Suami Dadakan

Suami Dadakan
Bab 126


🌻🌻🌻


Esoknya dirumah mewah milik kedua orang tua Reza semua kembali melakukan aktivitas nya masing masing. Hanya Ameera yang mulai merajuk karna meminta Papa untuk memindahkan sekolah Bella agar bisa bersamanya.


"Nanti kamu kekantor ya" ucap Reza kepada Melisa usai sarapan.


"Nanti biar bareng sama mama" kata mama menimpali.


"Emang mama mau kemana?" tanya Melisa.


"Mama mau ke rumah ketua pengajian buat mastiin lusa acara tujuh bulanan kamu" jawab mama.


Melisa hanya mengangguk, paham!


"Tapi jangan terlalu siang ya mah" pinta Reza.


"Iya, banyak yang mau mama kunjungi juga"


"Atau kamu periksa sama mama aja deh" kata mama.


"Enggak!" tolak reza cepat, membuat semuanya menatap aneh padanya.


"Kenapa?" tanya istri dan mamanya berbarengan.


"Hehe, gak apa apa. Nanti sama aku aja"


ucapnya sambil bangun dari duduk.


Kini ia dan Melisa sudah berjalan beriringan menuju garasi dimana semua mobil mewah milik keluarganya berjejer rapih.


"Mas, motor yang kemaren gimana?" tanya Melisa sebelum suaminya masuk kedalam mobil.


"Gak tau, terserah Aby mau di apain"


"Mas Reza udah kasih dia?"


"Hem, enggak sih. cuma yang buat disana aja" jawabnya.


"Oh," sahut Melisa.


"Kenapa? mau beli lagi buat disini?" tanya Reza.


"Enggak, buat apa juga"


"Ya kali buat kita jalan jalan keliling komplek kalo sore" kekeh Reza.


"Ide bagus!" kata Melisa antusias.


"Hadeuh, Siap siap duit gede lagi ini sih, ckck" kekeh Reza, yang langsung mendapat cubitan di perutnya.


Kepergian sang suami di iringi banyak kecupan yang biasa mereka lakukan, tak perduli terkadang ada pak Agus atau ART lainnya disekitar mereka, yang Reza tahu wajah istrinya adalah candu yang membuatnya merasa semangat menyelesaikan semua pekerjaannya di kantor.


****


"Mama gak bisa turun ya, Mel" kata mama saat mobil sudah berhenti di lobby perusahaan Reza.


"Iya, Mah. mama hati-hati ya"


"Kamu juga Sayang"


Melisa langsung turun dari mobil kini kakinya langsung melangkah ke lift khusus para petinggi perusahaan.


Tak ada siapapun disana, hanya ada ia yang berdiri sendiri sebelum memencet tombol.


Pintu lift terbuka sekarang ia sudah berada di dalam kotak besi itu, tak butuh waktu lama


TRIIIIIIIING.


Lift kembali terbuka.


"Sekali lagi ya" kekeh Melisa, telunjuknya kembali memencet tombol.


Ibu hamil itu tertawa sendiri di dalam lift, udah satu bulan ini ia sangat senang dengan suara lift yang berbunyi, Entahlah.


"Pagi, eh siang , Vi" sapa Melisa.


"Siang, Bu" jawabnya sopan langsung bangun dari duduk


"Bapak ada?"


"Ada Bu, baru masuk"


"Ya udah, saya kedalam dulu ya" pamit Melisa.


"Iya, Bu. Silahkan"


CEKLEK


Melisa langsung membuka pintu tanpa mengetuknya lebih dulu, di lihatnya sang suami duduk di kursi kebesarannya dengan mata fokus pada layar laptop yang menyala.


"Sayang" sapanya saat menoleh.


"Aku ganggu ya?"


"Engga, sini" Reza merentangkan tangannya agar Melisa cepat masuk kedalam dekapannya.


"Iya, mau sekarang apa nanti?"


