Suami Dadakan

Suami Dadakan
Bahagia


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


BAHAGIA..


Satu kata sederhana yang begitu pantas untuk pasangan Reza dan Melisa terutama di hari tua mereka sekarang. Tak ada yang perlu keduanya khawatirkan karna semua keturunannya sudah hidup dalam kesuksesan entah itu dalam urusan pekerjaan maupun pasangan. Si kembar tiga yang di titipan Tuhan di tahun kedua pernikahan pasangan itupun semua hidup rukun bersama keluarga masing-masing. Mengukir bahagia bersama pasangan, anak dan cucu mereka.


"Kapan kita kembali, aku tak ingin membuat iri semua orang dengan kesempurnaan hidup yang kujalani, Mas" ucap Melisa saat di taman belakang rumah utama.


"Kenapa? aku masih belum puas. Ra"


"Hatiku pernah di patahkan oleh orang tuaku sendiri. Tapi Tuhan mengirimkan ku pasangan hidup yang luar biasa" sambung Melisa lagi sambil melirik kearah sang suami yang juga tersenyum padanya.


"Aku tak sebaik yang kamu katakan, tapi aku pun tak sejahat yang orang lain sampaikan padamu, Sayang" sahut Reza, ia raih tangan istrinya untuk ia ciumi berkali-kali.


Melisa menjatuhkan kepalanya di bahu Reza. mengobrol berdua menghabiskan waktu bersama menceritakan isi dunia adalah hal yang paling menyenangkan bagi mereka yang kini tak banyak melakukan aktivitas kecuali melihat para cicit bermain.


"Gerimis, Ra. Ayo masuk"


"Aku suka hujan pagi hari, Mas" sahutnya yang masih duduk dengan wajah mengadah ke langit.


"Iya, kita nikmati di kamar ya, Ayo bangun" ajak Reza lagi.


Melisa tersenyum kecil, ia sambut tangan suaminya yang terulur. Keduanya pun masuk ke dalam rumah dengan Reza merangkulkan tangan di bahu putih khumairahnya.


Dengan menaiki lift, pasangan baya itupun bergegas menuju lantai dua dimana letak kamar mereka berada.


Ceklek.


"Kenapa?" tanya Reza saat Melisa justru menghentikan langkahnya di ambang pintu.


"Aku ingat saat pertama kali masuk ke kamar ini di antar Ameera. Kamar yang begitu luas dan nyaman, Mas" jawabnya dengan mengedarkan pandangan keseluruh sudut tempat tersebut.


"Haha, aku tak sedang menyindirmu" balas Melisa yang berhambur kedalam pelukan suaminya.


"Aku tak butuh hiasan kamar pengantin. Karna aku bagai seorang pengantin setiap detik" sambungnya lagi.


Keduanya berjalan pelan menuju balkon. Dibukanya pintu kaca itu agar mereka bisa melewatinya bersama.


"Hujannya berhenti, Mas" kata Melisa dengan nada sedikiy kecewa. Ia bukan suka dengan hujan pagi hari, tapi ia sedang merindukan Langit teduhnya. Sudah hampir dua minggu sosok pria kesayangannya tak datang menjenguk dan itu membuat hatinya sedikit terluka karna menahan rasa ingin bertemu.


"Mungkin hanya ingin kita masuk, Ra" sahut Reza, ia cukup peka dengan kegundahan istrinya.


"Ya, mungkin. Rasa nyaman ini akan sempurna jika ada anak-anak ya, Mas"


"Mereka sibuk, nanti malam baru kita bisa berkumpul lagi, bagaimana?" tanya Reza.


"Atur saja olehmu. Yang penting mereka semua ada dirumah" jawab Melisa lagi.


Mata mereka saling bertemu, tatapan penuh cinta itu seakan jelas bisa di rasakan bukan hanya dalam hati Reza maupun Melisa. Tapi pada semua yang tahu kisah cinta sejati keduanya.


"Boleh aku mengatakan satu hal, Mas"


"Apa? akan ku persiapkan diriku lebih dulu agar tak terbang melayang" jawab Reza sambil terkekeh kecil.


"Dengar ya, Mas.... "


.


.


Aku tak tahu caranya bagaimana menjadi wanita yang di kagumi oleh pria lain, karna aku sibuk belajar menjadi wanita yang kamu syukuri, yang bisa membuatmu bangga dan beruntung memiliki ku.