
🌻🌻🌻🌻🌻
"Kita harus pergi, cepat kemasi barangmu dan Langit!" titah Adam saat di rasa keadaan semakin genting.
Diana yang sudah terbiasa tentu sigap saat Adam memerintahkan ia untuk segera berkemas, tapi tidak dengan Langit, bocah tampan itu menangis karna masih ingin melanjutkan ulang tahunnya.
"Papi belum suapin aku kue" rengek Langit sambil menarik jas hitam yang dikenakan Adam, ia menangis saat ayahnya tak juga menghiraukan permintaannya karna sibuk melakukan panggilan telepon.
"Papi...ayo masuk lagi"
"Mami.. mami dimana?"
Langit mengelilingi rumahnya mencari sosok Diana yang sedang mengemas beberapa barangnya dan juga barang milik putra semata wayangnya itu.
"Ulang tahunnya udahan?" tanya Langit polos.
"Iya, sekarang waktunya kita jalan-jalan ya ganteng" Rayu Diana sambil menghapus sisa kebasahan di wajah Putranya.
.
.
Adam yang sudah menunggu di dalam mobil langsung memangku Langit di atas pahanya, ia menciumi wajah tampan itu berkali-kali seakan sudah mendapatkan firasat jika di hari lahir anaknya itulah mereka terakhir bersama.
"Selamat ulang tahun ya sayang, papi sayang Langit. Langit harus kuat, sehat dan pintar, Ok" ucap Adam sebelum ia mendekap erat tubuh darah dagingnya.
Langit putra keduanya yang teramat ia sayangi setelah Mark, putra pertamanya dari istri sah yang dinikahi secara legal.
**
Selama perjalanan ke suatu tempat ternyata mereka sudah lebih dulu dihadang oleh beberapa anak buah rekan bisnis haram Adam yang kini di ciduk polisi, tak terima jika bos besar mereka mendekam di penjara seorang diri maka para anak buahnya mulai melakukan penyerangan bahkan penjebak kan untuk mengundang para polisi datang.
"Keluar Di, bawa Langit menjauh" titah Adam yang mulai khawatir.
"Tapi, tapi kamu gimana?" tanya Diana yang juga Kebingungan.
"Jangan pikirkan aku, cepat pergi!" sentaknya yang kini sangat panik.
Diana hanya mengangguk pasrah, ia meraih tubuh Langit dari atas pangkuan Adam, tapi pria itu menahannya sejenak untuk kembali mencium kening dan kedua pipi Langit.
"Kita bertemu lagi nanti, Langit gak boleh nakal. Papi sayang Langit" pesan Adam pada putranya yang hanya dibalas anggukan oleh Langit.
Diana keluar dari mobil bersama Langit menyusuri jalan yang nampak sepi, ia tak berani menoleh saat mendengar keributan dan suara senjata api saling bersahutan.
Diana mendekap tubuh Langit dengan erat mencoba menenangkan anaknya yang histeris Karna rasa takut.
Suara tembakkan benar-benar terdengar bising di telinga.
"Mami, Langit takut?" ucapnya sambil menangis dengan tubuh gemetar.
"Ada Mami, Langit aman ya, kita jalan lagi, Ok" ucap Diana yang kembali bangun dari persembunyiannya di balik sebuah pohon.
Diana terus berjalan tanpa arah dan ia langsung tersentak kaget saat sadar jika ia salah membawa tas.
Tak ada ponsel dan uang dalam tas yang kini ia pegang, Diana mengutuk kecerobohannya sendiri saat ini karna terlalu panik dan takut, belum lagi saat melihat Adam begitu khawatir.
"Bagaimana ini?, bagaimana jika Langit lapar?" gumam Diana yang mulai kebingungan.
Rasa lelah kini mulai Diana rasakan, berjalan cukup jauh dengan menggendong Langit tentu membuat ia sangat letih belum lagi pikirannya yang tak membawa apapun kecuali tiga setel baju Langit yang ada di dalam tas yang ia jinjing.
"Aku harus apa?" gumamnya lagi.
Belum ada tanda-tanda keramaian yang Diana lihat padahal hari kini sudah hampir petang, jalanan lurus yang hanya ada pohon tinggi di sisi kanan dan kiri.
"Bu, mau kemana?"
Diana terlonjak kaget saat tiba-tiba sepeda motor menghampirinya.
Seorang wanita yang mungkin seumuran dengannya melepas helm.
"Saya,... saya mau ke kota" jawab Diana.
Diana mengangguk pelan, ia masih ragu dan tak begitu percaya dengan orang-orang yang mungkin saja itu musuh dari Adam.
"Mau saya antar, saya juga mau pulang ke kota" tawar si wanita tadi.
"Hem, apa tidak merepotkan?"
"Tidak, ayo naik.. kasihan anaknya tertidur pasti pegal kan" ajaknya sambil tersenyum.
Diana akhirnya menerima ajakan wanita tadi tanpa menaruh curiga sedikitpun apalagi saat ia beralasan sehabis menemui suaminya yang bekerja disebuah pabrik pemotongan kayu dekat jalanan yang tadi ia lewati, Diana yang memang tak tahu tempat yang di maksud akhirnya hanya percaya.
.
.
.
Sampai di ujung jalan motor yang tadi di naikinya kembali di cegat oleh sebuah mobil.
"Ada apa ini?" jerit si wanita yang merasa sangat takut sama seperti Diana.
"Diam!" sentak salah satu pria tinggi besar dengan memakai kacamata hitam.
Semua mata mengarah pada Diana, ia yang tahu sedang menjadi pusat perhatian langsung menyerahkan Langi pada wanita tadi
"Bawa anakku pergi, cepat!" mohon Diana setelah menciumi wajah tampan bangun tidur anaknya.
"Mami mau kemana?" tanya Langit dengan suara parau.
"Mami mau beli minum dulu sebentar ya" ucapnya dengan derai air mata.
Tanpa basa basi Diana langsung dibawa masuk kedalam mobil tanpa Langit, bocah itu di abaikan jerit tangisnya oleh orang-orang yang menangkap Diana setelah Diana memohon untuk tidak menyangkut pautkan anaknya. Dan sepertinya target utama mereka memang hanya Diana seorang.
Kepergian Diana dan orang-orang tadi membuat si wanita itu Kebingungan belum lagi adanya Langit dalam gendongannya yang menangis histeris.
"Ya sudah kita ke kantor polisi saja kalau begitu" gumam si wanita tadi.
Ia mendudukkan Langit di depannya karna takut terjatuh jika anak itu di belakang, karna sepertinya langit tak pernah menaiki motor terlihat dari raut wajahnya yang kebingungan.
Wanita tadi kembali menjalankan sepeda motornya dengan Perlahan sampai ke sebuah kedai pinggir jalan.
"Kamu tunggu disini ya, Bunda mau beli minum" pinta wanita tadi sambil mengusap kepala Langit yang duduk diatas motornya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Buna?
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Bunda woy , 🙄🙄🙄🙄
Salah denger dia 🤭🤭 biasa manggil mami 😂
Like komen yuk ramaikan..