, jalanin aja kaya biasa. Ribet banget sih" ujarnya santai lalu memencet tombol lift kemudian masuk kedalam kotak besi itu.


Air meninggalkan kekasihnya yang masih menangis histeris tanpa ia sadar jika gadis itu akan menjadi ancaman baginya di kemudian hari.


********


"Pah.. yang bener aja, mahal amat sih!" rengek Air pada papanya di ruang tengah, semua keluarga sedang berkumpul usai pulang makan malam bersama di rumah utama.


"ini udah murah banget, Kak" jawab Reza sambil terkekeh, ia merasa gemas dengan raut wajah anak sulungnya itu yang nampak sedang berpikir.


"Tapi semua udah beres, kan?" tanya Ay pada Langit, Pria berkaos hitam itu sedang sibuk menyisir rambut panjang Cahaya hatinya.


"Beres, Kak!" sahutnya tanpa menoleh sedetikpun pada adik pertamanya itu.


"Kurangin dikitlah, Pah" rengeknya lagi.


"Enggak! itu paling murah"


Melisa hanya tersenyum simpul saat melihat dan menyaksikan negoisasi putra dan suaminya itu.


Ia sedang menolak lupa jika lusa adalah hari pernikahan anak kesayangannya, si cengeng yang sembilan belas tahun lalu ia lahirkan dengan begitu banyak drama.


Air Rameza Rahardian Wijaya.


Putra sulung dari Melisa dan Reza Rahadian itu akan melepas masa lajangnya, karna sebuah kesalahpahaman, peristiwa yang tak kan pernah ia lupakan seumur hidupnya.


Bukannya di tentang keluarga, ia malah semakin di desak untuk menikah saat tahu siapa gadis yang sudah menyeretnya dalam drama konyol di sebuah kamar.


Kata balas Budi pun menjadi alasan pernikahan


Air dan Hujan.


"Nanti acaranya sore, jadi pagi sampe siang Lumayan ada waktu buat cek semuanya" ucap Melisa mengingatkan lagi.


"Kamu nanti ajak Yayang dari pagi ya, kak" pinta Melisa pada si tengah, Bumi hanya mengangguk dan tersenyum kemudian kembali menatap layar pipihnya, ia memang sedang bertukar pesan dengan Kahyangan.


"Kamu yakin, maharnya hanya itu, kak?" tanya Melisa lagi, ia ingin pernikahan si sulung berjalan lancar dan istimewa tentunya.


"Iya, itu aja. Hujan gak minta macem-macem katanya terserah aku mau kasih dia apa, dia cuma minta satu hal dari kakak." ucapnya dengan kesal dan sangat frustasi jika mengingat permintaan calon istrinya itu.


"Minta apa?" tanya semuanya berbarengan.


"Dia minta kakak............."


"Hah?" semua tecengang dengan ucapan Air atas permintaan Hujan yang di luar akal.


"Dia minta itu sama kamu?" tanya Reza.


"Iya, Pah.. huaaaaaaaaaaaaa" si sulung Langsung pindah duduk ke sisi mamanya, ia menangis di pangkuan Melissa.


"Gimana, Mah?, kakak takut, hiks" Air menangis sesenggukan namun Melisa malah tersenyum menahan tawa.


"Kakak pasti bisa, mama percaya itu" ucap Melisa meyakinkan putra Kesayangannya.


"Tapi kakak takut, kenapa dia minta itu sih! kan yang Laen bisa, mah" dengus Air semakin kesal dan emosi, berkali-kali ia memohon pada Hujan untuk mengganti maharnya tapi gadis itu tetap keukeh pada pendiriannya.


"Jangan bikin malu papa loh, kak" goda Reza sambil terkekeh.


Cahaya yang bersandar di dada bidang Langit pun ikut tertawa melihat tingkah kakak pertamanya yang sedang frustasi.


Pemuda itu mengusap air matanya dengan kasar kemudian mengacak rambutnya sendiri, tentu sikapnya itu mengundang gelak tawa keluarganya.


"Gak jadi nikah bisa gak sih?" rengeknya kemudian.


"Heh, gak usah macem-macem ya!" ancam Reza.


"Tapi, Pah...."


Reza merentangkan tangannya agar anak Cengengnya itu masuk dalam dekapannya, Tentu Air langsung berhambur memeluk pria yang selalu memberinya rasa aman itu.


"Kakak bisa, kakak harus yakin itu, ini pengalamanmu sekali seumur hidup jadi semua harus lancar, Ok" ucap Reza sambil mengusap kepala Air yang bersandar di dadanya.


"Takut, Pah"


"Masa jagoan papa penakut sih!" kekeh pria tampan itu sambil mencubit gemas pipi Air.


"Pah.. " Penggilnya pelan.


"Apa lagi?" tanya Reza.


"Berhubung kakak udah bangkrut Karna uangnya abis buat modal nikahin si Jan Hujan yang ternyata takut sama geluduk jadi bulan depan uang jajan kakak tambahin ya" pintanya dengan manja.


"Enak aja!" sahut Reza sambil mencebikkan bibirnya.


"Kakak udah gak punya tabungan loh, Pah" ujarnya sambil memasang wajah sedih.


"Ya, bagus!" ejek Reza.


"Ih, papa tuh pelit ya. Kakak ngutang gak boleh, nyicil gak boleh maunya di bayar Cash. Kan uang papa lebih banyak!" dengus Air kesal.


"Mau nyicil berapa kali emangnya?" goda Reza.


"Lima tahun deh" jawabnya dengan menaik turunkan alisnya.


"Buset, lama amat!" timpal semua keluarga sambil tertawa.


Air langsung melepas pelukannya, ia bangun dari duduk dan melangkah pergi menuju kamarnya tak lagi Perduli pada Pada Melisa yang sedari tadi memanggil namanya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Huaaaaaa.....kakak miskin dadakan!!!!


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Kepo sama maharnya kak 🤭🤭


Ampe bikin bangkrut gitu!!!


tapi aku terhura karna dirimu modal sendiri.


gak jadi ngutang kan, kak 😂😂😂


Like komennya yuk.... otewe Halal..