
π»π»π»π»
Apalagi sama yang disana!
Cahaya yang masih tak percaya masih diam berdiri di ujung tangga.
"Gak kangen sama Abang?" goda Langit pada kekasih yang sudah ia akui di depan semua orang.
Cahaya yang sadar malah berlari memeluk Reza, ia menangis dalam dekapan papahnya sambil meraung, memukul dada Reza Sambil menghentakkan kakinya.
"Papa jahat... Papa jahat sama adek" ucap si bungsu di sela Isak tangisnya, semua yang melihat kelakuan Cahaya malah tertawa.
"Papa gak bilang Abang pulang" tambahnya lagi masih kesal, tak sanggup rasanya menerima kejutan luar biasa seperti ini, karna Langit selalu pulang di waktu yang sama setiap dua bulan sekali.
"Abang yang mau pulang, papa sama Mama cuma jemput aja" jawab Reza sambil mengusap air mata putri kesayangannya.
"Tuh kan, jemput aja adek gak di ajak" rengeknya lagi.
"Maaf sayang, Abang yang salah tuh" kekeh pria tiga anak itu.
Cahaya mengurai pelukannya, berjalan menuju pemuda tampan yang sedari datang tak lepas menatapnya sambil tersenyum.
"Sejahat ini Abang ke aku!" keluhnya dalam dekapan sang kekasih.
"Maaf"
"Ah, kakak tuh lebih seneng kalian pacaran ngumpet-ngumpet, kalo udah begini tuh bikin sakit mata" ejek Ay yang langsung mendapat cubitan kecil dari mamanya
"Kaya sendirinya gak pernah peluk peluk aja"
"Gak dong, paling peluk mama cantik doang, gini nih" Air langsung memeluk Melisa sambil sambil tertawa namun tubuhnya langsung di tarik oleh Reza
"Punya papa nih, gak usah peluk peluk!"
Reza menarik tubuh istrinya, membawa wanita itu langsung ke atas menuju kamarnya.
"Kalian makan ya, semuanya ada di atas meja makan" ucap Melisa sambil terus berjalan meninggalkan empat anaknya
"Siap mah, selamat mengurus gajah ngamuk!" Ay terkekeh di balik punggung Adik tengahnya.
Semuanya kini sudah berkumpul di meja makan, menikmati makan malam yang tadi di beli Melisa setelah di hangatkan oleh Langit, pemuda itu semakin cekatan setelah beberapa tahun tinggal sendiri di luar kota, adanya ART tak membuat ia menjadi sosok manja yang bisanya hanya menyuruh, bahkan ia sering meminta asistennya itu berlibur jika ingin benar-benar sendiri saat merindukan keluarganya.
"Kalo begini sih, kakak bisa kalah saing kalo di dapur" kata Ay sambil menyuapkan satu sendok nasi dengan lauk kedalam mulutnya.
"Besok kita masak bareng ya"
Anak-anak kebanggaan keluarga itu lebih senang dirumah meski hanya sekedar bercanda atau atau membantu Melisa di dapur.
Mereka hanya keluar rumah jika ada hal yang penting dengan teman temannya.
"Tapi belanja dulu, kata Buna gak ada apa-apa"
"Ikut!" Jawab ketiganya secara bersamaan.
*****
Ruang makan heboh saat melihat Langit keluar dari kamarnya, stelan jas yang melekat di tubuh tinggi nya membuat pemuda itu semakin gagah dan tampan dari biasanya.
Meski bukan yang pertama namun entah kenapa auranya kali ini berbeda.
"Abang ganteng cuma Adek yang punya!" sorak Cahaya sambil bertepuk tangan kecil membuat yang lain tergelak gemas dengan si bungsu.
Apalagi ketika Langit tersipu malu sambil mengulum senyumnya.
"Tuh kan ganteng, haha" godanya lagi.
"Ganteng doang buat apa?, Abang harus punya modal buat kasih kamu mahar dari hasil kerja kerasnya sendiri"
Reza sedang benar-benar membuat anak angkatnya itu mandiri di atas kakinya sendiri, niat baik Langit sudah ia restui meski dengan surat harus membahagiakan Cahaya dengan caranya.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Babang Reza tetep punya Mak othor pokonya ππ
Like komennya yuk.
gada konflik sampe end..
rasa nano nano nya nanti ya di nupel mereka bertiga