"Tanggung, kita makan siang dulu ya" ucapnya setelah melirik jam di pergelangan tangannya baru menunjukkan pukul sebelas siang.


"Mas Reza udah laper?"


"Belum, kamu mau makan dimana?" tanya Reza setelah keduanya sudah duduk di sofa.


"Apa ajalah"


"Ok, aku suruh Viana pesen dulu ya" Reza bangun dari duduknya dan berjalan menuju meja kerjanya untuk meraih gagang telepon guna menghubungi Viana.


DRRTTT DRRRTTT


ponsel Reza bergetar di atas meja membuat Melisa sedikit menoleh.


"Mas, dokter Rissa telepon"


"Iya, tunggu"


Reza mengakhiri teleponnya dan kembali ke sofa meraih ponselnya yang masih bergetar diatas meja.


"Hallo," jawabnya setelah panggilan terhubung.


"Jadi, gue mau makan siang dulu"


"Ok!" Reza kembali meletakan ponselnya, kini tangan kirinya sudah merangkul bahu sang istri.


"Hayo, mau apa?" tanya Melisa saat bibir suaminya semakin mendekat.


"Gak apa-apa, ih Ge'er banget" goda Reza.


Tok tok tok


keduanya menoleh, tapi Reza langsung beranjak bangun menuju pintu.


"Terimakasih ya, Vi" ucapnya masih didepan pintu.


Reza kembali menghampiri istrinya setelah mengambil dua piring dan mangkuk.


"Ayo makan" ajaknya kemudian.


Melisa mengeluarkan makanan dari bungkusnya lalu menyiapkannya.


Kini keduanya makan dengan lahap tak bersisa.


Usai makan siang, mereka keluar dari ruangan menuju lift yang langsung berhenti di Lobby.


Selama perjalanan tak hentinya Reza menggoda sang istri sampai saat satu pertanyaan lolos begitu saja dari Melisa.


"Apa dulu saat bersama dengan Amanda mas Reza pun begini?"


Reza menoleh, ada keheranan yang terlihat dari manik matanya namun ia bisa tenang namun hatinya sedikit mencelos saat nama Sang mantan kembali ia dengar.


"Sama bagaimana?"


"Caramu memperlakukan ku dengannya!"


Reza terkekeh, lalu mengusap perut buncit istrinya.


"Jelas beda, Ra.. ini buktinya" kata Reza.


"Semanis itukah?"


"Hem, gak sih! Manda Gadis dewasa dan pendiam. Aku hanya mengimbanginya, berbeda denganmu yang lucu dan polos"


"Mas Reza pasti lebih suka dengannya yang dewasa" lirih Melisa


"Karna kami seumuran, Ra, aku mencintaimu tanpa syarat" ucapnya serius.


"Bukankah aku sudah menerima mu dengan segala kurang dan lebih mu saat ku pakai kan cincin itu di jarimu, Ra"


Melisa menganggukkan kepalanya sekali, ia melihat sebuah cincin yang masih melingkar di jari manisnya yang tak pernah ia lepas meski hanya satu detik.


"Jangan bandingkan dirimu dengan yang lain, kamu yang terbaik, Ra" ucapnya lagi setelah mematikan mesin mobilnya.


"Maaf, Mas. apa aku melukai hatimu dengan pertanyaan ku tadi?" kata Melisa menyesal.


"Enggak, sayang. aku cuma gak mau ada bayangan masa lalu di dalam rumah tangga kita, cukup aku dan kamu juga anak anak kita nanti" jawabnya dengan senyum kecil.


"Maaf,"


"Sudahlah, yuk turun si beruang kutub udah nungguin"


❀️❀️❀️❀️❀️❀️❀️❀️


Ya elah bang, demen banget si ledekin orang πŸ™„πŸ™„πŸ™„


Like komennya yuk..


asli lagi mager banget😭😭😭😭


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